Komunitas Keroyokan Sedekah Sediakan Angkringan Gratis Selama Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Berlokasi di kawasan sebelah utara kampus ISI Yogyakarta, Sewon, Bantul, sebuah rumah sederhana milik Joko Taruno, nampak tak pernah sepi aktivitas. Tempat ini nampak hampir selalu ramai oleh orang-orang yang berkegiatan, terlebih saat hari Jumat tiba.

Sejak pagi, orang-orang di tempat ini akan terlihat sibuk memasak dan mengolah bermacam makanan, membungkusnya, lalu menyiapkannya untuk dibagikan secara gratis pada masyarakat. Dua buah gerobak angkringan memang telah disiapkan untuk kegiatan sosial tersebut. Kegiatan ini biasa disebut gerakan Angkringan Gratis.

“Di masa pandemi ini, banyak masyarakat kecil terdampak secara ekonomi. Baik karena penghasilannya menurun, di-PHK, atau tak bisa bekerja. Karena itu kita menyiapkan makanan gratis bagi mereka. Siapa saja boleh menikmatinya, khususnya mereka yang memang membutuhkan,” ujar Joko Taruno kepada Cendana News, belum lama ini.

Joko Taruno yang merupakan penggagas komunitas Keroyokan Sedekah, sebuah komunitas sosial yang bergerak untuk membantu masyarakat di sekitar wilayah Bantul dan Yogyakarta, Kamis (22/10/2020) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Joko Taruno merupakan penggagas komunitas Keroyokan Sedekah. Sebuah komunitas sosial yang bergerak untuk membantu masyarakat di sekitar wilayah Bantul dan Yogyakarta.

Komunitas ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti menyiapkan makanan gratis pada masyarakat selama pandemi Covid-19 lewat gerakan Angkringan Gratis, menyiapkan makanan gratis di masjid-masjid setiap hari Jumat yang biasa disebut gerakan Jumat Berkah, kegiatan sahur gratis, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya.

“Saya mulai melakukan kegiatan semacam ini sejak beberapa tahun silam. Awalnya saat itu saya masih jadi mahasiswa ISI Yogyakarta. Saat hendak sahur di bulan Ramadan, saya tidak punya uang, sehingga hanya bisa minum air kran. Hari berikutnya saya pergi ke tempat pembagian makan sahur gratis. Tapi sampai di sana ternyata semua makanan sudah habis. Dari situlah saya berangan-angan kelak bisa membuat kegiatan serupa dengan jumlah lebih banyak. Agar orang-orang yang membutuhkan seperti saya kala itu tidak merasa kesusahan,” kata lelaki asal Jakarta itu.

Berawal dari angan-angan mulia itulah Joko lantas memulai membangun komunitas sosialnya. Kegiatan sosial pertama yang dilakukannya adalah memberikan uluran bantuan kepada para guru mengaji di kampung-kampung. Ia merasa perlu membantu mereka karena mengetahui mereka hanya mendapatkan gaji atau upah yang sangat minim.

“Saya mengajak teman-teman untuk melakukan donasi. Lalu memberikan bantuan dalam bentuk makanan pada mereka. Berapa pun yang didominasikan kita terima. Tidak harus uang, tapi bisa juga tenaga,” katanya.

Dari situlah awal mula komunitas Keroyokan Sedekah muncul. Bagi Joko sedekah bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak harus orang kaya, namun orang biasa pun bisa melakukannya. Jika tidak bisa membantu dalam jumlah besar, bisa dalam jumlah kecil. Jika tidak bisa membantu dalam bentuk materi, bisa membantu dalam bentuk pikiran atau pun tenaga.

“Itulah kenapa kita namakan Keroyokan Sedekah, karena dilakukan beramai-ramai dan bersama-sama oleh banyak orang. Walaupun bantuan hanya dalam jumlah yang sedikit-sedikit, namun jika dilakukan oleh banyak orang bersama-sama kan akan bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi tak perlu malu bersedekah sesuai kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, Joko bersama komunitasnya juga mulai membuat gerakan untuk menyiapkan makanan gratis di sejumlah masjid wilayah Bantul dan Yogyakarta. Khususnya saat penyelenggaraan salat Jumat tiba. Mereka mengumpulkan donasi, kemudian membelikan hasilnya dalam bentuk bahan makanan untuk kemudian diolah bersama-sama.

Siapa saja juga boleh membantu atau mendonasikan dalam bentuk apa pun, baik itu sembako atau bahan makanan, mendonasikan makanan langsung, bahkan juga sekedar membantu dalam bentuk tenaga untuk ikut memasak atau membagi dan menyalurkan makanan ke masjid-masjid.

Sampai saat ini tercatat sudah ada 33 masjid yang menerima bantuan gerakan Jumat Berkah ini. Yakni dengan menghabiskan 150 porsi nasi serta 700 bungkus snack setiap minggunya.

“Bahkan saat ini sudah banyak masjid yang secara mandiri menyiapkan makanan gratis seperti ini. Makanan itu berasal dari sedekah warga masyarakat sekitar masjid itu sendiri,” katanya yang mengaku terinspirasi melakukan gerakan Jumat Berkah ini setelah menemui hal serupa di Masjid Jogokaryan.

Kini komunitas Keroyokan Sedekah yang diinisiasi Joko telah semakin berkembang. Semakin banyak masyarakat yang turut bergabung untuk bersedekah dan membantu sesama, khususnya yang membutuhkan. Terlebih setelah komunitas ini memanfaatkan platform digital seperti media sosial untuk menggalang bantuan atau donasi.

Dengan semakin banyaknya anggota maupun donatur, komunitas ini pun juga semakin banyak membuat kegiatan sosial di berbagai lini kehidupan. Mulai dari membantu masyarakat korban bencana di sejumlah daerah di Indonesia, mendirikan TPA di daerah terpencil, bedah rumah masyarakat miskin, dan berbagai kegiatan sosial kemanusiaan lainnya.

“Kita juga memiliki gerakan Nyewu Mbendino. Yakni menyisihkan uang seribu setiap hari untuk donasi. Lalu ada Ahad Bazar yakni wadah donasi bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan barang layak pakai. Hingga gerakan Rabu Jualan yakni wadah bagi masyarakat untuk mempromosikan unit usaha masing-masing, dan saling bertukar dagangan serta membeli satu sama lain,” katanya.

Melalui semua kegiatan sosial yang dijalankannya itu, Joko hanya berharap saat ia meninggal nanti, ia telah memiliki ladang amal yang bisa menjadi pegangan untuk menjalani kehidupannya di akhirat kelak.

Lihat juga...