Lampung Fokus Pengembangan Komoditas Gaharu dan Damar

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mendorong kesejahteraan petani hutan Lampung melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu. Yakni gaharu dan damar.

Idi Bantara, M.Sc, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung mengatakan dua komoditas yang dikembangkan sekaligus dilestarikan di Lampung berupa gaharu dan damar.

Idi Bantara, M.Sc, Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung Lampung saat melakukan pemantauan tanaman gaharu dan damar di Lampung Selatan, Rabu (7/10/2020). -Foto Henk Widi

Gaharu (Aquailaria malaccensis) dan damar (Agathis dammara) jadi hasil hutan produktif sebagian petani hutan. Dua jenis komoditas tersebut tumbuh subur di sejumlah hutan produksi, hutan kemasyarakatan dan hutan lindung.

Idi Bantara menyebutkan, gaharu dan damar merupakan komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK). Kedua jenis HHBK tersebut masuk dalam Peraturan Menteri Kehutanan No.P.19/Menhut-II/2009 tentang strategi pengembangan HHBK nasional. Selain itu gaharu dan damar sebagai tanaman bernilai tinggi bisa digunakan sebagai bahan parfum, obat obatan dan dupa.

“Peran petani hutan sebagai ujung tombak pelestarian tanaman gaharu dan damar perlu didukung,KLHK melalui BPDASHL yang concern pada kawasan hutan lindung ikut menjaga kelestarian dengan penyiapan bibit sekaligus mendorong petani di dekat kawasan hutan tidak melakukan perusakan,penebangan tanaman,” tegas Idi Bantara saat dikonfirmasi Cendana News di Lampung Selatan, Rabu (7/10/2020).

Terobosan pengelolaan kawasan hutan lindung, hutan kemasyarakatan, hutan produksi dilakukan untuk kesejahteraan petani. Lokasi tanaman damar terbanyak saat ini sebut Idi Bantara ada di wilayah Lampung Barat, Pesisir Barat, Lampung Selatan. Sebagian berada di kabupaten Pesawaran, Tanggamus dan Pringsewu. Jenis tanaman menahun yang masih dipertahankan dimanfaatkan warga untuk sumber penghasilan.

Terobosan bagi sektor kewirausahaan sebut Idi Bantara telah dilakukan dengan pendampingan pada petani. Berkoordinasi dengan instansi terkait hasil panen getah damar dan gubal gaharu ditampung oleh kelompok tani. Langkah tersebut menghindari adanya tengkulak dan spekulan yang mempermainkan harga.

“Produk damar dan gaharu dominan diminati pasar luar negeri atau ekspor, gubal gaharu dan damar harus bisa memberi kesejahteraan petani hutan,” cetusnya.

Tanaman gaharu milik petani di Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur yang digunakan untuk investasi jangka panjang, Rabu (7/10/20200. -Foto Henk Widi

Tingginya permintaan gubal gaharu sebut Idi Bantara mencapai 400 ton per tahun di Indonesia. Harga menyesuaikan syarat dari aroma, bentuk dan warna pasca inokulasi. Di level tengkulak harga gaharu mencapai Rp800.000 hingga Rp1juta per kilogram. Sementara bagi eksportir ke negara Dubai dan Qatar harga jual mencapai Rp10juta hingga Rp15juta per kilogram. Pasar langsung pada konsumen jadi kendala bagi petani.

Jenis damar di level petani dijual Rp11.000 jenis damar batu, Rp14.000 jenis damar hitam, Rp20.000 jenis damar mata kucing. Komoditas HHBK tersebut sebagian berada di hutan lindung sehingga petani hanya memiliki hak untuk mengambil hasil. Meski demikian petani hutan perlu difasilitasi dengan pembentukan kelompok tani hutan (KTH) agar bisa meningkatkan daya saing dan nilai jual produk.

“Sebagian petani hutan telah difasilitasi dengan permodalan,pembuatan kebun bibit rakyat untuk peremajaan tanaman gaharu dan damar,” cetusnya.

Pada komoditas gaharu,KLHK melalui BPDASHL terang Idi Bantara memberi fasilitas pembuatan gubal gaharu. Memakai tekhnik bioserum untuk inokulasi sistematis dilakukan pada lahan petani penanam gaharu. Wilayah binaan ada di Merbau Mataram,Padan Lampung Selatan dan Pekalongan Lampung Timur.

Kedua jenis tanaman HHBK ungkap Idi Bantara memiliki potensi yang cukup dalam beberapa fungsi. Sebagai fungsi sosial  budaya dan ekonomi serta ekologis tanaman damar dan gaharu dirasakan manfaatnya. Sebagai tanaman tegakan untuk pelindung tanaman lain gaharu dan damar menjadi penahan mata air dan menjaga lingkungan.

“Petani hutan didorong membuat model usaha hutan rakyat berbasis damar dan gaharu yang ramah lingkungan,”beber Idi Bantara.

Sapari, salah satu petani gaharu di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menanam gaharu lima tahun silam. Pola tanam yang diterapkan diantaranya tumpang sari dengan tanaman lain. Sebagian tanaman telah diinokulasi dengan bioserum sehingga akan menghasilkan gubal dengan cepat.

Sebagian tanaman sebutnya telah dijual dalam bentuk chips. Selain itu ia mulai belajar untuk mengolah minyak gaharu, air destilasi gaharu, tasbeh. Dukungan dari Idi Bantara selaku pendamping petani hutan membuat ia bisa menjual hasil produksi. Penanaman gaharu dengan tumpang sari memungkinkannya tetap bisa memanen jagung, pisang dari lahan miliknya.

Lihat juga...