Kethak si Bola-bola Coklat nan Gurih Legit

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Pernah mendengar atau mencicipi camilan tradisional bernama Kethak? Jika ya, berarti anda termasuk orang yang beruntung. Sebab, saat ini sudah semakin jarang ditemui.

Makanan tradisional yang berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya ini, memang sudah semakin langka karena tidak banyak diproduksi. Biasanya makanan jadul ini hanya dijual di pasar-pasar tradisional saja.

Terbuat dari bahan utama perasan ampas kelapa, Kethak biasa disajikan dalam dua rupa bentuk. Selain kerap dibungkus daun pisang kering menyerupai lemper, Kethak juga biasa disajikan dalam bentuk bulat-bulatan kecil seukuran bakso.

Berwarna coklat tua, dengan tekstur lunak mudah hancur, Kethak memiliki cita rasa yang khas, yakni gurih serta manis legit. Rasa gurih Kethak berasal dari parutan kelapa, sementara rasa manis legit berasal dari campuran gula merah/gula Jawa.

Salah seorang, penjual Kethak, Sumi, asal Galur Kulonprogo Yogyakarta, menyebut Kethak awalnya dibuat untuk memanfaatkan limbah atau residu proses pembuatan minyak kelapa berupa perasan parutan kelapa yang biasa disebut ampas bungkil atau blondo.

Menurut Sumi, ada proses yang menarik dalam pembuatan Kethak. Dimana parutan kelapa ini harus diperas dengan cara tradisional yakni diinjak-injak agar mengeluarkan seluruh cairannya.

“Proses pembuatannya sederhana, perasan kelapa tinggal dimasak dengan cara digoreng sangrai. Selama proses penggorengan ampas kelapa harus terus diaduk agar tidak gosong. Tambahkan gula merah sambil terus diaduk hingga berwarna kecoklatan,” katanya.

Setelah matang, adonan tadi tinggal dibentuk menyerupai bulatan-bulatan kecil seukuran bakso. Tunggu sampai dingin lalu bungkus dengan plastik, dan Kethak pun siap disajikan.

“Saat ini saya biasa menjual satu bulatan ketak seharga Rp1000. Cukup mahal karena memang untuk mendapatkan bahan bakunya susah. Karena memang yang memproduksi minyak kelapa juga sudah semakin jarang,” katanya.

Lihat juga...