Guru Dituntut Kreatif di Tengah Pandemi Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Pandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek, termasuk pendidikan. Meski demikian, guru tetap dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dengan cara-cara yang inovatif dan kreatif.

“Dampak dari pandemi,  juga merubah tatanan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Jika sebelumnya kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara tatap muka, sekarang harus belajar dari rumah (BDR) atau online. Perubahan ini menjadi tantangan bagi guru dan siswa. Lantaran pembelajaran daring, tidak pernah dilakukan sebelumnya,” papar Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng, Dr Muhdi SH MHum, di sela penandatanganan kerja sama Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) dan sekolah di kampus UPGRIS Semarang, Kamis (8/10/2020).

Guru pun dituntut untuk lebih kreatif dan melek teknologi, siswa juga harus lebih berkonsentrasi mengikuti sekolah daring, dan orang tua siswa juga turut mendampingi BDR.

“Guru pun mengalami banyak tekanan yang tak terduga. Dari persoalan teknis pembelajaran hingga tuntutan untuk terus menyiapkan materi bermutu untuk siswa. Meski demikian, saya tekankan, bahwa kualitas guru jangan sampai turun karena pandemi covid-19,” terangnya.

Tantangan lain yang dihadapi guru yakni, kemampuan dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga bisa diterima siswa. Termasuk, menjaga konsentrasi anak didik walaupun tidak bertemu secara langsung.

“Ini tidak mudah, bagaimana agar siswa bisa tetap konsentrasi dalam pembelajaran daring. Untuk itu, guru dituntut harus kreatif dan inovatif. Kompetensi dalam diri guru harus dibangun, meliputi kemampuan pedagogik, keterampilan, profesional dan kepribadian,” tandas pria, yang juga menjabat sebagai Rektor UPGRIS tersebut.

Di satu sisi, dirinya juga menyadari untuk membangun kompetensi tersebut tidak mudah. Perlu dukungan dan sinergi antara sekolah, organisasi guru, dan pihak lembaga pendidikan seperti universitas. Hal tersebut bisa dilakukan dalam program pelatihan, publikasi ilmiah, hingga pengembangan penguasaan guru atas teknologi.

“Kita harus menyiapkan antisipasi efek pandemi di sekolah, baik terhadap siswa maupun guru. Perlu juga kita teliti sistem kita untuk pengembangan ke depan, untuk menghadapi perubahan zaman dan sistem pendidikan daring,” tambah Muhdi.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah SMAN 15 Semarang, Drs. Agung Purwoko, M.Pd. Menurutnya, pandemi tidak boleh menurunkan kualitas guru. Mereka dituntut untuk tetap kompeten dan bersemangat dalam memberikan pembelajaran bagi siswa.

Meskipun proses pembelajaran daring, tidak seefektif proses pembelajaran langsung, seorang guru harus dapat mencari cara dan menyiasati bagaimana agar kualitas belajar tetap baik.

“Untuk mencapai tersebut, memang diperlukan upaya pengembangan profesi. Kita menyadari guru harus unggul dan kapabel. Kita harus terus meningkatkan keunggulan guru, meskipun di tengah pandemi,” terangnya.

Pihaknya pun berharap dengan adanya kerjasama antara APKS PGRI Jateng dan sekolah, dapat bersinergi untuk menjaga kompetensi profesional para guru. Selain SMAN 15 Semarang, lima sekolah lain di Kota Semarang juga ikut menjalin kerja sama yakni SMAN 4, SMAN 9, SMAN 8, SMAN 11 dan SMAN 14.

Lihat juga...