Debit Mata Air Wair Puan di Sikka, Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sebagai sebuah perusahaan yang menyediakan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sikka yang telah berganti nama menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Wair Puan berperan penting.

Dari sebanyak 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka, Perumda Wair Puan melayani warga Sikka di 10 kecamatan. Itu pun tidak semua wilayah di kecamatan tersebut memiliki jaringan air bersih dari perusahaan ini.

“Total debit air yang kami miliki sekitar 376 liter per detik dengan pelanggan sebanyak 19 ribu lebih yang tersebar di 10 kecamatan,” kata Direktur Perumda Wair Puan, Kabupaten Sikka, NTT, Fransiskus Laka saat ditemui Cendana News di kantornya, Sabtu (10/10/2020).

Direktur Perumda Wair Puan, Kabupaten Sikka, NTT, Fransiskus Laka, saat ditemui di kantornya, Sabtu (10/10/2020). Foto: Ebed de Rosary

Frans mengatakan, hingga tahun 2020 capaian pelanggan PDAM Sikka baru 29 persen dari jumlah penduduk kabupaten ini. Saat musim kemarau, debit air ada penurunan 10 sampai 15 persen.

“Ini yang membuat pengaliran air ke pelanggan diatur secara bergilir saat musim kemarau akibat menurunnya debit tersebut,” ungkapnya.

Frans menyebutkan, guna memenuhi kebutuhan air ke pelanggan, Perumda Wair Puan mengandalkan 13 sumur bor yang tersebar di berbagai wilayah dan mata air Wair Puan di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita.

Menurutnya, Wair Puan merupakan satu-satunya mata air andalan yang menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan air minum milik pemerintah ini. Namun lanjutnya, sangat disayangkan debitnya terus menurun.

“Debit awal sekitar 45 liter per detik namun kini hanya di bawah 30 liter per detik. Perusahaan kami hanya mengambil 8 liter per detik saja untuk dialirkan ke Kota Maumere,” jelasnya.

Frans jelaskan, sisa airnya dialirkan ke Kecamatan Nita dengan debit 5 liter per detik dan 10 liter per detik untuk masyarakat mengairi areal persawahan yang ada di sekitar mata air.

Petani Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Egedius Laurensius M. Paji mengatakan, dahulu debit air di mata air ini melimpah sehingga petani bisa menanam padi setahun sampai 3 kali. Namun sekarang hanya sekali bahkan bila air mencukupi bisa 2 kali setahun.

“Dulu orang tua kami setahun bisa tiga kali tanam padi tapi sekarang paling banyak hanya dua kali saja. Debit mata air menurun drastis sehingga air ke sawah tidak maksimal,” tuturnya.

Disaksikan Cendana News, dekat mata air terdapat kali dengan lebar ± 4 meter tampak kering. Tak ada air yang mengalir di kali ini. Dulu dipenuhi air yang dipakai mengairi persawahan di dataran rendah di sebelah timurnya.

Lihat juga...