Embung Jadi Sumber Air di Kawasan Hutan Produksi Way Pisang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perbukitan tandus dan kering menjadi pemandangan jamak di register 1 Way Pisang, Lampung Selatan. Kawasan yang masuk dalam wilayah kelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu, selama ini menjadi wilayah hutan produksi yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Namun, pasokan air terbatas membuat sebagian tanaman kering dan mati.

Kawasan yang terlihat masih menghijau berada di area seluas lima hektare lebih, tepatnya di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.

Agung Sutejo, koordinator pekerja di pusat persemaian permanen BPDASHL Way Seputih, Way Sekampung, -Rabu (14/10/2020). -Foto: Henk Widi

Agung Sutejo, karyawan persemaian permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL), menyebut embung menjadi tumpuan dan benteng terakhir bagi pasokan air saat kemarau melanda.

Ia mengatakan, puluhan ribu bibit pohon disiram memakai irigasi embun buatan. Air dari embung ditambah pasokan dari sejumlah sumur bor, terkumpul pada bak penampung (reservoir). Selanjutnya, alat penyemprot atau spryer mendistribusikan air sebanyak dua kali dalam sehari. Pasokan dari sungai Siring Dalem yang menurun, debitnya tak lagi dimanfaatkan.

“Selama kemarau, sejumlah kawasan lahan yang telah dihutankan kembali dengan berbagai jenis tanaman dengan konsep arboretrum, mengandalkan penyiraman dari embung memakai mesin pompa. Sementara, bibit tanaman disiram memakai sumur bor dari stok di reservoir,” terang Agung Sutejo, saat ditemui Cendana News di persemaian permanen Karangsari, Rabu (14/10/2020).

Sebagai kawasan milik KLHK yang dihijaukan kembali, pengelolaan air untuk menciptakan sumber air baru dilakukan lebih dari enam tahun silam. Keberadaan embung yang dikombinasikan dengan hutan buatan menciptakan sumber mata air baru. Kini, embung tak hanya sebagai penampung air hujan, melainkan sebagai tampungan mata air.

Siklus air dari embung untuk penyiraman bibit pohon dan pohon yang ditanam di hutan buatan akan kembali menjadi mata air. Puluhan jenis pohon yang ditanam di sekitar embung, sebut Agung Sutejo, telah tumbuh besar. Jenis pulai, medang, damar, akasia dan tanaman penyerap air, dengan perakaran kuat telah mendukung aliran air pada embung.

“Meski saat ini embung nyaris kering, namun cadangan pada sumur bor bisa digunakan hingga musim penghujan tiba,” cetusnya.

Pembuatan embung, sebut Agung Sutejo, sangat bermanfaat kala kemarau. Penyiapan fasilitas embung mampu menampung air, meski kemarau panjang lebih dari tiga bulan. Upaya penghijauan kawasan register 1 Way Pisang, menurutnya telah digencarkan. Sebab, sebagian masyarakat memilih menanam komoditas pertanian. Tumpangsari dengan tanaman kayu dilakukan untuk upaya rehabilitasi lahan.

Pemanfaatan air selain dari embung, dilakukan oleh warga dengan memakai pasokan sungai Way Sekampung.

Agus, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, mengaku mempertahankan sejumlah tanaman pohon keras, seperti akasia, keresede, waru gunung, ketapang, mindi, dipertahankan di dekat bantaran sungai. Saat kemarau, tanpa disirami sejumlah tanaman tetap tumbuh subur, meski tanaman lain meranggas.

“Wilayah di dekat bantaran sungai tetap ditanami pohon untuk mencegah longsor dan penahan tanggul, agar tidak jebol kala penghujan,” cetus Agus.

Keberadaan sejumlah pohon di tepi sungai Way Sekampung, tambah Agus, ikut menjaga kelestarian lingkungan. Sejumlah satwa jenis burung air menggunakan sejumlah pohon pada sepanjang aliran sungai sebagai tempat tinggal.

“Keberadaan pohon yang dipertahankan sebagai tanggul alami, sekaligus sumber pakan bagi ternak,” pungkasnya.

Lihat juga...