IDEAS: Kasus Covid-19 di Indonesia Belum Melandai

Editor: Koko Triarko

Peneliti Institute For Demographic and Proverty Studies (IDEAS), Fajri Azhari pada diskusi webinar IDEAS "Evaluasi 7 Bulan Pandemi' di Jakarta, Selasa (13/10/2020). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Peneliti Institute For Demographic and Proverty Studies (IDEAS), Fajri Azhari, menyebut wabah pandemi Covid-19 telah 7 bulan melanda Indonesia, dan hingga kini belum ada tanda-tanda melandai. 

Hal ini, menurutnya dapat dilihat dari saat kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 3 Maret 2020. Tercatat dalam waktu 115 hari, peningkatan kasus tidak terdeteksi, dan dengan akumulasi dari kasus yang teridentifikasi positif Covid pada 50.000 kasus berikutnya, ternyata ada penambahan peningkatan akselerasi.

“Itu meningkat tajam dari 115 hari menjadi ke 30 hari dalam penemuan kasus di 50.000 hingga 100.000 kasus. Bahkan, data terakhir tanggal 5 Oktober 2020, dalam 12 hari ada peningkatan kasus positif Covid-19 mencapai 250.000 sampai 300.000. Itu sangat cepat sekali, kasusnya belum ada tanda-tanda melandai,” ujar Fajri, pada diskusi webinar IDEAS “Evaluasi 7 Bulan Pandemi’ di Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Data lainnya, sebut dia, adalah kasus pasien yang meninggal juga memiliki pola yang sama. Meskipun Case Fatality Rate (CFR) menurun, tetapi  peningkatan kasus terimplikasi Covid-19 yang meninggal makin hari makin tinggi.

“Dalam waktu 19 hari saja bisa mencapai 9.000 sampai 11.250 kasus yang meninggal,” ujarnya.

Melonjaknya angka kasus Covid-19 dan pasien yang meninggal, menurutnya dapat dilihat dari data per 5 Oktober 2020, jumlah kasus yang diperiksa baru 7.849 per 1 juta penduduk.

Sehingga, kalau dibagi dengan total penduduk Indonesia, itu baru mencapai 0,78 persen. Padahal, standarisasi WHO (World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia), penanganan teknik Covid-19 suatu negara itu minimal 1 persen atau 1 kasus per 1000 orang yang diperiksa.

“Nah, Indonesia ini masih kurang berubah CFR-nya, masih perlu peningkatan, kurang lebih 3 persenan,” imbuhnya.

Menurutnya, akar masalah kasus pandemi ini tinggi, karena akselarasi penyebaran virus terjadi ketika kapasitas testing sangat rendah dilakukan di suatu negara.

“Nah, Indonesia ini kapasitas testingnya termasuk terendah di dunia,” pungkasnya.

Lihat juga...