Harga Anjlok, Bisnis Komoditas Pisang di Lamsel Lesu

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah pelaku usaha jual beli komoditas pisang di Lampung Selatan mengalami kelesuan imbas harga yang terus merosot.

Samsul Maarif, petani sekaligus pengepul hasil pertanian di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, menyebut sementara berhenti menekuni usaha jual beli pisang. Lesunya usaha sektor pertanian itu imbas sejumlah pelapak mengurangi jumlah komoditas yang dijual.

Pengurangan serapan dari sejumlah pedagang eceran pada pasar tradisional menjadi faktor anjloknya komoditas pertanian andalan Lamsel tersebut. Samsul Maarif bilang harga jual tidak mampu menutupi biaya operasional.

Hasil panen pisang petani di wilayah Bakauheni sebutnya dominan berasal dari lahan pertanian yang ada di perbukitan. Sebagai pengepul ia harus membayar jasa tebang dan jasa angkut. Biaya operasional tersebut belum termasuk biaya bongkar muat dan ekspedisi menggunakan mobil dan kapal.

“Secara hitungan ekonomis biaya operasional untuk panen hingga paska panen tidak sebanding dengan harga jual buah pisang pada sejumlah pasar tradisional sehingga saya memilih hanya menjualnya pada pasar lokal di wilayah Lampung,” terang Samsul Maarif saat ditemui Cendana News, Senin (19/10/2020).

Harga komoditas pisang sebut Samsul Maarif tiga bulan sebelumnya tetap stabil pada angka Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Setiap tandan pisang hasil panen rata rata mencapai 10 hingga 15 kilogram. Namun kini harga jual pisang dijual dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram. Penurunan harga membuat pemasukan dari penjualan pisang menurun.

Normalnya ia mengirim hasil pertanian pisang ke wilayah Banten dan Jakarta. Sekali pengiriman hasil panen rata rata dalam sepekan ia mengumpulkan sebanyak 3 hingga 4 ton pisang berbagai jenis. Semenjak permintaan berkurang ia hanya mengirim sebanyak 2 ton pisang. Semenjak masa pandemi Covid-19 ia menyebut permintaan pisang dari pelapak alami penurunan.

“Saat ini harga pisang sedang anjlok dari level petani hingga pelapak sehingga para pebisnis hasil pertanian kurang menguntungkan,” bebernya.

Melimpahnya hasil pertanian pisang sebut Samsul Maarif berimbas melimpahnya pasokan di sejumlah pasar tradisional. Meski pasokan melimpah ia menyebut serapan hasil pertanian pisang untuk kuliner menurun. Sejumlah pemilik usaha keripik, pemilik usaha gorengan yang berhenti operasi membuat hasil panen tidak terserap pasar.

Mat Supi, pemilik usaha ekspedisi di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan menyebut pengiriman komoditas pisang mulai berkurang. Beruntung sejumlah komoditas lainnya seperti jengkol, kelapa, petai, alpukat dan sejumlah sayuran tetap banyak terserap pasar tradisional. Usaha ekspedisi sejumlah komoditas pertanian yang kurang diminati pasar sebagian dijual ke pasar lokal.

“Daripada dikirim ke Banten dan Jakarta dengan biaya operasional yang tinggi namun harga jual rendah berimbas kerugian,” cetusnya.

Sumardiono, petani pisang di Desa Gandri menyebut ia memilih tidak menjual pisang ke pengepul. Sebagian tanaman pisang hasil panen disebutnya dominan dipanen untuk diberikan kepada kerabat. Sebab pertandan pisang yang semula bisa dijual seharga Rp35.000 hanya laku dijual Rp15.000. Oleh sang istri komoditas pisang diolah menjadi keripik yang dijual ke sejumlah toko oleh oleh agar lebih menguntungkan.

Lihat juga...