Kasus DBD di Kangae Hingga Oktober Capai 113

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Memasuki musim hujan, kasus demam berdarah dengue  (DBD) di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menjadi perhatian. Di Kecamatan Kangae terdiri 9 desa berada di wilayah Puskesmas Waipare tercatat ada sebanyak 113 kasus, sejak bulan Januari hingga awal Oktober 2020.

“Kasus DBD di Kecamatan Kangae hingga awal Oktober 2020  terdapat hampir di semua desa ,” kata Kepala Puskesmas Waipare, Kecamatan Kangae, Armania Sukance saat ditemui Cendana News,  di kantornya, Jumat (9/10/2020).

Kepala Puskesmas Waipare, Armania Surkance saat ditemui di kantornya, Jumat (9/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Armania mengatakan, kasus DBD terbanyak terjadi di Desa Watuliwung dengan jumlah kasus sebanyak 25 kasus dan diikuti Desa Langir sejumlah 19 kasus serta Desa Habi dan Desa Watumilok.

Ditambahkan kepala Puskesmas yang baru menjabat 2 bulan ini, keempat desa tersebut oleh Puskesmas Waipare ditetapkan sebagai 4 locus daerah yang rawan terjadi kasus DBD.

“Langkah antisipasi yang telah kami ambil untuk mengantisipasi lonjakan kasus DBD kedepannya dengan membentuk Tim Gerak Cepat (TGC) Kecamatan Kangae.Tim ini yang akan bertugas menangani masalah kesehatan terutama DBD,” sebutnya.

Armania menjelaskan, saat pelaksanaan launching TGC di Desa Watuliwung yang merupakan desa dengan jumlah kasus BDB terbanyak di Kecamatan Kangae, Puskesmas Waipare juga memanfaatkannya dengan melakukan sosialisasi.

Selain itu tambahnya, dilakukan kegiatan bakti sosial dan penyerahan ikan kepala timah yang merupakan bantuan dari Koperasi Kredit Hiro Heling yang diperuntukan bagi  9 desa di Kecamatan Kangae.

“Dalam kegiatan tersebut  kami juga menawarkan tiga inovasi yakni kupon jentik, pos ikan kepala timah dan gerakan membagi ikan kepala timah di desa. Ketia inovasi ini saat dipaparkan mendapat respon yang baik dari para kepala desa,”ungkapnya.

Armance juga menyebutkan, kesadaran masyarakat Kecamatan Kangae dalam hal menjaga kebersihan masih sangat rendah dan masyarakat belum diberdayakan dalam menjaga kebersihan.

“Kami telah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Kangae dan lintas sektoral dalam hal pembuatan jadwal kerja bakti yang diikuti oleh tim Puskesmas Waipare. Petugas kesehatan kami bagi berdasarkan wilayah binaan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus mengaku telah memerintahkan setiap Puskesmas agar segera melakukan langkah antisipasi guna mencegah terjadinya DBD.

Menurut Petrus, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan setiap kecamatan agar bisa menyampaikan kepada kelurahan dan desa untuk melakukan gerakan kebersihan di wilayahnya masing-masing minimal seminggu sekali.

“Untuk mencegah DBD memang harus menjaga kebersihan dan kami juga telah menyiapkan petugas kesehatan di setiap Puskesmas agar segera turun melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, pada awal tahun 2020, Kabupaten Sikka mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD akibat meningkatnya kasus DBD termasuk jumlah kematian.

Lihat juga...