Hasilkan Uang dari Barang Bekas di Bank Sampah Lidah Mertua

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Keberadaan Bank Sampah di Komplek Pasir Putih, RT 02 RW 05, Kelurahan Bungo Pasang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, seakan menjadi tempat mengadu masyarakat dalam kondisi Covid-19 ini.

Mengadu di mana setiap barang-barang bekas yang dibawa dari rumah dan lingkungan rumah ke Bank Sampah itu, turut menjadi pundi-pundi rupiah. Apalagi dalam situasi Covid-19 saat ini memperoleh penghasilan adalah kabar baik.

“Saya cukup sering membawa barang bekas yang layak di daur ulang di Bank Sampah Lidah Mertua ini. Karena selain lingkungan rumah jadi bersih tanpa ada tumpukan barang bekas, juga bisa jadi penghasilan tambahan,” kata Desi warga Pasir Putih Padang, Rabu (7/10/2020).

Ia mengaku semenjak adanya bank sampah di kawasan pemukiman penduduk yang dekat dari kawasan pantai itu, turut menciptakan lingkungan jadi bersih. Bahkan antara rumah seakan saling berupaya mengumpulkan barang-barang bekas untuk diserahkan ke bank sampah.

Kondisi ini jelas membuat masyarakat semakin sadar dengan menjaga lingkungan dari tumpukan dan sampah-sampah yang berserakan. Bicara dulu, memang masyarakat di sana dulunya tidak begitu menghiraukan kondisi lingkungan.

“Dulu itu, bisa dikatakan sampah-sampah yang itu bisa-bisa membuat jalan di sini terlihat warna warni sebagai bentuk berserakannya sampah-sampah. Tapi sekarang lingkungan sini sudah bersih,” ujarnya.

Dia mengaku sangat senang dengan keberadaan bank sampah tersebut, karena membuat sampah-sampah di pemukiman penduduk itu jadi berarti dan bisa diubah jadi uang.

Sementara itu, Ketua Kelompok Bank Sampah Lidah Mertua, Eliana, mengatakan, saat ini bank sampah itu masih sebuah bangunan yang sangat sederhana yakni hanya memanfaatkan pos ronda.

“Sudah ada 90 orang ibu-ibu yang menjadi nasabah di bank sampah ini. Mereka memang terbilang sangat bagus untuk menabung di sini melalui sampah-sampah yang dibawa mereka,” ungkapnya.

Ia menyebutkan tujuan didirikannya bank sampah di pemukiman penduduk itu, agar sampah tidak berserakan dan tidak dibuang ke sungai atau bahkan sampai ke laut.

“Kawasan kami kan dekat sungai dan pantai. Jadi kebersihan seperti ini juga patut dilakukan,” jelas Eliana.

Saat ini Bank Sampah Lidah Mertua ini masih berdiri secara mandiri tanpa ada bantuan dari pemerintah. Hal ini lah juga mendasari bangunan bank masih memanfaatkan pos ronda.

Untuk itu jika ada bantuan, Eliana mengakui banyak hal yang dibutuhkan seperti alat untuk menjemput sampah ke rumah-rumah nasabah seperti becak.

“Gudang penyimpanan numpang dengan Posko Pemuda. Kemudian alat untuk menjemput sampah belum ada, sebab rata -rata nasabah kami sudah berumur,” sebutnya.

Lihat juga...