Ganti Komoditas Pertanian, Solusi Petani Lamsel Peroleh Hasil Maksimal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Perombakan atau penggantian komoditas pertanian jadi solusi petani mendapatkan hasil maksimal.

Tren petani membudidayakan tanaman tidak seragam masih jadi pilihan, salah satunya dilakukan Samijo. Petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) itu semula menanam kelapa sawit. Semenjak harga anjlok, ia beralih budi daya tanaman pisang, jagung.

Budi daya tanaman kelapa sawit sebut Samijo, dilakukan petani setempat sejak awal tahun 2020. Setelah lebih dari sepuluh tahun terakhir ia menyebut, ratusan tanaman kelapa sawit miliknya tidak produktif.

Penggantian komoditas pertanian dilakukan olehnya imbas harga tandan buah segar (TBS) sawit semakin anjlok. Pilihan mengganti tanaman pisang dan jagung dipilih agar panen lebih cepat.

Selain tanaman kelapa sawit di lahan perbukitan kawasan register 1 Way Pisang, petani semula menanam karet. Anjloknya harga komoditas getah karet atau lateks membuat petani memilih merombak tanaman tersebut. Semula harga lateks mencapai Rp15.000 per kilogram anjlok jadi Rp7.000. TBS sawit semula dijual Rp3.000 anjlok jadi Rp1.000 per kilogram.

“Masa tunggu sejak panen yang lama hingga harga anjlok, sementara kebutuhan petani meningkat. Berimbas penggantian komoditas mutlak dilakukan untuk mendapatkan hasil maksimal,” terang Samijo saat ditemui Cendana News, Senin (26/10/2020).

Ia memilih mengganti komoditas kelapa sawit dengan pisang dan jagung. Menanam pisang dengan puluhan varietas jenis janten, kepok, raja nangka, muli dan jenis lain dilakukan dengan satu kali penyiapan bibit. Ia hanya butuh modal sekitar Rp2 juta untuk lahan seluas satu hektare. Lahan penanaman pisang bisa ditumpangsarikan dengan jagung.

Delapan bulan menanam pisang tahap pertama sebagian bisa dipanen. Bibit dari rumpun yang telah berbuah menjadi solusi penghematan. Ia bisa menambah jumlah rumpun tanaman pisang. Pisang yang telah berbuah bisa dipanen olehnya setiap dua pekan. Selain dari pisang setiap empat bulan ia bisa memanen jagung varietas hibrida.

“Keputusan mengganti tanaman keras jenis karet dan kelapa sawit sebetulnya rugi, namun panen jagung dan pisang berpotensi lebih untung,” bebernya.

Nurhadi, petani di desa yang sama menyebut, lebih cepat mendapatkan hasil kala menanam jagung. Sebab sebelumnya ia harus menanam kelapa sawit yang mulai tidak produktif. Satu pohon berpotensi menghasilkan sekitar 30 kilogram TBS menurun menjadi 10 kilogram. Proses pemanenan hingga distribusi yang lama membuat biaya operasional meningkat.

Nurhadi, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan melakukan pengolahan lahan dengan bajak tenaga sapi pada lahan yang sebelumnya ditanami karet, Senin (26/10/2020) – Foto: Henk Widi

Mengganti komoditas tanaman jagung sebutnya, lebih menguntungkan. Sebab usia empat bulan ia bisa melakukan pemanenan. Pada lahan seluas satu hektare ia bisa mendapatkan sekitar 400 karung atau hasil sebanyak 3,5 ton. Hasil tersebut bisa lebih meningkat dengan penggunaan pupuk tepat dan lahan yang diolah dengan baik.

“Saya melakukan pengolahan lahan dengan memakai bajak tenaga sapi, tanah jadi lebih gembur,” paparnya.

Merombak tanaman dengan komoditas berbeda sebutnya, sekaligus karena faktor lahan yang bukan hak milik. Ribuan petani di Kecamatan Penengahan, Ketapang hingga Sragi penggarap kawasan register 1 Way Pisang, hanya berhak menggarap.

Ia memilih menanam komoditas pertanian yang cepat panen jika sewaktu-waktu tanah milik Kementerian Kehutanan itu dicabut.

Sugandi, petani lainnya memilih mengembangkan beragam komoditas. Memasuki masa tanam gadu dengan jumlah air terbatas ia memilih menanam kacang hijau. Komoditas tersebut bisa dipanen saat usia 60 hingga 80 hari.

Sugandi, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan melakukan proses penanaman kacang hijau di lahan perbukitan yang sebelumnya ditanami kelapa sawit, Senin (26/10/2020) – Foto: Henk Widi

Jenis tanaman palawija tersebut masih tetap menghasilkan kala kemarau. Saat penghujan tiba ia akan menanam jagung.

“Sebelumnya hanya tanaman kelapa selanjutnya dirombak karena produksi terus menurun,” cetusnya.

Tanaman kelapa yang masih dipertahankan hanya berada di area pembatas lahan. Ia memilih memanfaatkan kelapa untuk dijual dalam kondisi muda atau dugan.

Hasil dari penjualan kelapa muda lebih menguntungkan dibandingkan menunggu saat kelapa tua. Sebagian lahan dimanfaatkan untuk komoditas kacang hijau yang cocok ditanam kala kemarau.

Lihat juga...