Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

OLEH: HASANUDDIN

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wainna ilaihi roji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-Baqarah ayat 155-157).

Jika kita amati rangkaian ayat ini, yang di dalamnya Allah swt mengingatkan bahwa “dari pada-Nya-lah semuanya bermula, dan dari pada-Nya-lah semua akan menuju”, kita memahami bahwa rangkaian ayat ini adalah ayat sosial kemasyarakatan.

Suatu gambaran tentang fenomena pasang surut dalam kehidupan sosial yang terjadi secara dialektik dalam kurun-kurun waktu tertentu, tercermin dari penyebutan musim-musim panen, kadang cukup bahkan berlebihan, namun terkadang juga mengalami paceklik. Di mana hasil panen itu sekalipun sedikit jika Allah berkahi tetap akan mencukupi kebutuhan manusia, namun sebaliknya sekalipun berlimpah, namun tidak Allah berkahi, tidak akan pernah memuaskan manusia.

Hakikat musibah nampaknya adalah hilangnya keberkahan dalam kehidupan, dan hakikat kesempurnaan dan kebahagiaan adalah melimpahnya keberkahan yang Allah berikan.

Fenomena sosial kita, yang secara sumber daya alam melimpah, namun nampaknya tidak begitu Allah berkahi sehingga situasi sosial kemasyarakatan kita mengalami antagonisme di mana-mana.

Fakir miskin berteriak di jalan-jalan karena desakan akan ancaman kehausan dan kelaparan. Di sisi lain, sejumlah pihak terus melancarkan peperangan dalam rangka penguasaan sumber-sumber produksi.

Sekiranya para pemimpin negeri ini memahami makna dari “keberkahan” tentulah orientasi atas suatu kebijakan akan diarahkan kepada pencapaian tingkat kebahagiaan. Dan bukannya mengejar tingkat pertumbuhan semata.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tidak akan menciptakan kebahagiaan sosial, jika pertumbuhan yang tinggi itu, adalah pencapaian dari segelintir orang saja. Sementara mayoritas lainnya dibiarkan dalam kondisi ancaman kelaparan dan kehausan.

Maka ungkapan Innalillahi wainna ilaihi roji’un, amatlah tepat untuk mengingatkan kita semua, dan utamanya para pengambil kebijakan, agar memperhatikan dari mana dan apa orientasi pembangunan yang semestinya kita tuju dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga Allah swt, selamatkan negeri kita dari konflik sosial akibat membesarnya produksi ancaman kelaparan dan kehausan. ***

Depok, 16 Oktober 2020

Lihat juga...