Debit Mata Air Wair Puan di Sikka Alami Penurunan

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Mata air Wair Puan andalan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Wair Puan, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga Kota Maumere selain dari sumur-sumur bor yang ada, mengalami penurunan debit.

Menurunnya debit mata air Wair Puan di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita dari 30 liter per detik menjadi hanya tersisa maksimal 15 liter per detik membuat perusahaan ini membangun bendungan di bagian atas mata air untuk menaikan debitnya.

“Pemerintah akan membangun bendungan di sebelah atas mata air agar bisa menampung air hujan agar air jangan mengalir ke laut,” kata Direktur Perumda Wair Puan, Fransiskus Laka, saat ditemui di kantornya, Rabu (14/10/2020).

Fransiskus Laka saat ditemui di kantornya, Rabu (14/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Frans sapaannya, pihaknya pun akan melakukan penanaman pohon dalam jumlah besar di mata air agar bisa menyimpan air mengingat di sekitar mata air tidak terdapat banyak pohon besar.

Air dari bendungan tambah dia, akan dipergunakan juga untuk mengairi areal persawahan saat musim kemarau yang mengakibatkan debut mata air menurun drastis.

“Kondisi debit air yang terus berkurang memang perlu ada upaya konservasi air. Makanya kami coba membangun bendungan agar debit bertambah sehingga kebutuhan air warga di Kota Maumere bisa teratasi,” ungkapnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) yang juga mantan Direktur WALHI NTT, Carolus Winfridus Keupung, sepakat perlu dibangun waduk atau bendungan untuk menangkap air.

Selain itu, kata Win sapaannya, perlu juga membangun sumur resapan dan melakukan penghijauan di daerah sekitar mata air dan seluruh daerah cakupan air untuk menaikan debit air.

“Pada daerah cakupan air perlu dibuat terasering untuk menahan air dan tanah. Juga perlu dibuat jebakan air dan rorak agar debit di mata air Wair Puan bisa terus meningkat,” sarannya.

Win menambahkan, selama ini banyak kawasan hutan di sekitar mata air di beberapa wilayah Kabupaten Sikka tidak terurus dengan baik sehingga saat musim kemarau debit air akan menurun drastis.

Hal senada juga disampaikan Kepala Desa Ladogahar Arkadius Aris. Menurutnya di daerah hulu dahulunya belum banyak pemukiman dan kebun namun kini sudah banyak perumahanan dan warga yang membuka kebun.

“Tentunya kondisi ini juga sangat berpengaruh terhadap menurunnya debit air di mata air Wair Puan. Dahulu orang tua kami yang memiliki sawah di dekat mata air selalu panen padi setahun tiga kali karena air mencukupi tapi sekarang setahun maksimal dua kali panen saja,” ungkapnya.

Lihat juga...