Jaga Kualitas Air, Budidaya Lele di Demplot Cilongok Gunakan WS dan TC

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANYUMAS — Guna menjaga kualitas air kolam yang dipergunakan untuk budidaya lele, demplot Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas memproduksi sendiri water stabilizer (WS) dan Toya Cemeng (TC). Produksi WS dan TC ini juga dipergunakan untuk menyiram aneka tanaman yang ada di demplot.

Officer Development Program (ODP) Koperasi Bangun Sejahtera Mandiri (KBSM) bidang perikanan, Faozan Syafrudien di demplot Cilongok, Minggu (11/10/2020). (FOTO :Hermiana E.Effendi)

Officer Development Program (ODP) Koperasi Bangun Sejahtera Mandiri (KBSM) bidang perikanan, Faozan Syafrudien mengatakan, kualitas air yang dihasilkan dari proses WS dan TC sangat bagus, karena mengandung banyak mikroorganisme, sehingga selain untuk meningkatkan kualitas air kolam, juga dipergunakan untuk menyiram tanaman.

“Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan WS dan TC ini, semua alami, sehingga air yang dihasilkan subur ,” terangnya, Minggu (11/10/2020).

Lebih lanjut Faozan menjelaskan, water stabilizer merupakan sekumpulan mikroorganisme atau agensia hayati yang tumbuh dan dikembangkan menggunakan miracle green probiotik organik atau MGP dan fungsinya untuk menjaga kualitas air

Untuk bahan pembuatannya menggunakan kotoran ayam petelur atau bisa juga menggunakan kotoran puyuh kering yang sudah diayak sampai halus. Selain itu juga digunakan jerami kering, bekatul atau dedak, enceng gondok serta tanaman azolla microphylia. Sebagai bahan campuran lainnya yaitu ada bawang putih, merica bubuk serta gula cair.

“Biasanya kita produksi 15 kilogram kotoran ayam petelur, dicampur dengan 3 kilogram batang jerami kering yang dicacah halus, serta 5 kilogram bekatul dan untuk azolla microphylia serta enceng gondong masing-masing 12 kilogram,” kata Faozan.

Selain memproduksi WS, demplot Cilongok juga membuat Toya Cemeng (TC) yang merupakan formulasi turunan dari water stabilizer dan digunakan untuk pengkondisian air kolam. Penggunaan TC ini dilakukan selama kegiatan pemijahan, mulai dari persiapan air pijah hingga pemeliharaan larva sampai ukuran 3-5 centimeter.

“Untuk budidaya lele, kita juga melakukan pembibitan, sehingga kualitas air kolam harus benar-benar diperhatikan. Untuk pakan lele juga kita gunakan yang alami, yaitu dari kutu air dan cacing sutra,” ucapnya.

Untuk mendukung pembuatan water stabilizer dan toya cemeng, di bagian belakang demplot juga ditanami enceng gondok. Kolam tempat tumbuh enceng gondok ini berada tepat dibelakang kolam lele dan di dekatnya ada gubug kecil, tempat para pekerja mengolah pembuatan WS.

Salah satu pekerja di budidaya lele, Arif mengatakan, untuk pembuatan WS, sebagian bahan-bahan sudah tersedia di demplot, seperti enceng gondok. untuk jerami sudah ada yang memasok dari petani setempat.

“Enceng gondok dan jerami sebelumnya harus dicacah sampai halus, setelah itu baru dicampurkan dengan bahan lainnya,” pungkasnya.

Lihat juga...