Kasus Covid-19 di Sumbar Nyaris Capai 10.000

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Kasus Covid-19 di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) nyaris mencapai angka 10.000 dan hingga minggu ke-13 masa status tanggap darurat pandemi Covid-19 jumlah warga Sumatera Barat terinfeksi Covid-19 di angka 9.747.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumatera Barat, Jasman Rizal, mengatakan, cukup signifikannya kasus Covid-19 di Ranah Minang itu karena per harinya penambahan warga Sumatera Barat yang terinfeksi Covid-19 di atas angka 100 orang.

“Kalau data hari ini Jumat akan diumumkan nanti sore. Tapi kala data kemarin malam itu penambahan kasus baru yakni 340 orang warga Sumatera Barat positif terinfeksi Covid-19. Sembuh bertambah 131 orang, sehingga total sembuh 5.353 orang dan meninggal bertambah 3 orang sehingga total meninggal 188 orang,” jelas Jasman, Jumat (16/10/2020).

Dengan kondisi demikian sejauh ini Positivity Rate (PR) di Sumatera Barat berada di 5,22 persen. Jumlah positif Covid-19 itu terjadi di seluruh daerah dan yang paling mendominasi itu datang dari Kota Padang.

Ibu kota provinsi ini menyumbang 50 persen kasus Covid-19 dari total kasus hingga saat ini. Di Padang total positif ada sebanyak 5.227 orang, meninggal 93 orang, dan sembuh sebanyak 2.748 orang yang artinya separuh dari positif itu berhasil sembuh dari terinfeksi Covid-19.

Jasman menjelaskan, selain Kota Padang yang mendominasi juga ada daerah lainnya kasus Covid-19 cukup tinggi, yakni Kabupaten Agam dengan total positif 894 orang, meninggal 13 orang, dan sembuh 521 orang. Selanjutnya datang dari kota wisata yakni Kota Bukittinggi dengan total positif 553 orang, meninggal 10 orang, sembuh 220 orang.

“Selain jumlah warga Sumatera Barat yang terpapar Covid-19 terus meningkat, juga banyak orang yang positif itu sembuh rata-rata tingkat kesembuhan masing-masing daerah itu 50 persen. Kita berharap kesembuhan pasien ini terus meningkat,” ujarnya.

Kini sejumlah pasien Covid-19 di Sumatera Barat melakukan perawatan mulai dari rumah sakit hingga isolasi mandiri. Tapi dari data yang dirangkum itu memang sebagian orang yang terpapar Covid-19 melakukan isolasi secara mandiri.

Data yang dimaksud yakni untuk yang dirawat di berbagai rumah sakit 443 orang, isolasi mandiri 3.464 orang, isolasi daerah 211 orang, isolasi BPSDM 35 orang, isolasi PPSDM 53 orang, meninggal dunia 188 orang, dan sembuh 5.353 orang.

“Jadi banyaknya pasien yang memilih isolasi mandiri menunjukkan bahwa banyak pasien Covid-19 di Sumatera Barat ini mengalami gejala ringan. Karena syarat untuk melakukan isolasi mandiri itu adalah orang terinfeksi gejala ringan,” jelasnya.

Secara psikologi, pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri dengan gejala ringan itu sangat besar peluang untuk sembuh. Sebab selama isolasi masih berada di rumah dan masih terdengar suara keluarga.

Berbeda dengan isolasi atau dirawat di rumah sakit. Posisi memang jauh dari keluarga dan jauh juga dari keramaian. Mungkin saja pasien yang seperti ini secara psikologi memiliki beban pikiran.

“Nah makanya bila ada pasien terpapar Covid-19 dan itu ringan, kita diperbolehkan untuk isolasi mandiri. Tapi ingat ada ketentuan lain yang harus dipatuhi bagi orang melakukan isolasi mandiri,” sebut dia.

Ketentuan yang dimaksud adalah rumah yang digunakan untuk isolasi itu harus menyediakan kamar khusus serta fasilitas yang digunakan oleh pasien terpapar Covid-19 harus secara khusus, serta selama isolasi orang yang bersangkutan tidak boleh berbaur dengan keluarga.

“Nanti akan ada petugas medis untuk memantau kondisi kesehatan pasien ke rumah guna memastikan perkembangan kesehatan,” ujarnya.

Untuk itu, Jasman menyatakan, dari sekian pasien yang sembuh sejauh ini kebanyakan melakukan isolasi mandiri. Karena untuk sembuh itu butuh imun tubuh yang kuat, dan imun tubuh akan bagus bila pasien itu tidak panik dan tenang.

“Saya berharap untuk isolasi mandiri ini bisa dilakukan sesuai ketentuan dan aturan yang ada,” tegas Jasman.

Sementara itu, Plt Wali Kota Padang, Hendri Septa, mengatakan, melihat kasus Covid-19 di Padang terus bertambah dan membuat Padang masih berada di zona merah, maka sejumlah langkah telah dan akan dilakukan agar penyebaran bisa ditekan.

Cara yang dilakukan kini untuk yakni tim Satpol PP Kota Padang akan melakukan kontrol dan pengawasan ke perkantoran yang ada di Pemko Padang. Upaya tersebut untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkup perkantoran.

“Razia ini dilakukan supaya terlihat siapa yang betul-betul peduli bermasker. Jika tidak maka kena razia,” sebut dia.

Kepala Satpol PP Kota Padang, Alfiadi, membenarkan bahwa pihaknya mulai melakukan razia masker ke kantor-kantor di Kota Padang. Satpol bersama TNI dan Polri akan mengawasi ASN dan karyawan yang tidak mengenakan masker saat bekerja.

“Razia yang dilakukan sama dengan razia yang dilakukan kepada masyarakat. Jika ada ASN atau karyawan yang tidak mengenakan masker akan didenda. Termasuk dilaporkan ke atasan masing-masing. Jika tidak ingin terjaring, gunakan masker selama di kantor,” tuturnya.

Lihat juga...