Jabar Butuh 72 Juta Dosis Vaksin COVID-19

Ilustrasi. Peneliti berupaya menciptakan vaksin virus corona – foto Ant

BANDUNG – Kebutuhan vaksin COVID-19 untuk wilayah Jawa Barat, mencapai 72.145.938 dosis. Jumlah tersebut dengan perhitungan, satu orang mendapatkan dua dosis penyuntikan. Sasaran vaksinasi adalah 36.072.969 orang, yaitu penduduk usia 18 hingga 59 tahun.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Marion Siagian, mengatakan, vaksinasi di Jabar menyasar 36 juta warga rentang usia 18 sampai 59 tahun, dari total penduduk hampir 50 juta jiwa. “Untuk (warga) 60 tahun ke atas dan 18 tahun ke bawah, kami masih menunggu petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan, apakah diikutsertakan (dalam vaksinasi) atau tidak,” kata Marion, dalam ekspose strategi pelaksanaan vaksinasi di hadapan Gubernur Jabar, Mochamad Ridwan Kamil.

Terkait prioritas sasaran vaksinasi, Marion, yang juga Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Daerah Provinsi Jabar menuturkan, prioritas pertama sesuai Peraturan Presiden No.99/2020, tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi adalah tenaga kesehatan (nakes) dan TNI/Polri.

Dari perhitungan yang dilakukan, untuk prioritas pertama tersebut kebutuhannya adalah, 315.564 dosis vaksin. Dengan otal sasaran vaksinasi sekira 157.782 orang di Jabar. “Lalu untuk kelompok pelayanan publik (sebanyak) 95.248 orang dengan kebutuhan vaksin 190.496. Kami masih meng-update terus supaya pada hari-H (vaksinasi) semua kelompok prioritas ini bisa tercakup,” ujarnya

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, Marion Siagian, yang juga Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Daerah Provinsi Jabar – Foto Ant

Untuk proses vaksinasi, Dinas Kesehatan Jabar, akan menambah jumlah tenaga vaksinator terlatih. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 1.094 orang. Sementara tenaga kesehatan di Jabar total berjumlah 85 ribu orang.  Vaksin nantinya harus disimpan di dalam suhu 2 hingga 8 derajat Celsius.

Dan saat ini masih terus dilakukan upaya asesmen pada alat pendingin di seluruh tempat fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Jabar. “Vaksin itu mulai dari pengiriman sampai ke tubuh penerima harus dalam keadaan baik, harus disimpan di suhu 2 sampai 8 derajat Celcius. Untuk itu, kami melakukan asesmen terhadap kulkas-kulkas untuk penyimpanan vaksin di semua fasyankes,” ujar Marion.

Marion menjelaskan, total alat pendingin untuk menyimpan vaksin di seluruh wilayah Bodebek berjumlah 354 buah. Setelah dilakukan asesmen, diketahui 51 alat pendingin di antaranya rusak.  Selain itu, penyimpanan vaksin COVID-19 juga menjadi perhatian, karena penempatan harus diatur dengan jenis vaksin lain dalam alat pendingin tersebut. “Karena ada vaksin yang lain seperti vaksin untuk bayi dan ibu. Dinas Kesehatan Jabar terus melakukan asesmen terhadap kulkas di fasyankes seluruh Jabar, terutama di Bodebek,” ujar Marion.

Untuk keperluan vaksin tahap pertama di Bodebek, Pemerintah Daerah Provinsi Jabar mengajukan alokasi 3 juta warga dari total 9,1 juta warga yang bisa divaksin dengan vaksin yang dibeli pemerintah pusat.

Khusus untuk Kota Depok, vaksin yang dibutuhkan sebanyak kurang lebih 1,14 juta, atau untuk mencukupi kebutuhan 60 persen dari total jumlah penduduk 2,4 juta jiwa. Meski begitu, yang bisa menerima vaksin tahap pertama hanya 20 persen atau kurang lebih 300 ribu dari total sasaran 1,14 juta tersebut. Sambil menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat, Marion menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pematangan rencana vaksinasi hingga vaksin tiba dan siap disuntikkan.

Sementara itu, dalam agenda simulasi vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Tapos Kota Depok ini, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, yang juga Ketua Komite Kebijakan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar menyatakan, vaksin akan fokus diberikan kepada lima daerah di Bodebek (Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, serta Kota dan Kabupaten Bekasi). Daerah tersebut tercatat sebagai penyumbang 70 persen kasus COVID-19 di Jabar. (Ant)

Lihat juga...