Kemarau jadi Kendala Suplai Bahan Baku Kuliner Tradisional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sektor usaha kuliner dengan penggunaan bahan baku hasil pertanian mengalami kendala saat kemarau.

Sumini, salah satu produsen makanan ringan tradisional jenis keripik pisang, marning jagung, keripik singkong, mengakui suplai atau pasokan bahan baku terbatas. Warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan itu memilih mengurangi produksi.

Sumini, salah satu pemilik usaha pembuatan kuliner tradisional di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan melakukan proses pengemasan olahan berbahan jagung dan singkong, Sabtu (10/10/2020) – Foto: Henk Widi

Sumini mengatakan, tetap memproduksi kuliner tradisional untuk memasok sejumlah warung. Semua jenis makanan ringan tersebut dominan menggunakan bahan baku hasil pertanian.

Selama kemarau sejumlah bahan baku sebutnya, lebih sulit diperoleh dalam jumlah banyak. Meski demikian sebagian bahan baku bisa diperoleh dari wilayah kecamatan setempat.

Pada kondisi normal ia bisa mengolah sebanyak 2 kuintal singkong dan sekitar 2 kuintal pisang. Kini ia memilih mengurangi produksi dengan hanya sebanyak 1 kuintal singkong dan 1 kuintal pisang untuk kuliner olahan yang ditekuninya. Selain itu masa pandemi Covid-19 berdampak sejumlah sekolah tidak beraktivitas membuat permintaan warung berkurang.

“Permintaan paling banyak hasil olahan kuliner yang saya buat dari sejumlah warung dekat sekolah, karena Covid-19 sudah lebih dari lima bulan sekolah tutup. Jadi disetorkan ke warung dan pasar tradisional serta pusat oleh-oleh di pelabuhan Bakauheni,” terang Sumini saat ditemui Cendana News di rumahnya, Sabtu (10/10/2020).

Sumini menyebut, pasokan bahan baku yang berkurang dan permintaan turun tidak langsung berdampak signifikan pada produksi. Ia tetap melakukan pengolahan kuliner tradisional yang masih disukai oleh sebagian masyarakat. Selain itu ia masih mendapat permintaan olahan makanan tradisional untuk disetor kepada pemilik usaha penjualan oleh-oleh.

Jenis produk makanan yang dipesan oleh pedagang oleh-oleh dominan keripik pisang, singkong. Kedua jenis olahan tersebut dijual dalam bentuk sudah matang dan akan dikemas oleh pedagang oleh-oleh. Selama ini Sumini masih menggunakan kemasan plastik bening dengan hanya menyertakan nama dan alamat produsen.

“Usaha makanan tradisional yang saya buat masih skala rumah tangga sehingga tetap harus menyertakan izin usaha rumah tangga,” cetusnya.

Berkurangnya pasokan bahan baku sebutnya, jadi kendala memproduksi dalam jumlah banyak. Namun kondisi pandemi berbanding lurus dengan permintaan yang tidak naik signifikan. Meski tetap ada permintaan namun jumlahnya tidak sebanyak sebelum masa pandemi. Saat musim hajatan pernikahan ia menyebut permintaan akan dipenuhi untuk hidangan tamu.

Produsen makanan tradisional lain, Veronica Sundari, di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, tetap berproduksi. Ia mendapat pasokan bahan baku dari petani meski terkendala kualitas bahan baku kerap tidak sesuai.

Veronica Sundari, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, salah satu pemilik usaha mikro olahan makanan ringan memanfaatkan bahan baku hasil pertanian singkong dan pisang mengurangi produksi imbas pasokan bahan mentah berkurang, Sabtu (10/10/2020) – Foto: Henk Widi

Saat kemarau ia menyebut, kualitas buah pisang dan singkong lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Jenis pisang raja nangka, kepok dan tanduk bahan keripik, jadi bahan baku baginya.

“Kendalanya pada bahan baku yang disediakan terbatas dan ukurannya lebih kecil, namun tetap dibuat untuk memenuhi permintaan pelanggan,” cetusnya.

Permintaan keripik singkong dan pisang sebutnya, dominan berasal dari pedagang oleh-oleh di Kalianda. Kerjasama dengan pedagang oleh-oleh sebutnya jadi cara agar produksi tetap dilakukan. Sebab ia telah memiliki pelanggan tetap yang pasti membeli produknya. Meski produksi berkurang imbas bahan baku, ia tetap eksis menekuni usaha makanan tradisional.

Makanan tradisional hasil produksi pelaku usaha mikro di Lamsel sebagian dijual sebagai oleh-oleh. Restia Weni, petugas di gerai Dekranasda Lamsel menyebut, sejumlah pelaku kuliner tradisional yang dikemas dan awet diberi kesempatan menitipkan produk yang dihasilkan. Sebagian produk merupakan hasil binaan Dekranasda Lamsel.

“Sebagian barang yang dijual akan selalu diganti dengan yang baru, sebagian tidak ada stok imbas bahan baku berkurang,” cetusnya.

Pasokan bahan baku sebutnya, kerap menjadi kendala kosongnya produk makanan tertentu. Ia mencontohkan jenis kopi bubuk yang tersedia merupakan hasil panen petani musim sebelumnya. Sebagian produk yang dijual merupakan produk makanan yang tidak terkendala musim sehingga selalu tersedia.

Namun jumlah pelaku perjalanan yang berkurang selama pandemi, ikut mempengaruhi hasil penjualan produk kuliner. Pada kondisi normal dalam sepekan ratusan produk makanan ringan jenis keripik, kopi bubuk, selai laku terjual. Selama pandemi, gerai di lantai dua terminal eksekutif Bakauheni itu hanya menjual puluhan produk makanan kemasan.

Lihat juga...