Kanker Serviks Bisa Sembuh 100 Persen Jika Terdeteksi Dini

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kanker Serviks bukanlah kanker yang menular, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu kanker yang jika dapat dideteksi dini, menghasilkan tingkat penyembuhan 100 persen. Hal inilah menjadi alasan deteksi dini dengan melakukan tes menjadi sangat penting bagi wanita.

Dokter Tricia Dewi Anggraeni (Anggi), SpOG(K), Onk., menyampaikan saat ini ada tiga tes yang bisa dilakukan oleh para wanita sebagai tindak pengecekan.

“Ada tiga tes yang dikenal di Indonesia, HPV Test, Papsmear dan IVA Test. Ketiganya sama bagusnya. Kalau di dunia internasional memang yang dikenal HPV Test dan Pap Smear, baik dilakukan salah satunya atau keduanya. Tapi harus mempertimbangkan juga, situasi dan kondisi wanita yang ingin melakukan tes,” kata Anggi, demikian ia akrab disapa, saat talkshow online kesehatan, Jumat (30/10/2020).

Dr. Tricia Dewi Anggraeni (Anggi), SpOG(K) Onk, saat talkshow online kesehatan, Jumat (30/10/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Ia menyebut, jika sedang ada di daerah yang sulit akses untuk tes Pap Smear atau HPV Test, maka bisa digunakan IVA.

“Kalau Pap Smear atau HPV Test memang membutuhkan wanita itu untuk datang ke yang ahli. Artinya, pada rumah sakit yang memang menyediakan. Tapi, kalau memang harus dilakukan secepatnya, ya bisa dengan IVA,” ucapnya.

Atau dengan adanya teknologi yang berkembang pesat saat ini, Anggi menyebutkan ada pula tes yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

“Samplingnya ini nanti yang dikirimkan ke laboratorium untuk dites. Dan, hasilnya akan dikirimkan kembali ke pasien. Kalau untuk masa pandemi seperti sekarang, cara ini bisa dipilih. Tapi jika dari hasil tes tersebut positif, maka tetap harus datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan tindakan lanjutan,” urainya.

Kejadian yang sering ditemukan, menurut Anggi adalah banyak wanita yang mengambil skrining tes ini, tapi tidak mengetahui hasilnya.

“Banyak pasien yang datang ke saya, yang mengaku menjalani tes tapi hasil tesnya tidak pernah diambil dari lab. Atau kalau dikirimkan ke rumah, tidak dibuka. Jadi tesnya bisa dikatakan percuma,” ungkapnya.

Tiara Indriani, S.Farm, Apt., yang hadir dalam kesempatan yang sama, menyatakan pentingnya wanita untuk melakukan tes deteksi dini serviks ini.

“Kita harus berani untuk menghadapi kanker serviks. Karena saat ini, Indonesia mencatatkan kanker serviks sebagai penyakit kanker ke dua setelah kanker payudara yang ditemukan pada wanita,” kata Tiara.

Ia menyatakan, deteksi dini kanker serviks ini mayoritas terhalang oleh rasa malu pada diri wanita saat harus menjalani tesnya. Karena memang ada perlakuan khusus yang dilakukan saat tes dilakukan oleh tim medis.

“Tapi saat ini, ada tes yang bisa dilakukan wanita secara mandiri di rumah. Misalnya, Gynpad yang memiliki bentuk seperti pantyliner. Pantyliner ini memiliki filter yang menampung lendir yang berasal dari vagina. Filter inilah yang kemudian dikirimkan ke laboratorium untuk dilakukan tes,” ucapnya.

Walaupun pengambilan sampling ini bisa dilakukan secara mandiri di rumah, Tiara menegaskan pentingnya untuk membawa hasilnya ke ahli media yang kompeten dalam bidangnya untuk menganalisa hasil tes.

“Hasil lab yang dikirimkan ke rumah harus dibaca oleh yang ahli. Jadi, bisa diketahui statusnya. Negatif atau positif. Kalau positif, ya mau tidak mau harus menjalani pemeriksaan lanjutan,” pungkasnya.

Lihat juga...