Empat Profesor Riset LIPI Dikukuhkan

Ketua Majelis Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Subianto, menyerahkan Widyamala kepada salah satu profesor riset yang dikukuhkan di Jakarta – Foto Dok Ant

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengukuhkan empat penelitinya sebagai Profesor Riset. Para profesor tersebut diharapkan mampu meningkatkan dinamika penelitian pada kelompok riset masing-masing.

Empat guru besar itu merupakan Profesor Riset LIPI ke-147, 148, 149, dan 150, dan Profesor Riset ke 563, 564, 565, dan 566, dari 8.709 peneliti di Indonesia. Para peneliti yang resmi menyandang gelar Profesor Riset tersebut adalah, Harry Arjadi, dari Pusat Penelitian Teknologi Pengujian LIPI dengan orasi ilmiah berjudul “Teknologi Pengujian Penentu Efek Positif Maupun Negatif Medan Elektromagnetik Hasil Produk Teknologi serta Industri Berbasis Elektronika dan Kelistrikan”.

Hari Sutrisno, dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan orasi ilmiah berjudul “Peran Sistematika Ngengat Untuk Mendukung Keefektifannya Dalam Pengendalian Hama”, kemudian, Wahyu Dwianto dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI dengan orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Teknologi Densifikasi dan Pelengkungan Kayu untuk Meningkatkan Pemanfaatan Jenis-jenis Kayu Kurang Dikenal dan Cepat Tumbuh”.

Syahruddin dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dengan orasi ilmiah berjudul “Perbibitan Sapi Potong Lokal Indonesia Berbasis Bioteknologi Reproduksi Mendorong Percepatan Swasembada Daging Nasional”. “Itu semua terkait riset dasar yang telah diteliti sejak lama, kemudian membuahkan inovasi yang memiliki fundamental kebaruan dan berpotensi meningkatkan competitiveness di pasar global,” kata Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, di Jakarta, Rabu (7/10/2020).

Handoko menginginkan, para professor riset yang telah dikukuhkan dapat meningkatkan dinamika riset pada kelompok riset masing-masing, tanpa mengandalkan biaya riset dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dapat menjalankan riset melalui kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal. Kolaborasi sangat diperlukan, untuk menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Kita tidak mungkin melakukan penelitian yang baik dan mampu berkompetisi bila tidak berkolaborasi,” ujar Handoko.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang PS Brodjonegoro, yang berkesempatan hadir secara virtual mengatakan, keberadaan lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan yang mencakup riset dasar dan terapan cukup penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. “Untuk mencapainya, sumber daya manusia yang paling dibutuhkan adalah peneliti, dan saat ini Indonesia masih kekurangan peneliti,” sebut Bambang.

Menristek Bambang menginginkan, tidak ada dikotomi antara peneliti perguruan tinggi dan peneliti lembaga penelitian. “Saya yakin keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu bagaimana peneliti memberikan solusi bagi bangsa,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...