Kemarau di Lamsel, Sejumlah Warga Kesulitan Air Bersih

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kemarau yang masih melanda sebagian wilayah Lampung Selatan (Lamsel) menyulitkan warga memperoleh air bersih.

Hendra, salah satu warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni menyebut, mengandalkan sendang mojang untuk kebutuhan air bersih. Meski memiliki sumur di rumahnya ia menyebut debit air telah menyusut dan tak bisa lagi ditimba.

Selain kemarau Hendra mengatakan, penyusutan air bersih di sumur miliknya dampak dari pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Sebagian sumber mata air dalam yang berada di jalur tol sebutnya, telah tergusur. Imbasnya sebagian sumur warga tidak lagi memasok air yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebelum pembangunan JTTS ia menyebut, aliran sungai kecil sejajar dengan sumur jadi sumber mata air bagi warga. Selain sungai yang telah ditimbun berubah menjadi jalan tol, sebagian pohon peresap air pada area puluhan hektare hilang. Sebagian warga yang memiliki modal cukup dari uang ganti rugi pembebasan tol memilih membuat sumur bor.

“Bagi kami warga yang tinggal jauh dari tol tidak mendapat uang ganti rugi, namun dampak yang sangat terasa pada penurunan debit air bersih pada sumur gali. Untuk membuat sumur bor kami tidak memiliki uang cukup sehingga mencari air ke tempat lain,” terang Hendra, warga Dusun Umbul Becek, saat ditemui Cendana News, Minggu (11/10/2020).

Sendang Mojang sebut Hendra, merupakan salah satu sumber air bersih bagi ratusan warga setempat. Dibuat secara gotong royong sendang mojang dibuat menjadi sumur gali untuk kebutuhan air bersih. Disediakan timba dan warga yang akan menimba harus membawa jeriken, galon dan corong. Sejak pagi hingga sore kala kemarau, warga bergantian menimba air bersih.

Hendra memilih mengambil air di sendang mojang setiap dua hari. Kebutuhan air tersebut dimanfaatkan untuk mandi, mencuci dan memasak. Kebutuhan air bersih untuk minum disediakan olehnya dengan cara membeli air galon isi ulang seharga Rp10.000 ukuran 19 liter. Kemarau yang sudah berlangsung empat bulan membuat ia kesulitan mendapat air bersih.

“Sekarang seusai bekerja di ladang saya bisa bolak-balik lima kali mengambil air bersih, sekalian mandi di sendang mojang,” beber Hendra.

Kesulitan air bersih juga dialami warga Desa Kelawi saat kemarau. Suminah, warga Dusun Pematang Macan menyebut, ia dan warga setempat menggunakan sumur komunal. Memakai alat timba sumur sedalam kurang lebih 20 meter jadi harapan warga kala kemarau. Sulitnya membuat sumur berimbas warga memanfaatkan sumur komunal.

“Sumur yang dibuat sangat membantu karena bisa menolong warga memenuhi kebutuhan air bersih,” cetusnya.

Setiap kemarau, Suminah menyebut, sebagian warga memilih membeli air bersih. Pembelian air bersih dilakukan memakai galon dengan harga Rp10.000 untuk sebanyak tiga galon. Sementara untuk air bersih dalam jumlah banyak dibeli seharga mulai Rp100.000 hingga Rp300.000. Sebagian pedagang air keliling memakai tower isi 1000 liter dan sebagian 5000 liter memakai mobil tangki.

Suminah, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, memanfaatkan sumur komunal yang digunakan warga untuk kebutuhan air bersih selama kemarau, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

Namun, Suminah dan warga lain memilih menimba air. Ia hanya mampu membeli air bersih hanya untuk kebutuhan air minum dengan galon isi ulang. Bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel dan relawan tahun ini sebutnya tidak lagi diberikan. Menimba air bersih jadi pilihan saat ia dan keluarga akan mandi dan mencuci.

Bagi warga Dusun Kayu Tabu, pasokan air bersih masih bisa diperoleh dari mata air hutan larangan. Sahbana, salah satu warga setempat menyebut, memanfaatkan selang warga untuk menyalurkan air bersih ke rumah masing-masing. Sebagian memilih memanfaatkan bendungan kecil yang menjadi penampung air di sungai dari aliran hutan larangan.

“Selama pohon usia puluhan hingga ratusan tahun dipertahankan, air bersih tetap akan mengalir meski saat kemarau debit air menyusut,” cetusnya.

Kendala sulitnya air bersih kala kemarau diakui Sahbana imbas perbukitan yang telah diubah menjadi lahan pertanian. Berubahnya pola tanam dari tanaman kayu keras menjadi tanaman semusim jenis jagung dan pisang menjadi penyebab hilangnya sumber air.

Meski telah dilakukan pembuatan sumur bor dengan kedalaman 100 meter lebih, sumber air tak diperoleh sehingga warga masih tetap berjuang untuk mendapatkan akses air bersih.

Lihat juga...