Desa Wisata Pancasila di Aceh Tenggara Beri Nilai Tambah

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Desa Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara, yang sebelumnya desa ini hanyalah hutan semak belukar tak terawat, banyak pohon-pohon tumbang karena terjadi longsor tebing-tebing sungai, disulap pemuda desa setempat secara swadaya dengan dibantu beberapa pihak, menjadi Desa Wisata Pancasila.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengatakan lokasi Desa Wisata Pancasila berada di kawasan hutan Leuser sebagai paru-paru dunia, itu semakin memberikan nilai tambah.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, setelah temu media beberapa waktu lalu. -Foto: M. Fahrizal/HO-Istimewa

Dirinya berharap segenap elemen masyarakat dengan sepenuh hati turut berpartisipasi membangun desa wisata ini, tidak hanya demi peningkatan kesejahteraan, melainkan juga demi kelestarian lingkungan dan kawasan.

“Kita tentunya tidak menginginkan pengembangan potensi desa menjadi pintu masuk atas lunturnya kearifan lokal, tergerusnya semangat kegotongroyongan, dan terkikisnya wawasan kebangsaan, karakter, dan jati diri ke-Indonesiaan,” jelasnya melalui laman resminya yang diterima Cendana News, Rabu, 28/10/2020).

Bamsoet menjelaskan, seiring upaya pengembangan potensi desa, maka mau tidak mau desa akan menjadi kawasan terbuka bagi masuknya berbagai pengaruh dunia luar. Termasuk di dalamnya globalisasi dan kemajuan teknologi. Untuk itu, nilai-nilai kearifan lokal harus tetap dijaga dan dilindungi, agar tidak tergeser oleh laju roda zaman.

Ia menerangkan, di samping tetap menjalankan peran sebagai ‘lumbung pangan’ nasional, desa juga telah tumbuh menjadi sentra perekonomian baru dalam skala kecil dan menengah (UMKM).

Dengan sedikit sentuhan teknologi dan peningkatan kompetensi serta kapasitas sumber daya manusia, pemerintah juga sedang menggalakkan program pengembangan potensi desa menjadi Dewa (Desa Wisata Agro), Dewi (Desa Wisata Industri), dan Dedi (Desa Digital).

“Melalui potensi sumberdaya yang dimiliki, didukung peluang pengembangan sektor pertanian dan industri kecil dan menengah yang masih terbuka lebar, saya optimis bahwa para petani dan pelaku UMKM milenial di desa bisa memberikan konstribusi besar dalam mendorong bangkitnya perekonomian nasional, khususnya pasca pandemi Covid-19,” terang Bamsoet.

Bamsoet meyakini akan semakin banyak desa yang berkembang menjadi sentra pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Masa depan Indonesia, bukan lagi berada di perkotaan, melainkan berada di pedesaan.

“Slogan ‘bekerja di desa, rezeki kota, bisnisnya mendunia’, akan menjadi magnet yang menarik minat generasi muda untuk kembali ke desa. Membangun daerahnya dan mengoptimalkan berbagai peluang yang ada,” pungkas Bamsoet.

Lihat juga...