Harga Karet di Sumbar Masih Anjlok dalam Dua Tahun Terakhir

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PADANG — Kondisi harga karet di Provinsi Sumatera tidak kunjung membaik sejak 2 tahun terakhir ini. Kegalauan dan rasa putus asa menghantui para petani karena merasa sulit di era pandemi Covid-19.

Teguh, petani karet di Kabupaten Dharmasraya, mengatakan, melihat ekonomi petani benar-benar lagi jatuh mau tidak mau petani tetap memanen getah karet. Padahal bila dinilai dari sisi hasil sangat jauh dari kata sejahtera.

“Sampai saat ini harga karet paling tinggi itu hanya Rp8.000 dan itu kondisi karet kering kadar 40 persennya,” kata dia ketika dihubungi dari Padang, Rabu (7/10/2020).

Teguh dan petani lainnya sudah saling curhat terkait kondisi ekonomi keluarga yang makin hari makin menyedihkan. Biaya kebutuhan keluarga harus ada setiap harinya, tidak hanya soal biaya makan, biaya paket internet anak untuk belajar online pun harus tersedia.

Sementara warga di Sitiung itu, katanya, sebagian besar menggantung ekonomi ke hasil perkebunan karet. Para petani tidak tahu mau berbuat apalagi menghadapi situasi yang demikian.

“Bila ingin kami tebang semua tanaman karet ini dan ingin pula memulai tanaman lain, artinya butuh dana. Jadi hitungan-hitungan kami di sini sama saja bunuh diri,” ungkapnya.

Selain itu cerita yang sama juga datang dari Izul, kini malah memilih mengabaikan perkebunan karetnya dan lebih memilih untuk menjalani usaha di rumah seperti warung kelontong.

“Kalau saya lagi mencoba usaha warung kelontong sekarang. Sementara kebun dibiarkan saja dulu. Cuma kadang-kadang saja ke kebun untuk tetap panen juga, tidak sesering dulunya lagi,” akuinya..

Izul merasa dalam kondisi seperti saat ini usaha jadi perkebunan karet tidak menjanjikan lagi, tapi ada baiknya banting stir jadi usaha sendiri seperti halnya warung kelontong.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat Syafrizal menjelaskan bahwa terkait kondisi harga karet memang lagi anjlok dan hal itu sulit untuk diatasi dari pemerintah sendiri.

Tapi memang banyak warga di Sumatera Barat ini yang menggantungkan ekonomi keluarga terhadap perkebunan kelapa sawit.

“Kalau di Sumbar luas lahan perkebunan rakyat karet itu 181.002 hektare dengan produksi 163.801 ton dan produktivitas 1.258 kg per hektare,” kata pria yang biasa dipanggil Jejeng ini.

Menurutnya memang jumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil perkebunan karet itu cukup besar yakni 186.091 keluarga.

Daerah yang menjadi area perkebunan karet di Sumbar itu berada di Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Pasaman dan sebagian Kabupaten Solok, Solok Selatan dan Limapuluh Kota.

Lihat juga...