Kedai Kopi di Terminal Bakauheni Tetap Eksis di Masa Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha di terminal eksekutif Bakauheni, Lampung Selatan, tetap eksis di masa pandemi. Kendati mengalami penurunan omzet penjualan, namun beroperasinya warung atau kedai di masa sulit ini sangat membantu bagi pelaku usaha maupun masyarakat pelaku perjalanan.

Alif, salah satu barista di kedai Kopi Ketje, mengaku tetap membuka usahanya, meski jumlah pembeli mengalami penurunan. Ia beralasan, pelaku perjalanan sering memanfaatkan waktu dengan bersantai, menunggu jam keberangkatan kapal. Setiap hari, kedai kopi yang dikelolanya buka mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Namun, Alif mengakui jumlah cup atau gelas kopi yang dijualnya mengalami penurunan. Semula, dalam kondisi normal dalam sehari ia bisa melayani permintaan 100 cup lebih. Namun imbas berkurangnya pelaku perjalananm ia hanya bisa menjual puluhan cup kopi. Meski mengalami penurunan, ia bersyukur masih banyak konsumen yang membeli kopi Ketje.

Alif, barista di gerai Kopi Ketje yang tetap bertahan selama masa pandemi Covid-19, meski terjadi penurunan jumlah konsumen, Selasa (14/10/2020). -Foto: Henk Widi

“Sebagai usaha berbasis kuliner, menjual minuman di terminal eksekutif masih cukup menjanjikan, hanya saja imbas pelaku perjalanan yang berkurang sangat mempengaruhi volume penjualan dan omzet yang diperoleh secara harian,” terang Alif, saat ditemui Cendana News di terminal eksekutif Bakauheni, Selasa (13/10/2020).

Ia menjelaskan, ada enam menu yang disediakannya. Yaitu, kopi ndeso, kopi kota, soda kota, klepon series, dalgona ketje, dak ngopi. Ada 19 sajian menu minuman yang dikombinasikan sesuai selera konsumen. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp19.000 hingga Rp30.000 per cup.

Selain penurunan omzet, ia mengaku owner kopi ketje memilih melakukan efesiensi. Pengaturan shift dengan pengurangan tenaga kerja dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Sebab, sebelumnya tenaga kerja barista dan pelayan satu shift bertugas dua orang. Kini, shift pagi hingga sore dan shift sore hingga malam hanya mempekerjakan satu karyawan.

“Kondisi ini masih cukup menguntungkan bagi saya sebagai barista, sehingga tetap bisa bekerja dan usaha ini tetap eksis,” tegas Alif.

Alif juga menyebut, selain kopi seduh yang bisa dinikmati langsung, di gerai tersebut disediakan kopi bubuk. Lokasi yang berada di dekat lobi ruang tunggu penumpang, membuat lokasi cukup strategis. Sembari menunggu kapal berangkat dari Bakauheni ke Merak dan sebaliknya, pelaku perjalanan bisa menikmati kopi ketje.

Pelaku UMKM di terminal eksekutif lainnya, Suhairul, menyebut permintaan kopi seduh stabil. Menjual kopi Lampung Selatan atau Kolase, ia mengaku masih bisa menjual puluhan cup kopi per hari. Gerai penjualan kopi tersebut merupakan milik Dekranasda Lamsel, yang juga menjual berbagai produk makanan dan kerajinan tangan. Semua jenis produk tersebut disediakan bagi pelaku perjalanan.

“Meski sejumlah pelaku usaha sebagian tutup, namun gerai kopi kolase tetap beroperasi dengan normal,” cetusnya.

Sejumlah produk yang dijual di gerai Dekranasda Lamsel, berasal dari pelaku UMKM di setempat. Berbagai jenis produk makanan sebagai oleh-oleh, masih menjadi pilihan untuk dinikmati saat naik kapal. Sejumlah barang kerajinan topi hanuang bani, kain tapis serta berbagai suvenir juga disediakan. Berbagai produk tersebut sebagian tetap diminati oleh pelaku perjalanan untuk suvenir setelah mengunjungi Lampung.

Sulpakar, Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Lamsel, menyebut produk UMKM masih potensial dipasarkan. Salah satu produk yang saat ini digemari adalah berbagai jenis varian kopi. Peluang usaha tersebut menjadi sumber mata pencaharian bagi sejumlah pelaku usaha yang kreatif. Keberadaan gerai Dekranasda Lamsel, menjadi salah satu tempat untuk menjual produk.

“Pemkab Lamsel tentunya mendorong UMKM tetap berjalan saat pandemi Covid-19, selain penjualan offline bisa juga secara online,” cetusnya.

Darmansyah, Building Manager Dermaga Eksekutif Bakauheni, menyebut sejumlah gerai tetap dibuka. Namun selama masa pandemi Covid-19, gerai yang tutup di antaranya penyedia makanan seblak dan Matahari Department Store. Pelaku usaha yang tetap bertahan didominasi penyedia kuliner makanan dan minuman.

Penurunan jumlah pelaku perjalanan saat pandemi Covid-19 melalui terminal eksekutif Bakauheni, berpengaruh pada pelaku usaha. Dampak bagi pengelola gedung imbas hengkangnya sejumlah gerai, mengurangi pendapatan sewa. Sementara tetap beroperasinya sejumlah gerai dengan penurunan omzet, pihaknya memberikan keringanan biaya sewa.

Lihat juga...