Dinkes Semarang Minta Peserta Demo yang Tidak Fit Segera Rapid Test

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta seluruh masyarakat, khususnya peserta demo, untuk memeriksakan diri jika mengalami gejala indikasi covid-19.

Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam di sela kegiatan rapid tes dalam razia masker, di Jalan Pahlawan Semarang, Selasa (20/10/2020). Foto Arixc Ardana

“Menindaklanjuti adanya klaster demo covid-19, kami meminta seluruh peserta demo yang mengalami gejala awal atau tidak fit, untuk memeriksakan diri. Termasuk bisa melakukan rapid test di 37 puskesmas di Kota Semarang, secara gratis,” papar Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam di sela kegiatan rapid tes dalam razia masker, di jalan Pahlawan Semarang, Selasa (20/10/2020).

Dipaparkan, rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari setelah terinfeksi.

“Sejauh ini, dari klaster demo di Kota Semarang ada 11 orang yang dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, 7 orang di antaranya sekarang sudah dinyatakan sembuh. Sementara, 4 orang lainnya masih menjalani perawatan di rumah isolasi rumdin Walikota Semarang,” lanjutnya.

Di satu sisi, pihaknya juga mengapresiasi langkah cepat perusahaan, yang menggelar rapid test bagi pekerja mereka setelah mengikuti demo. Dipaparkan, langkah cepat tersebut berhasil mencegah penyebaran covid-19 menjadi lebih luas.

“Jadi dari rapid test awal, yang dilakukan oleh dua perusahaan di Kota Semarang, ditemukan sejumlah buruh yang reaktif. Setelah itu, kita lakukan swab dan hasilnya 11 orang positif covid-19,” jelasnya.

Hakam juga memastikan pihaknya juga terus menggencarkan swab tes, dalam upaya menekan angka covid-19 di Kota Semarang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, per 10 Oktober 2020 jumlah spesimen hasil swab, yang sudah diperiksa mencapai 58.423 sampel. Dari jumlah itu, 83 persen atau 48.739 spesimen dinyatakan negatif, dan 17 persen atau 9.684 spesimen dinyatakan positif.

“Jumlah rata-rata spesimen yang diperiksa sebanyak 2.175 sampel per minggu. Selain melakukan penelusuran pada kontak erat, juga untuk kelompok rentan antara lain lansia di atas 60 tahun, masyarakat yang memiliki riwayat penyakit lebih dari dua penyakit bawaan atau komorbid, ibu hamil, serta anak-anak,” tambahnya.

Tidak hanya itu, pemeriksaan swab tersebut juga tidak terputus di lini satu atau pasien, namun kontak erat di lini dua dan tiga.

Dengan melakukan penelusuran hingga lini tiga, tambah hakam, pihaknya berharap bisa mencegah penyebaran klaster baru. “Jika tidak dicegah dari tiga lini ini, klaster baru bisa berkembang hingga hingga empat kali lipat dari temuan awal.Kita harapkan swab tiga lini ini, orang yang terpapar Covid-19 bisa segera melakukan karantina atau perawatan sehingga tidak menulari orang lain,” terangnya.

Sementara, Plt Wali Kota Semarang Tavip Supriyanto menjelaskan, saat ini Kota Semarang masuk kategori zona orange, dan didorong untuk bisa segera zona kuning, hingga akhirnya bisa zona hijau pada Desember 2020.

“Agar mencapai target tersebut, kita dorong terus untuk melakukan upaya preventif dan promotif terkait 3M plus yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan memperkuat imunitas, agar semakin digencarkan,” paparnya.

Tidak hanya itu, kegiatan razia masker dan swab juga digencarkan, untuk menekan penyebaran covid-19. “Kita harapkan upaya ini, bisa menjadikan Kota Semarang ke zona kuning, kemudian ke zona hijau penyebaran covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...