Kacang Sangan Asin GRIS, Mencoba Bertahan dari Gempuran Zaman

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Dari kios kios kayu berukuran sekitar 2,5 meter x 1,5 meter, cerita kacang sangan asin GRIS, bermula dan bertahan hingga kini. Meski sudah tak banyak masyarakat yang tahu, kuliner legendaris tersebut mencoba bertahan dari gempuran zaman.

Jika menyebut nama kacang sangan asin, maka kita akan dibawa olahan makanan dari kacang tanah, yang digoreng utuh tanpa dikupas terlebih dulu. Uniknya, kacang tersebut digoreng tanpa menggunakan minyak goreng, namun disangrai dengan pasir.  Salah satunya, kacang sangan asin buatan Muhammad Ali Ridho, yang terletak di Jalan Pemuda Semarang, persis di depan Mal Paragon Semarang.

“Usaha ini dirintis ayah mertua saya, H Ridho, sudah sejak 1960. Dari dulu sampai sekarang jualannya ya tetap disini, hanya saja sebelum ada Mal Paragon Semarang, terlebih dulu ada Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Jadi orang-orang menyebutnya kacang sangan asin GRIS,” papar Yayuk Sri Rejeki, pedagang Kacang Sangan Asin GRIS, saat ditemui Cendana News, Sabtu (31/10/2020).

Dipaparkan, waktu itu Gedung GRIS merupakan pusat hiburan warga Kota Semarang saat itu. Termasuk tempat pementasan wayang orang Ngesti Pandawa, yang meraih masa kejayaan pada 1970 hingga 1980-an, hingga gedung bioskop.

“Jadi dulu sangat terkenal, masyarakat yang mau nonton hiburan di GRIS maupun film di bioskop, biasanya beli kacang sangan dulu disini. Dimakan sambil nonton,” terangnya.

Seiring waktu, kepemilikan tanah di lokasi tersebut berubah, gedung GRIS pun dirobohkan dan dibangun pusat perbelanjaan baru , yang saat ini dikenal dengan nama Mal Paragon Semarang. Namun meski demikian, masyarakat tetap mengenal kacang sangan tersebut, dengan nama Kacang Sangan Asin GRIS.

Yayuk memaparkan, untuk membuat kacang olahan tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup lama. “Pertama, kacang tanah ini kita rendam dulu di bak penampungan dan diberi air. Dalam proses perendaman ini, bak diberi tutup pemberat agar kacang bisa tenggelam,” jelasnya.

Perendaman tersebut bertujuan untuk menghilangkan bekas kotoran seperti tanah atau pasir yang masih menempel. “Setelah direndam semalaman, kemudian dicuci bersih. Baru kemudian dilakukan proses penggaraman, dengan garam yodium. Kalau pakai garam krosok, tidak bisa, hasilnya tidak bagus dan bau amis,” terangnya.

Selanjutnya kacang yang sudah digarami tersebut, didiamkan selama semalam, baru dijemur hingga kering. Setelah kering, kemudian digoreng sangrai menggunakan wajan baja berisi pasir panas.

“Cara pengolahannya dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Untuk pembuatannya, ayah mertua dibantu suami saya. Sementara saya bagian yang berjualan,” terang Yayuk.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, untuk satu kilogram kacang sangan asin dihargai Rp 60 ribu, setengah kilogram Rp 30 ribu sementara untuk ukuran kecil Rp 10 ribu.

Ditanya soal peminatnya, Yayuk mengaku tidak pasti, terlebih pada saat pandemi seperti sekarang, penjualan kacang sangan menurun.

“Biasanya orang beli kacang sangan ini buat cemilan kalau ada acara. Seperti pernikahan, pengajian, arisan atau acara lainnya. Sementara, saat pandemi banyak kegiatan yang sifatnya kumpul-kumpul, tidak diperbolehkan. Jadi ya sepi,” terangnya.

Dalam sebulan rata-rata penjualannya antara 10 – 25 kilogram, meski terkadang juga bisa meningkat jika ada pesanan khusus. “Dulu sebelum ada pandemi, pernah ada yang pesan 100 kilogram, buat acara pernikahan di Kalimantan, namun sekarang sepi. Ya ada yang beli sehari paling 2-3 kilogram, tapi terkadang juga tidak ada yang beli,” tambahnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Yosep, mengaku sudah menjadi pelanggan tetap kacang sangan asin GRIS. “Sudah bertahun-tahun beli disini, kalau ingin makan kacang sangan asin. Dulu ayah yang mengajak, sekarang gantian saya yang melanjutkan beli sendiri kesini,” paparnya.

Diakui dibandingkan dengan kacang asin modern yang ada di supermarket, dari sisi rasa, lebih enak Kacang Sangan Asin GRIS. Tidak hanya itu, kepadatan dan isi kacang juga lebih besar.

“Mungkin karena kacangnya digoreng sangrai, tidak di oven, jadinya bijinya tetap besar dan empuk. Rasanya juga enak, gurih asin. Ini yang menjadi penyebab, saya tidak berpaling ke produk lain, meski Kacang Sangan Asin GRIS masih dibuat dengan cara tradisional,” paparnya.

Dirinya pun berharap, kacang sangan tersebut bisa terus bertahan, meski saat ini kondisi tengah sulit. “Mudah-mudahan bisa bertahan, soalnya tidak ada lagi yang jual kacang sangan asin seperti yang ada disini,” pungkasnya.

Lihat juga...