DJP Bermitra dengan 36 Perusahaan Global Pemungut Pajak Digital

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan, kembali mengumumkan penambahan delapan perusahaan global sebagai pemungut pajak pertambahan nilai (PPN) atas barang dan jasa digital yang dijual kepada pelanggan di Indonesia.

Kedelapan perusahaan tersebut yakni, Alibaba Cloud (Singapore) Pte Ltd, GitHub, Inc., Microsoft Corporation, Microsoft Regional Sales Pte. Ltd., UCWeb Singapore Pte. Ltd., To The New Pte. Ltd., Coda Payments Pte. Ltd., Nexmo Inc.

“Dengan penunjukan ini maka sejak 1 November 2020 para pelaku usaha tersebut akan mulai memungut PPN atas produk dan layanan digital yang mereka jual kepada konsumen di Indonesia,” ujar Dirjen Pajak, Suryo Utomo, dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Jumat (9/10/2020).

Menurut Suryo, jumlah PPN yang harus dibayar pelanggan adalah 10 persen dari harga sebelum pajak. PPN yang dibayar tersebut, harus dicantumkan pada kuitansi atau invoice yang diterbitkan penjual sebagai bukti pungut PPN.

“Dengan adanya penambahan delapan perusahaan tersebut, hingga hari ini, jumlah pemungut PPN produk digital luar negeri sebanyak 36 entitas,” tandas Suryo.

Suryo menyampaikan apresiasi atas kerja sama dan langkah proaktif dari sejumlah entitas yang telah ditunjuk sebagai pemungut PPN. Ia pun berharap seluruh perusahaan yang telah memenuhi kriteria, termasuk penjualan Rp600 juta setahun atau Rp50 juta per bulan, dapat mengambil inisiatif dan menginformasikan kepada otoritas pajak.

“Supaya proses persiapan penunjukan termasuk sosialisasi secara one-on-one dapat segera dilaksanakan,” pungkas Suryo.

Sementara itu, Direktur Perpajakan Internasional, John Hutagaol, menilai, optimalisasi perpajakan dari sektor teknologi, informasi, dan komunikasi dapat menjadi penopang penerimaan pajak tahun ini. Pasalnaya, sektor digital menjadi salah satu sektor yang hampir tak terdampak pandemi Covid-19.

“Beberapa dari mereka bahkan berhasil mencatatkan kenaikan bisnis. Maka dari itu, pemerintah saat ini gencar memungut pemasukan dari sektor itu,” tukas John.

Pemerintah sendiri menargetkan penerimaan pajak hingga akhir tahun ini mencapai Rp 1.198,8 triliun. Hingga akhir Agustus 2020, penerimaan pajak tercatat sebesar Rp 676,9 triliun. Angka tersebut tumbuh negatif 15,6% dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu senilai Rp 802,5 triliun.

“Penerimaan pajak sebenarnya masih cukup baik pada awal tahun. Namun, memasuki kuartal II, pandemi mulai memberi dampak terhadap penerimaan pajak. Penerimaan pada April hingga Mei pun turun tajam tajam, termasuk Agustus dan September kuartal III,” pungkas John.

Lihat juga...