KRA VII, Akuntan Bahas Pembaruan Pembelajaran Akuntansi

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Di era revolusi industri 4.0, banyak profesi yang terdisrupsi, tidak terkecuali akuntan, dimana mereka dituntut menghadirkan inovasi di dalam proses pembelajaran maupun praktik akuntansi.

Hal ini yang kemudian mendasari Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KAPd) kembali menggelar Konferensi Regional Akuntansi (KRA) VII Tahun 2020 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM).

Mengusung tema ‘Inovasi dalam Pembelajaran dan Praktik Akuntansi untuk Peningkatan Kompetensi Akuntan Menyongsong Indonesia Emas 2045’ kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 1000 peserta secara online.

Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Komisariat Malang Raya Dr. Puji Handayani, SE, MSi, Ak, menjelaskan, KRA merupakan wadah bagi para akademisi dan praktisi untuk melakukan dan mendiskusikan kajian-kajian empiris maupun praktis di ranah disiplin ilmu akuntansi.

“Kajian ini penting dilakukan guna menjaga ketersambungan antara dunia akademisi dan profesi dengan praktik dan isu-isu terkini di bidang akuntansi yang muncul dan berkembang di era revolusi industri 4.0,” jelasnya kepada awak media di Aula Lantai 9 Graha Rektorat UM, Selasa (20/10/2020).

Terlebih melihat kemajuan dari Fintech (Financial Technology) yang saat ini sudah sangat mengubah proses dari pelaporan maupun pencatatan di keuangan perusahaan maupun instansi.

Menurutnya, pendidikan akuntansi saat ini bukan hanya tentang akumulasi pengetahuan. Tetapi juga bagaimana menjaga kekuatan semangat, melindungi komitmen dan  keinginan untuk tidak pernah berhenti belajar.

“Dosen dan guru tidak boleh terikat oleh norma dan tradisi masa lalu, sebaliknya mereka harus terbuka terhadap ide-ide baru,” ucapnya.

Mereka juga harus bisa mengembangkan upaya pembaruan di bidang pembelajaran pada arah yang konsisten, akseleratif dan bersifat sinergis.

“Pembelajaran akuntansi saat ini harus interaktif, inovatif, kooperatif dan kolaboratif,” tandasnya.

Sementara itu ketua pelaksana KRA VII, Dr. Satia Nur Maharani, SE., MSA., Ak., CA, menyebutkan, selama ini KRA lebih banyak ke arah dunia praktisi dan kepada pembahasan akuntansi secara teknis, tetapi sangat jarang berbicara tentang pendidikan.

Oleh sebab itu dalam penyelenggaraan KRA VII di UM, dicoba untuk memadukan antara pembahasan tentang teknis dengan pembahasan tentang pendidikan.

“Jadi ada beberapa pembicara yang memang beliau ahli terhadap aspek teknis tetapi juga ada yang ahli dalam pendidikan. Sebab jika kita ingin mencetak praktisi itu tidak akan bisa sukses jika tidak ada model pembelajaran yang efektif,” ujarnya.

Ia berharap, semoga dengan adanya KRA VII ini bisa memberikan pengembangan wawasan terkait dengan pembelajaran dan praktik akuntansi di tengah revolusi industri untuk menciptakan SDM unggul menuju Indonesia emas 2045.

Lihat juga...