Efektif Gunakan Lahan, Optimalkan Sistem Pertanian Berkelanjutan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Atin, salah seorang petani di Lampung Selatan (Lamsel), panen melon hingga 2 ton.

Sepekan sebelumnya, lahan seluas kurang lebih tiga hektare masih terlihat menghijau dengan dipenuhi tanaman melon. Sebanyak lebih dari dua belas ribu tanaman melon telah dirombak secara bertahap.  Usai dirombak terlihat tanaman cabai keriting jenis merah mulai berbunga, sebagian berbuah.

Sistem tani berkelanjutan sebut Atin, telah diterapkan olehnya sejak belasan tahun silam. Memanfaatkan lahan dengan sistem kontrak atau sewa, membuat ia harus berkejaran dengan waktu.

Biaya operasional sewa, biaya gaji karyawan, pupuk, mulsa, ajir harus seimbang dengan hasil panen. Sebagai solusi antirugi ia melakukan penanaman komoditas pertanian berselang.

Pada awal tahun 2020 ia melakukan penanaman tahap awal dengan melon. Selanjutnya komoditas diganti dengan tanaman tomat, cabai keriting. Memasuki pertengahan tahun hingga awal Oktober tahun ini, ia kembali menanam melon jenis alina. Panen secara bertahap dilakukan pada buah melon, kini ia menunggu tanaman cabai keriting sebanyak 5.000 tanaman berbuah.

“Saya harus memaksimalkan lahan serta fasilitas mulsa, ajir atau tonggak bambu agar bisa tetap digunakan untuk menanam cabai sehingga hasil dari penjualan komoditas pertanian yang dihasilkan tetap memberi profit. Jangan ada jeda agar tidak hilang satu fase budi daya,” terang Atin, saat ditemui Cendana News di kebun yang dikelolanya, Minggu (11/10/2020).

Memaksimalkan sarana produksi sebut Atin, bertujuan untuk menghemat pengeluaran. Pasalnya dengan tetap memakai mulsa, ajir yang sama, ia tak perlu melakukan pengolahan lahan. Proses penyiapan media tanam dilakukan sekali saat masa awal sehingga tidak mengeluarkan biaya ekstra pengolahan lahan. Hasilnya penghematan bisa dilakukan.

Atin menyebut, menghasilkan sekitar lebih dari 10 ton melon yang dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram. Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu, usai panen melon semua tanaman dibongkar dan dibersihkan. Setiap lubang di sisi tanaman melon telah ditanami bibit cabai keriting saat melon berbuah. Usia tanaman cabai mencapai 75 hari membuat sebagian berbunga.

“Sebagian tanaman usia dua bulan mulai berbunga dan bahkan berbuah, tahap selanjutnya pemberian pupuk,” terang Atin.

Pengolahan lahan, pemberian asupan pupuk yang baik membuat tanaman berikutnya akan dapat unsur nutrisi yang seimbang. Sistem pemberian pupuk tanaman dengan cara kocor menjadi solusi untuk penghematan tenaga. Selain itu sistem pengairan dengan irigasi tetes (drip irigation system) memudahkan air terdistribusi sempurna.

Atin menyebut, ia bisa menghemat pembelian mulsa. Sebab mulsa bisa dimanfaatkan untuk beberapa kali fase penanaman. Hampir setahun mulsa dan ajir bambu sebagai tegakan bahkan bisa dipakai berulang. Sistem tani berkelanjutan sebutnya, dipelajari secara otodidak sebagian dengan cara belajar dari ahli pertanian.

“Untung dan rugi dalam bisnis pertanian sudah hal biasa bagi saya sehingga memaksimalkan sarana budi daya jadi hal wajib,” cetusnya.

Novita sang anak mendukung usaha sang ayah. Sebagai putri dari petani modern ia menyebut, membantu sistem distribusi. Pemaksimalan media sosial dan internet jadi solusi untuk mencari pangsa pasar. Permintaan melon banyak dikirim ke wilayah Bogor dan Banten. Sementara hasil pertanian cabai keriting akan dikirim ke Sumatera Barat.

Novita, putri pertama Atin pemilik lahan kebun melon yang langsung digunakan untuk budi daya lahan cabai merah, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

“Teknologi dan internet bisa dipakai untuk belajar mengaplikasikan dalam dunia pertanian, salah satunya tani berkelanjutan,” cetusnya.

Memaksimalkan lahan dengan sarana budi daya yang terbatas tetap mendapatkan hasil maksimal. Sebab meski kemarau tanpa fasilitas sumur bor di lahan tanah bengkok atau aset desa, sang ayah tetap bisa produktif. Sesekali air digunakan dari saluran irigasi dan sungai kecil dengan memanfaatkan mesin pompa.

Danang, pekerja di kebun yang dikelola Atin menyebut, pemanfaatan sarana yang ada menjadi alasan tanaman cabai ditanam saat melon berbunga.

Saat melon siap panen usia 72 hari, sebagian tanaman cabai belum berbunga. Pekerja akan membersihkan tanaman melon yang selanjutnya berganti dengan tanaman cabai. Sistem itu tak merusak mulsa dan ajir.

Danang, pekerja di lahan pertanian cabai yang ada di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan pada lahan bekas tanaman melon, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

“Ajir pada tanaman melon tetap digunakan untuk tegakan tanaman cabai keriting agar tidak ambruk saat berbuah,” cetusnya.

Sebagai pekerja, Danang mengaku belajar dari sang bos, Atin, soal cara bertani yang baik. Ia bahkan bisa menerapkan cara budi daya pada satu hamparan dengan berbagai tanaman yang bisa dipanen bertahap.

Meski kemarau, saat lahan sawah tidak produktif ia menyebut, lahan tersebut tetap potensial menghasilkan komoditas pertanian melon, cabai, dan tomat.

Lihat juga...