Kualitas Benih, Kunci Sukses Pertanian Organik

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Pertanian organik kini kian diminati, seiring peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat akan pentingnya konsumsi bahan pangan sehat. Terlebih di saat pandemi Covid-19, banyak orang yang memilih menggeluti pertanian organik sebagai bentuk ketahanan pangan keluarga.

“Namun, ternyata tidak mudah untuk memulai pertanian organik, bibit yang saya tanam banyak yang mati. Kalau pun tumbuh, pertumbuhannya tidak bagus. Terlihat kerdil dan tidak rimbun,” papar Ika Upaya, peserta pelatihan budi daya sayur organik yang digelar Dinas Pertanian Kota Semarang, di Semarang, Senin (26/10/2020).

Sementara peserta pelatihan lainnya, Zubaidah, menanyakan  tentang penggunaan air hujan sebagai sarana untuk penyiraman tanaman organik.

Pemateri pelatihan dari Sekolah Berkebun Ceria (SBC) Semarang, Muslih, saat memberikan materi praktik, dalam pelatihan budi daya sayur organik di Semarang, Senin (26/10/2020). -Foto: Arixc Ardana

“Sebenarnya boleh atau tidak? Air hujan digunakan untuk menyiram tanaman. Soalnya, daripada menggunakan air sumur, saya memanfaatkan air hujan,” paparnya.

Mendapat pertanyaan tersebut, pemateri pelatihan dari Sekolah Berkebun Ceria (SBC) Semarang, Muslih, menuturkan pada dasarnya dalam pertanian organik, pemilihan benih yang berkualitas menjadi kunci keberhasilan.

“Misalnya, kita ingin menanam cabai merah. Pilih cabai yang bentuknya bagus, warnanya merah tua. Kemudian belah dan ambil bijinya di bagian tengah. Setelah itu, biji cabai dijemur. Nantinya setelah betul-betul kering, rendam biji yang sudah dijemur di dalam wadah. Biji yang tenggelam, menandakan kualitasnya bagus,” paparnya.

Muslih menambahkan, pemilihan benih yang baik, berasal dari induk atau buah yang sehat dan tua. Selain itu, pilih benih yang ukuran normal dan tidak cacat, serta dilakukan sortir benih. Penggunaan media tanam sebagai tempat tumbuhnya tanaman, juga berpengaruh.

“Gunakan media yang baik. Kriterianya harus gembur, memiliki porositas baik, kemudian menyediakan unsur hara yang cukup dan tidak mengandung bibit penyakit,” lanjutnya.

Untuk membuat media tanam yang baik, komposisi yang diperlukan berupa tanah humus, pupuk dan sekam bakar, dengan perbandingan 2 : 1 : 1.

“Sementara untuk media semai, digunakan tanah humus dan pupuk yang telah diayak,” tandasnya.

Diungkapkan, bibit siap pindah tanam jika sudah memiliki empat helai daun, berumur dua minggu untuk sayur daun dan 20 hari – 30 hari untuk sayur buah. Selain itu, batang kokoh dan tidak terkena penyakit.

Kepala UPTD Kebun Dinas Dispertan Kota Semarang, Juli Kurniawan, menambahkan saat ini pertanian organik kian digemari masyarakat.

“Hal tersebut karena hasil pertanian organik lebih sehat. Selain itu juga menjaga dan meningkatkan kualitas tanah, sekaligus permintaan sayuran organik ini relatif tinggi,” tambahnya.

Lihat juga...