Dampak Corona Pelaku Wisata di Sikka Bisnis Kuliner

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Merebaknya pandemi Corona membuat sektor pariwisata sepi dan sejak bulan Maret 2020 hampir tidak ada lagi wisatawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Sikka maupun beberapa destinasi wisata lainnya di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Para pelaku wisata pun terpaksa banting setir dengan terjun melakoni pekerjaan lain agar bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup mengingat tidak ada pemasukan sama sekali dari sektor pariwisata.

“Saat wabah Corona, sektor pariwisata anjlok dan tidak ada wisatawan asing yang berkunjung sehingga pendapatan pramuwisata tidak ada sama sekali,” ungkap seorang pramuwisata atau guide, Maria Yasinta Nenti, saat ditemui Cendana News di rumahnya di Centrum, Gang IV, Belakang Bhaktyarsa, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT,  Sabtu (17/10/2020).

Nenti sapaannya mengaku, memilih banting setir dengan menjual aneka kuliner lokal untuk menambah pendapatan. Sekaligus mempromosikan makanan lokal asal Kabupaten Sikka agar semakin banyak yang mengenal.

Dalam seminggu kata dia, selama tiga hari yakni Senin, Rabu dan Sabtu, dirinya membuat aneka makanan lokal dan menjual kepada pembeli dengan mempromosikan melalui media sosial.

“Pendapatan yang diperoleh juga lumayan dan memang masih belum banyak yang menjual makanan lokal di Kota Maumere. Pembuatannya pun melibatkan anggota keluarga yang lain sehingga mereka juga bisa memperoleh pendapatan,” ungkapnya.

Nenti mengaku, bila tidak ada wabah Corona, dirinya sibuk melayani permintaan mengantar wisatawan ke berbagai tempat wisata di Pulau Flores. Pendapatan yang diperoleh juga lumayan.

Selain sebagai pramuwisata, ia pun membuka kursus Bahasa Inggris dan Italia. Namun peminatnya terbatas sekali, dan lebih banyak dirinya mengajar para pramuwisata lainnya.

“Kita harus bekerja apa saja selama pandemi Corona agar bisa memperoleh pendapatan. Situasi ini tidak terduga sama sekali sehingga mau tidak mau kita harus memanfaatkan kemampuan kita untuk mencari uang,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Sonya da Gama, pemilik Art Shop Floressa Etnik by SDG, yang juga menjual aneka kuliner seperti tuir dan lekun, masakan di dalam bambu yang dibakar, ikan kuah asam, ubi talas rebus, serta moke atau arak.

Tuir masakan di dalam bambu yang siap dibakar saat disaksikan di sebuah tempat penjualan kuliner di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (17/10/2020). Foto: Ebed de Rosary

Sonya mengaku, akibat pandemi Corona tidak ada wisatawan lokal dan mancanegera yang berkunjung ke Kabupaten Sikka sehingga art shop miliknya pun terpaksa tutup sementara waktu karena tidak ada pembeli.

“Lumayan sudah mulai banyak yang menikmati masakan kami termasuk teman-teman pelaku wisata yang sering mampir. Kami mempromosikan kuliner lewat media sosial,” ujarnya.

Nenti dan Sonya pun berharap agar pandemi Corona bisa segera berakhir agar wisatawan dapat berkunjung seperti sediakala. Supaya pendapatan yang diperoleh bisa lebih baik dan perekonomian bangkit.

Lihat juga...