Jarik Januari

CERPEN ENDANG SRI SULISTIYA

NUAR benci hujan. Padahal Nuar lahir di hari, bulan, dan musim hujan. Bagi Nuar hujan menyiram kemalasan. Mengguyur ketergantungan. Menyuburkan parasit-parasit.

Hujan identik dengan romantisme. Itulah kesalahan besarnya. Nuansa gerimis menebarkan perasaan melankolis yang berlebihan.

Kadang bahagia yang tak terukur. Kadang sedih yang tak ternilai. Menghanyutkan. Membuat kita terombang-ambing dalam kekacauan perasaan.

Hujan lebat, apalagi berangin dihiasi petir menumbuhkan bibit-bibit ketakutan. Seolah kita butuh perlindungan. Sebuah dekapan. Kehangatan.

Benar Nuar menyimpan dendam. Pada kisah masa silam yang menyakitkan. Tentang ibunya yang menggantungkan hidup pada seorang laki-laki bernama suami. Ibu berkata itu pengorbanan. Kerelaannya sebagai seorang istri. Namun yang dilihat Nuar adalah suatu kebodohan panjang.

Suami ibu meskipun ayahnya sendiri adalah orang yang paling dibenci Nuar. Bencinya pada hujan sama besarnya pada bencinya pada ayahnya.

Suami ibu adalah pengangguran yang kasar dan bermulut pedas. Kerjanya tiap hari berjudi dan menghabiskan uang. Ibulah yang bekerja keras membanting tulang. Pun demikian, ibunya tak luput dari kekerasan psikis dan fisik.

Takdir Tuhan. Suami ibu meninggal tersambar petir pada mangsa songo. Di mana petir-petir di masa itu begitu buas. Seolah lapar mencari mangsa.

Tujuh tahun lalu, kala Nuar berumur sepuluh tahun. Laki-laki tak tahu malu itu tengah ribut soal batas tanah sawah dengan Pakde Firman. Padahal bukan tempatnya seorang suami mencampuri bagian warisan istrinya. Mau dikata apa lagi laki-laki itu memang tak bermoral sama sekali.

Sambaran petir membuat tubuh dua laki-laki yang bersengketa itu terpanggang. Suami ibu tak bisa diselamatkan sementara Pakde Firman masih diberi kesempatan hidup. Meski harus menanggung cacat seumur hidup.

Nuar tak sedikit pun sedih. Parasit itu telah pergi. Besar harapan Nuar ibunya lepas dari gantungan. Bebas. Berdiri, berjalan atau berlari. Melangkah ke depan.

Ternyata jalan hidup tidak sesederhana itu. Semenjak kepergian suaminya, ibu justru makin rapuh. Ibu serupa rumah hampir roboh karena kehilangan tiang penyangga.

Hal baiknya, ibu masih sanggup bertahan demi Januari. Anak semata wayang yang begitu disayang. Masih ada tanggung jawab besar yang dipikul sehingga ibu sekuat tenaga bertahan.

“Ibu harus melupakannya. Ibu pasti bahagia,” kata Nuar suatu kali.

“Mengapa kamu membenci ayahmu? Kalau tidak ada ayahmu, tidak mungkin ada kamu, Nuar,” kilah ibu seperti biasanya.

Ibu tak kurang dalam menasihati Nuar. Bagaimanapun buruknya seorang ayah tetaplah muasal seorang anak bermula dari sana. Sesekali ibu menjabarkan kebaikan suaminya meski terkesan mengada-ada. Namun begitu sosok ayah yang kejam tak bisa hilang dari kepala Nuar. Telanjur terekam dalam memori.

“Kamu itu hadiah terindah dari ayah untuk ibu. Dari matamu, ibu dapat melihat suamiku,” imbuh ibu membuat Nuar sesak. Ingin Nuar mendebat tapi artinya ia akan semakin mirip dengan ayahnya. Jelas Nuar tak suka disamakan dengan ayahnya. Nuar hanya ingin seperti ibu. Halus. Hangat. Nyaman.

Hujan masih turun. Menderas. Bergemuruh. Suara air yang jatuh susul menyusul dari langit serupa suara rusuh. Curah air menghantam tanah, atap, genting, pepohonan dan apa saja. Selayak tawuran yang membabi buta.

Nuar benci hujan sebagaimana ia membenci ayahnya. Bertambah benci. Apalagi jika tak ada ibu di sampingnya. Nuar sudah lulus SMA. Ibu memintanya kuliah di luar kota. Mulanya Nuar tak mau menuruti. Nuar tak bisa jauh dari ibunya. Namun ibunya terus memohon dan memaksa. Hingga Nuar tak punya pilihan lain lagi.

“Kamu adalah anak laki-laki. Kamu nantinya akan jadi pemimpin. Belajarlah hidup mandiri di kota orang,” bujuk ibu kala itu.

“Baik, Bu. Aku akan belajar. Aku juga akan berjuang karena aku tak mau seperti ayah,” jawab Nuar akhirnya luluh dengan permintaan ibunya.

Hujan tinggal gerimis. Gemericik airnya demikian berisik. Kilatan petir seperti tamparan keras di pipi. Menyakitkan. Sedikit demi sedikit keberanian Nuar terusik. Nuar bergidik. Menelan ludah yang tiba-tiba pahit. Bagaimana kalau petir itu melumatnya? Seperti dulu petir itu melumat ayahnya.

Baca Juga

Nuar akui diri sebagai anak durhaka. Kadang Nuar merasa sedikit berdosa. Namun bisakah Nuar berbakti pada laki-laki sekejam ayahnya? Seorang ayah yang hanya menyandang gelar tanpa pernah belajar. Ya, ayahnya seorang yang tak mau berproses. Ayahnya selalu ingin hasil instan. Ingin hidup jaya tanpa berusaha.

Seorang ayah yang merasa berhak tanpa berkewajiban. Omong kosong soal menafkahi keluarga. Bualan belaka menjadi teladan bagi istri dan anaknya. Yang dipedulikannya hanya harta dan harta. Uang lagi dan uang lagi.

Sekarang hujan menyisakan tetes-tetes terakhirnya. Petir belum juga mau berakhir. Nuar membungkus tubuhnya dengan jarik. Membungkus ketakutannya. Sebetulnya Nuar malu mengakui dirinya juga parasit. Nuar selalu sepanjang hidupnya bergantung pada ibunya. Tak bisa berpisah dari ibunya.

Siapa gerangan yang hendak dibohonginya? Bahkan saat-saat hujan seperti sekarang ini, Nuar merindu berada di gendongan ibunya. Dulu adalah wajar ketika hujan ibu selalu menggendongnya. Mengelus kepalanya sembari merapal doa-doa. Melindunginya dari ketakutan. Menenangkannya. Hingga ia tertidur pulas. Bersua mimpi indah.

Jika hujan kian mengganas. Semakin lebat diiringi angin, kilat dan petir. Maka ibu akan melilitkan jarik pada salah satu tiang rumah. Menaruh lampu tintir (lampu minyak tanah) yang menyala dalam tenggok (keranjang bambu). Meletakkannya di dekat tiang tersebut. Sambil mulut ibu bergetar membaca doa.

Sesekali ibu mengencangkan tali kunci gendongannya. Yang melonggar oleh desakan bobot tubuh anaknya. Sebelah tangan Ibu menarik ujung jarik untuk ditutupkan pada kepala Nuar. Kemudian menjangkau tiap-tiap penjuru rumah. Berdiam sejenak. Melafalkan surat-surat pendek yang dihafalnya.

Ada alasan di balik tindakan. Akan tetapi orang-orang cenderung menghakimi tanpa memahami lebih dahulu. Serta merta menudingnya aneh dan layak hujat. Padahal tak ada niat Nuar ingin menyakiti. Nuar hanya berupaya melindungi diri sendiri sementara, jauh dari ibu yang sewaktu-waktu dibutuhkannya.

Di perantauan, ibu membekali Nuar dengan jarik. Sebuah jarik yang senantiasa membersamai tumbuh kembangnya. Dari masa ke masa. Berawal dari bedong, gendongan hingga menjadi selimut. Jarik adalah wujud lain dari sosok ibu. Tak dipungkiri keduanya punya andil yang besar dalam hidup Nuar.

Dan sebagai anak ibunya muncul keinginan Nuar untuk berperan sebagaimana ibunya. Hasrat yang begitu besar. Bisa melindungi. Menjauhkan dan mengusir ketakutan. Sebagaimana jasa jarik pada musim hujan. Sebagaimana jasa ibu dalam setiap jengkal hidup Nuar.

Ada kenikmatan. Ada kepuasan. Kala melihat teman-teman yang terbungkus jarik itu terdiam. Tak bergerak. Tampak tenang. Pulas dalam tidurnya. Dan berjumpa dengan mimpi indahnya.

Seumpana Nuar menjelma menjadi seorang pahlawan. Berjasa mengantarkan kebahagiaan kepada teman-temannya. Itulah yang ada dalam bayangan Nuar. Meski kenyataannya sangatlah jauh berbeda.

Sekali dua kali dituruti. Bukannya kenikmatan yang didapat membawa kelegaan. Justru terus kurang dan kurang. Nuar dikejar penasaran. Nuar tersulut ketagihan. Seperti ada yang hilang jika tak mendapatkan.

Mula-mulanya Nuar minta bantuan dengan dalih penelitian. Ketika mendapat penolakan, Nuar memohon dan mengiba dengan wajah melasnya. Tak tanggung-tanggung ia lengkapi dengan tangisan yang mampu mengundang belas kasihan.

Baru-baru ini saja Nuar mulai terbiasa memaksa. Itu karena candu telah menjadi racun dalam tubuhnya. Nuar tak segan lagi menyiksa siapa saja yang tak menuruti keinginannya.

Akumulasi. Lamban laun teman-teman Nuar mulai menaruh curiga. Perilaku Nuar mulai dipertanyakan dan dipergunjingkan. Satu dua orang mulai berani bersuara telah dirugikan.

Ombak bergulung tak lagi bisa ditahan menuju pantai. Ramai-ramai orang tak lagi malu membuka aib. Tumpah ruah hujatan seketika digelontorkan. Bahkan laporan ke polisi segera ditindaklanjuti. Sampai akhirnya Nuar mendekam di penjara. Sendiri memeluk ketakutannya. Tanpa ibu dan jariknya.

Hujan turun lagi. Sudah menjadi takdir Januari, hari-hari akan senantiasa diguyur hujan. Nuar terduduk di sudut sel. Merapatkan kedua kaki ke dada. Mengeratkan lipatan tangan. Menundukkan kepala pasrah. Mencoba mencipta kehangatan dalam dirinya.

“Saudara Januari, ada telepon untukmu,” ujar seorang sipir penjara.

Pintu sel penjara dibuka. Didampingi sipir penjaga di kanan dan kirinya, Nuar menuju ruang telepon. Baru sekian detik gagang telepon menyetuh daun telinganya, tubuh Nuar langsung ambruk ke lantai.

Sebentar menggigil. Lantas membeku bak balok es. Sambungan telepon baru saja mengabarkan bahwa ibunya telah tiada. Tewas gantung diri dengan lilitan jarik di leher. ***

Endang Sri Sulistiya, lahir dan besar di Boyolali, Jawa Tengah. Menuntaskan studi Administrasi Negara di FISIP UNS. Beberapa cerpennya  sudah pernah dimuat berbagai media.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...