KLHK Dorong Perluasan Ekosistem Mangrove di Lampung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) lakukan padat karya mangrove di wilayah Lampung. Upaya itu menjadi bagian perluasan ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai.

Idi Bantara,M.Sc, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) menyebut ada 500 hektare kawasan pesisir Lampung yang ditanami. Perluasan menjadi bagian menahan laju abrasi.

“KLHK menyiapkan 15.000 hektare untuk ditanami mangrove pada 34 provinsi dan Lampung mendapat alokasi 500 hektare, karena potensi wilayah pantai yang cukup luas,” terang Idi Bantara saat dikonfirmasi Cendana News di pantai Sumber Nadi, Kamis (1/10/2020).

Idi Bantara menyebutkan, padat karya mangrove dikhususkan pada wilayah yang memiliki potensi. Sebab berdasarkan survei sejumlah wilayah tidak cocok untuk vegetasi tanaman pantai tersebut. Penanaman yang dilakukan meliputi pola intensif dengan 3.300 tanaman per hektare, pola rumpun dengan 5000 tanaman perhektare, pola monokultur murni dengan jumlah tanaman 10.000 perhektare.

Program padat karya mangrove tersebut menerapkan transparansi. Selain melalui rekening kelompok atau desa, untuk pembayaran bibit dan kebutuhan lain, upah dibayarkan langsung ke rekening pekerja. Pekerja yang diprioritaskan warga desa setempat akan dihitung berdasarkan hari orang kerja (HOK). Ditargetkan padat karya bisa melibatkan sekitar 67 HOK.

“Kita terapkan sistem pembayaran langsung ke rekening pekerja sehingga tepat sasaran dan membantu ekonomi masyarakat di sekitar kawasan mangrove,” tegas Idi Bantara.

Di Lamsel, mantan Kepala Persemaian Permanen Karangsari itu menyebut ada sejumlah desa terpilih. Pilihan di Desa Sumbernadi, Pematang Pasir dan sejumlah desa di Lampung Timur setelah dilakukan survei. Pada wilayah pantai Desa Sumber Nadi kawasan seluas 59 hektare akan dihijaukan dengan tanaman mangrove pada area pasang surut.

Perkembangan ke depan, setelah program berjalan, potensi penyiapan bibit mangrove bisa dilakukan. Pada wilayah pantai Desa Sumber Nadi potensi tanaman yang dominan meliputi bakau bakau, api api.

“Tujuan lanjutan program perluasan ekosistem mangrove akan berpotensi untuk pariwisata, peningkatan ekonomi dan kelestarian ekosistem dan cegah abrasi,” cetus pria inovatif tersebut.

Kepala Desa Sumber Nadi, I Ketut Sinde Atmita menyebut menyambut positif program padat karya mangrove. Selama ini kawasan mangrove merupakan bentukan suksesi alam.

Sepanjang perbatasan dengan Desa Pematang Pasir, Desa Ketapang luasan mangrove mencapai lebih dari 59 hektare. Proses pengendapan lumpur dan tumbuhnya vegetasi mangrove jadi benteng alami.

“Selama ini pemdes telah membuat Peraturan Desa agar tidak ada penebangan perusakan mangrove dengan sanksi denda Rp500 ribu bagi yang menebang tanaman mangrove,” tegasnya.

Melalui program padat karya mangrove pola rumpun sebanyak 5000 tanaman akan menambah vegetasi yang telah ada. Penciptaan lapangan kerja sekaligus membantu warga agar mendapat penghasilan dari padat karya.

Lihat juga...