Kreativitas Anak Lamsel Terbangkan Layang-layang Malam Hari

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Suara dengungan sendaren berpadu dengan lampu warna-warni terlihat di langit malam area persawahan. Lokasi sawah jati di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) ramai sejak sebulan lalu. Musim layang-layang, demikian sebut Fadil, salah satu anak yang menerbangkan layang-layang kala malam hari.

Bermain layangan, demikian permainan itu biasa disebut, membuat Fadil harus lebih kreatif. Sebab layangan tidak akan terlihat dan menjadi perhatian jika tanpa lampu dan suara. Membuat layang-layang atau layangan yang diterbangkan saat siang hari, jadi hal biasa bagi anak-anak setempat. Musim kemarau yang panas jadi faktor anak-anak beralih malam hari.

Fadil (kiri) dan teman sebaya menunggu layangan yang masih terbang di lahan sawah Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, jenis layangan bapangan dikreasikan dengan sendaren, Minggu malam (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

Fadil menyebut, sejak sistem belajar online ia memilih mengisi waktu luang dengan bermain layangan. Layangan miliknya memiliki bentang sayap sepanjang dua meter. Sayap atau tandan yang dibuat diberi nama selero, sebagian menyesuaikan bentuk kupu-kupu, pesawat dan burung. Di situlah kreasi lanjutan akan dilakukan pada layangan yang telah dibuat.

“Proses latihan terbang dilakukan siang hari untuk mengecek tingkat kestabilan sayap, diberi beban sendaren dan lampu warna-warni total ada sekitar belasan lampu LED dengan baterai dari bekas baterai korek api,” terang Fadil saat ditemui Cendana News, Minggu malam (11/10/2020).

Musim layangan sebutnya, ada sekitar puluhan layangan berbagai bentuk diterbangkan. Jalan desa yang berada di tengah sawah jadi lokasi untuk menerbangkan layangan. Ia memakai jenis tambang khusus untuk menerbangkannya. Butuh tenaga dua hingga tiga orang untuk memegang (memetek) layangan.

Kreativitas menambah sendaren pada bagian ekor dan kepala layangan sebut Fadil, butuh pengukuran tepat. Sendaren yang digunakan kerap dibuat dari bekas pita kaset yang telah rusak. Ia juga menggunakan plastik rafia agar sendaren berbentuk busur panah bisa berbunyi. Selain berbunyi sendaren memiliki fungsi sebagai penyeimbang layangan saat diterbangkan.

“Layangan yang diterbangkan akan seimbang dengan tambahan sendaren dan ekor sehingga terbang dengan stabil,” cetus Fadil.

Salah satu rekan sebaya bernama Angki mengaku, membuat layangan bapangan selero. Istilah itu sebutnya mengacu pada bentuk layangan yang kerap dipertandingkan. Kreativitas lanjutan diberikan dengan pembuatan sendaren dan pemberian lampu. Lampu akan menyala terang jika baterai dalam kapasitas penuh.

“Biasanya menggunakan baterai jam dinding atau baterai jam tangan, kini bisa memakai baterai korek,” bebernya.

Proses menerbangkan layangan saat malam hari kerap butuh kesabaran. Sebab selain gelap dengan cahaya lampu senter layangan harus mengikuti arah angin. Angin laut yang berhembus ke darat sebutnya, kerap mengarah ke arah barat tepat arah Gunung Rajabasa. Puluhan anak-anak yang tidak memiliki layangan akan menonton dan kerap membantu proses penerbangan.

Layangan bapangan sebut Angki, kerap akan dipanjer atau dibiarkan terbang. Tali tambang akan diikat pada pohon atau tanaman lain dan dibiarkan hingga pagi. Namun jenis layangan ukuran kecil yang dibiarkan terbang semalaman dengan lampu warna-warni. Layangan ukuran besar akan diturunkan untuk diterbangkan keesokan harinya.

“Waktu bermain menerbangkan layangan butuh waktu tiga jam lalu akan diturunkan,” cetusnya.

Joni, salah satu anak yang menyiapkan layangan sejak siang mengaku, butuh ukuran tepat agar seimbang. Layangan kerap enggan terbang karena beban sendaren dan lampu.

Joni, salah satu anak menyiapkan layangan bapangan dengan tandan kupu-kupu untuk diterbangkan saat malam hari, Minggu (11/10/2020) – Foto: Henk Widi

Pemilihan bambu tali yang ringan jadi kunci untuk membuat layangan bisa melawan angin. Proses melawan angin sebutnya menjadi peluang layangan bisa terbang.

Pemberian sendaren dan lampu pada layangan akan membuat layangan miliknya dipuji. Ia menyiapkan enam lampu kecil sehingga masih terlihat saat diterbangkan puluhan meter.

Layangan akan bisa terbang saat angin kencang sehingga tetap stabil saat sudah mengudara. Suara sendaren dan lampu jadi pemandangan dan hiburan anak-anak pedesaan kala malam. Kerap orangtua ikut menemani bermain layangan miliknya.

Lihat juga...