Chatat Gandeng UKM Lakukan Digitalisasi Keuangan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Koperasi Kredit (Kodit) Obor Mas di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kerjasama dengan perusahaan start up Indonesia, Chatat untuk mempersiapkan Usaha Kecil Manengah (UKM) anggota koperasi ini.

Chief Marketing Officer Chatat Indonesia, Bryan Christ Lumakso saat ditemui di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (25/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Seluruh UKM anggota Kopdit Obor Mas di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dilatih untuk melakukan digitalisasi pencatatan keuangan di era dgital saat ini.

“Kami mempersiapkan UKM anggota Kopdit Obor Mas melakukan pencatatan keuangan secara digital,” kata Chief Marketing Officer Chatat Indonesia, Bryan Christ Lumakso saat ditemui Cendana News di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (25/10/2020)

Bryan mengatakan, pada masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini, merupakan saat yang tepat bagi seluruh pelaku UKM untuk melakukan transisi cara melakukan bisnisnya ke dalam dunia digital.

Ia sebutkan, hal ini diharapkan dapat meningkatkan literasi keuangan para pelaku UKM di NTT agar dapat melakukan monitoring dan perencanaan keuangan usaha yang lebih baik agar usahanya tumbuh dan naik kelas.

“Hal ini sejalan dengan program Gerakan UKM Naik Kelas dari Kementerian Koperasi dan UKM. Sebagai penyumbang terbesar PDB Indonesia sebesar 58 persen, UKM juga menyerap 92 persen lapangan kerja dari sektor swasta,” ungkapnya.

Bryan tegaskan, memiliki literasi keuangan sedari awal merupakan langkah yang baik untuk sebuah UKM di Indonesia karena dengan pengelolaan keuangan yang baik maka UKM dapat membuat rencana keungan di kondisi apapun seperti situasi pandemi Corona saat ini.

Chatat kata dia, merupakan aplikasi pencatatan keuangan yang dapat membantu UKM dalam melakukan pencatatan bisnis serta penyusunan laporan keuangan sesuai standar akuntansi di Indonesia.

“Aplikasi Chatat memiliki banyak fitur serta mudah dipergunakan dan merupakan hasil karya anak bangsa. Aplikasi Chatat juga bisa diunduh di Google Play Store,” terangnya.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, 97 persen market di Indonesia sudah bisa diaskes melalu perdagangan digital atau digital market.

Menurut Teten, saat ini sudah banyak market place yang membuka ruang bagi penjualan produk UKM sehingga UMKM di pelosok manapun bisa berjualan di market nasional bahkan global hanya perlu terkoneksi dengan digital market.

“Ada 3 problem produk UKM masuk ke market digital yakni pertama kapasitas produksi sehingga ketika ada permintaan besar mereka tidak bisa menyediakannya sehingga ditinggalkan pembeli,” ungkapnya.

Selain itu kata Teten, permasalahan kedua, kualitas produk karena persaingan produk sangat ketat dimana banyak produk besar pun masuk ke penjualan online dan ketiga, literasi digital.

Untuk itu, sarannya, perlu ada pendampingan yang dilakukan dan digitalisasi terbukti sangat bagus dan memudahkan pelaku UKM dalam menjalanan usahanya.

“Saat ini di setiap daerah sedang dipersiapkan wirausahawan muda yang pendidikannya bagus. Bila produknya bagus dan inovatif maka dibantu manajemennya dan disiapkan pembiayaannya oleh pemerintah,” ungkapnya.

Teten menyebutkan, Indonesia masih memiliki pengusaha sebanyak 3,47 persen sehingga dibutuhkan banyak sekali pengusaha sebab untuk menjadi negara yang maju minimal pengusahanya 4 persen.

Ia memaparkan, di Singapura pengusahanya 9 persen, Malaysia dan Thailand sudah mendekatai 5 persen sementara di Indonesia UKM sedang tumbuh sehingga strateginya usaha kecil dikembangkan menjadi manengah dan manengah menjadi besar.

“Biasanya usaha mikro bukan berniat menjadi pengusaha tetapi karena tidak ada pekerjaan lain mereka berusaha untuk menghidupi keluarganya.Usaha mikro dikonsolidasi dan digabung lalu dibina hingga menjadi besar,” terangnya.

Lihat juga...