Hadapi Pandemi, Lhokseumawe Mulai Budi Daya Komoditas Pangan

Suasana lokasi pengembangan food estate atau lumbung pangan baru di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah pada Kamis, (8/10/2020) – Foto Ant

BANDA ACEH – Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Pangan (DKPPP) Kota Lhokseumawe, Aceh, mengembangkan budi daya tanaman pangan. Hal itu untuk menciptakan ketahanan pangan di tengan pandemi COVID-19.

“Kita akan lakukan budi daya kepada petani yang memiliki lahan kosong untuk ditanami tanaman jagung dengan luas 50 hektare, ubi kayu 25 hektare, pisang 10 hektare, pepaya 5 hektare dan sayur mayur 15 hektare,” kata Kepala DKPPP Kota Lhokseumawe, Mohammad Rizal, Senin (12/10/2020).

Ia menjelaskan, hal itu merupakan strategi Pemko Lhokseumawe, dalam upaya ketahanan pangan, mengahadapi COVID-19. Komoditas pangan pokok bagi masyarakat diharapkan tetap tersedia, di tengah ancaman ketahanan pangan global.

COVID-19 disebutnya, tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, namun juga sosial ekonomi masyarakat. Food and Agriculture Organization (FAO) juga telah memperingatkan potensi krisis pangan global. “Di tengah COVID-19 seperti saat ini, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan pencegahan penyebaran COVID-19, tetapi juga upaya pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak,” katanya.

Pemko Lhokseumawe mendapat bantuan alokasi dana Rp15 miliar dari Pemerintah Aceh, untuk penanganan dan antisipasi dampak dari pandemi COVID-19. “Alhamdulillah, dari total Rp15 miliar bantuan untuk Pemkot Lhokseumawe, DKPPP Lhokseumawe menerima alokasi dana sebesar Rp5 miliar untuk ketahanan pangan dalam upaya pemulihan ekonomi di tengah COVID-19,” ujarnya.

Dari alokasi dana bantuan tersebut, akan dilakukan program pengembangan budaya tanaman pangan, yang bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan di Lhokseumawe. Atas bantuan itu diharapkan para petani dapat mengolah lahannya, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui program ketahanan pangan.

“Saat ini pemulihan ekonomi sangat dibutuhkan sehingga masyarakat juga dituntut lebih produktif memanfaatkan kesempatan, salah satunya memanfaatkan bantuan yang ada untuk meningkatkan ketahanan pangan di masa-masa sulit,” katanya.

Selain sektor pertanian, bantuan tersebut juga diperuntukkan kepada sektor perikanan. Masyarakat yang memiliki kolam nantinya akan diberikan bantuan bibit ikan dan pakan ikan untuk pengembangan. “Ada 300 paket dengan nominal bantuan sebesar dua juta rupiah per penerima bantuan. Selain itu juga ada bantuan alat penangkap ikan bagi para nelayan,” katanya.

Para penerimanya tersebar di empat kecamatan di wilayah Lhoksumawe, dan sedang dalam proses verifikasi. Bantuan itu akan diberikan dalam bentuk barang ataupun produk, yang bersumber dari alokasi APBK-Perubahan Lhokseumawe 2020. (Ant)

Lihat juga...