Corong Masjid di Kota Semarang Jadi Media Edukasi Pencegahan Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, keberadaan 1.300 masjid yang tersebar di Kota Semarang, dapat dimanfaatkan untuk mendukung sosialisasi dan edukasi pencegahan Covid-19 kepada masyarakat.

“Jumlah masjid di Kota Semarang  mencapai 1.300, itu tersebar di setiap kelurahan, bahkan di masing-masing RW, ada 2-3 masjid atau mushola. Keberadaan masjid ini bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi dan edukasi pencegahan Covid-19 kepada masyarakat,” papar Ketua Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kota Semarang, H. Achmad Fuad, saat dihubungi di Semarang, Jumat (9/10/2020).

Caranya, dengan memanfaatkan corong masjid, sebagai media untuk menyampaikan sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat.

“Selama ini, selain digunakan sebagai tempat ibadah, fasilitas masjid juga dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Misalnya ada orang meninggal, disampaikan lewat corong masjid, agar berita tersebut bisa diketahui oleh masyarakat,” jelasnya.

Kini seiring dengan adanya pandemi, hal serupa juga dapat dilakukan dalam upaya pencegahan Covid-19.

“Penyampaian sosialisasi tersebut, bisa dilakukan dua hari sekali atau sehari sekali. Kita usulkan pada pukul 17.00 WIB, sebab pada jam tersebut, umumnya masyarakat sudah ada di rumah. Mereka yang bekerja juga sudah pulang, jadi harapannya bisa efektif,” urainya lebih lanjut.

Sementara, terkait pelaksanaan ibadah di masjid, Achmad Fuad juga menandaskan sejauh ini, masjid-masjid di Kota Semarang sudah menerapkan protokol kesehatan, dengan menjaga jarak, hingga kewajiban memakai masker bagi jamaah.

“Selain itu, khusus pada hari Jumat, dalam pelaksanaan ibadah Salat Jumat, juga dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan thermogun. Upaya ini dilakukan agar jangan sampai muncul klaster rumah ibadah, sekaligus memberikan kenyamanan bagi jemaah,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr Abdul Hakam memaparkan, berbagai upaya terus dilakukan dalam upaya edukasi kepada masyarakat, terkait penerapan protokol kesehatan.

“Termasuk dengan melibatkan kader Forum Kesehatan Kelurahan dan Forum Kesehatan Kota (FKK) Semarang, sebab jika hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas tidak akan mampu menjangkau secara menyeluruh,” terangnya.

Dijelaskan, dalam edukasi tersebut, pihaknya juga meminta petugas puskesmas, hingga kader FKK Semarang untuk kreatif dan inovatif.

“Termasuk sosialisasi dari corong mushola atau masjid, sudah dilakukan dua hari sekali. Kami sudah minta, kalau bisa setiap hari sekali. Dari corong, bisa terdengar luas, setiap hari di edukasi, harapannya masyarakat bisa semakin paham dan sadar,” tandasnya.

Lebih lanjut, Hakam juga memerintah seluruh petugas puskesmas untuk melakukan sosialisasi dengan turun langsung ke masyarakat setiap pagi.  Selain edukasi, mereka diminta untuk mengamati berapa persen penerapan 3M di masyarakat yakni mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

Disinggung terkait klaster penyebaran covid-19 di Kota Semarang, saat ini masih ada beberapa yang aktif, seperti klaster keluarga dan ponpes. “Sementara untuk klaster takziah dan guru, sudah selesai. Sudah kita tracing semuanya, jadi mudah-mudahan tidak ada penambahan lagi,” terangnya.

Pihaknya pun berpesan agar masyarakat terus disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Termasuk rutin melakukan rapid test, khususnya bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

“Jadi dari beberapa kasus klaster di Kota Semarang, rata-rata mereka yang terpapar memiliki mobilitas tinggi, atau berkaitan dengan orang yang tinggi mobilitasnya. Contohnya, klaster ponpes, yang pertama kali terpapar ini mobilitasnya tinggi. Kemudian kluster rumah tangga di Kecamatan Tembalang, tertular dari suami, yang juga tinggi mobilitasnya,” pungkas Hakam.

Lihat juga...