Kenakan Batik Cara Menjaga Warisan Tradisi Leluhur

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Hanung Widi Nugroho, pendamping desa di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan menyukai batik tulis asal Yogyakarta untuk pakaian resmi salah satunya kegiatan Musrembangdes di Desa Sripendowo, Jumat (1/10/2020). Foto: Henk Widi

LAMPUNG — Hanung Widi Nugroho, salah satu pemuda di Desa Gandri, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan tidak lupa 2 Oktober dirayakan sebagai hari batik nasional. Ia merasa bangga dapat mengenakkan salah satu warisan leluhur di saat momen penting. Bahkan saat ini ia memiliki sebanyak 20 stel pakaian batik.

Batik baginya menjadi tradisi warisan leluhur. Memiliki ayah dan kakek asal Bantul, Yogyakarta membuat batik akrab dengan kehidupannya. Memberi dan diberi suvenir bahan kain batik menjadi salah satu bentuk penghargaan.

Dikatakan, tren penggunaan batik sebutnya semakin disukai generasi muda terlebih setelah batik jadi warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

“Karena batik dikenal dunia sebagai warisan budaya maka sebagai generasi muda ikut bangga, apalagi saat ini marketplace memudahkan saya bisa membeli batik sesuai ukuran dan warna yang saya sukai dan membelinya secara online,” terang Hanung Widi Nugroho saat ditemui Cendana News di balai desa Sri Pendowo, Kecamatan Ketapang (2/10/2020)

Sebelumnya Hanung dan umumnya pemuda mengaku mindset memakai batik hanya bagi orang tua. Seiring perkembangan zaman ia mulai menyukai batik sekaligus sebagai identitas.

Gengsi memakai batik sebutnya semakin meningkat dengan variasi warna, corak tulis yang unik dipadukan dengan setelan celana panjang dan sepatu. Percaya dirinya bertambah saat memakai batik.

“Bagi saya pribadi batik memiliki nilai historis dan juga sejarah bagi keluarga, sebab sejak kecil akrab dengan pakaian batik,” cetusnya.

Kini batik telah dimodifikasi dalam sejumlah pakaian seragam kedinasan. Namun variasi dan kombinasi telah dilakukan agar batik yang dikenakan sesuai dengan warna kulit dan kebutuhan. Pakaian batik yang dikenakan dominan lengan pendek karena lebih praktis.

Dona Prima Lusia yang bertugas sebagai pendamping desa mengaku memilih batik cetak. Jenis bahan batik yang menyerap keringat dan dingin sebutnya sangat cocok saat musim kemarau.

Warga Desa Sri Pendowo itu menuturkan sebelum ditetapkan sebagai hari batik, ia telah terbiasa memakainya. Saat kondangan, acara keluarga batik jadi pakaian yang fleksibel.

“Bahan batik bisa dibuat sesuai dengan model untuk acara resmi dan santai sehingga fleksibel,” terangnya.

Batik sebutnya erat hubungannya dengan budaya dan tradisi keluarganya. Jenis kain jarik batik kerap jadi buah tangan, suvenir yang harus diberikan kepada orang yang dituakan. Sebelum menikah ia memberikan kain batik untuk sang nenek dan kakek. Demikian juga saat memiliki anak kecil kain batik kerap diberikan kepada orangtua sebagai tanda berbakti.

Memiliki nilai sejarah dan budaya, bahan batik digunakan sebagai seragam dinas bagi aparatur desa. Chandra Irawan, kepala Desa Sri Pendowo, Kecamatan Ketapang menyebut menjadwalkan seragam batik sepekan sekali. Seragam dikenakan oleh aparatur desa saat bertugas. Cara tersebut bertujuan melestarikan batik.

“Jenis kain batik saat ini banyak yang memiliki ciri khas Lampung dalam bentuk tapis sehingg lebih variatif,” bebernya.

Lihat juga...