Dampak Pandemi, Jumlah Batuan Benih di Sikka Menurun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Pemerintah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk musim tanam 2020/2021 mendapatkan bantuan benih untuk lahan padi sawah seluas 2 ribu hektare dari potensi lahan baku sawah seluas 2.019 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Kristianus Amstrong saat ditemui, Senin (26/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Sementara untuk padi lahan kering, dari potensi lahan seluas 3 ribu hektare Kabupaten Sikka hanya mendapatkan jatah bantuan seluas 700 hektare saja dan ada penurunan signifikan.

“Jumlah bantuan mengalami penurunan yang signifikan akibat dampak Corona sehingga banyak bantuan yang dipangkas,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Kabupaten Sikka, NTT, Kristianus Amstrong saat ditemui Cendana News di kantornya, Senin (26/10/2020).

Amstrong menambahkan, semua bantuan benih padi tersebut berasal dari dana APBN termasuk bantuan benih jagung untuk lahan seluas 9.500 hektare dari total luas lahan jagung di Kabupaten Sikka sebesar 16 ribu hektare.

Ia katakan, bantuan benih dari dana APBD Provinsi NTT juga ada tapi untuk lahan jagung seluas 500 hektare benih jagung komposit dari total lahan jagung komposit seluas 10 ribu hektare yang tersebar di 21 kecamatan.

“Kami juga mendapatkan bantuan bemih Sogum untuk lahan seluas 350 hektare tang berasal dari dana TP Provinsi NTT dengan sumber dana berasal dari APBN,” terangnya.

Selain itu tambah Amstrong, ada juga bantuan benih kedelai untuk lahan seluas 250 hektare, kacang hijau sebesar 200 hektare dan kacang tanah seluas 200 hektare yang berasal dari dana APBD Provinsi NTT.

Ia sebutkan, bantuan benih untuk padi lahan kering banyak mengalami pemotongan karena produktifitasnya memang kecil dibandingkan padi lahan sawah apalagi ada kemarau panjang.

“Kami berharap dengan adanya bantuan meski sedang pandemi Corona dimana anggaran di sektor pertanian juga terkena pemangkasan; para petani bisa memanfaatkannya sebaik mungkin agar mencapai hasil panen yang maksimal,” harapnya.

Petani padi sawah Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Osias Dosi mengatakan, banyak lahan sawah di Magepanda tidak ditanami padi saat musim kemarau akibat dampak kekeringan yang berkepanjangan.

Osias mengaku, dirinya pun yang mempunyai luas lahan sawah sekitar setengah hektare terpaksa hanya menanam padi sekali setahun dari total dua kali tanam setahun bila kebutuhan air di saluran mencukupi.

“Tahun ini kami hanya sekali panen saja sebab air dari bendungan memang tidak ada sehingga saluran air di sawah kering semua.Banyak yang beralih menanam sayuran dan kacang tanah,” ungkapnya.

Osias mengaku senang dengan adanya bantuan benih namun ia meminta agar pemerintah harus memperhatikan kebutuhan air termasuk mengeruk bendungan yang mengalami sedimentasi.

Lihat juga...