Lapan Gunakan Sistem ‘Srikandi’ Pantau Kualitas Udara

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Makin berkembangnya isu kualitas udara, mendorong Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menerapkan sistem SRIKANDI, yang merupakan pemantauan berbasis keantariksaan, agar bisa mencakup keseluruhan wilayah Indonesia. Harapannya, pemantauan ini akan membantu proses pembuatan kebijakan yang paling tepat dari setiap lembaga terkait.

Peneliti Madya Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Waluyo Eko Cahyono, menjelaskan pentingnya penelitian kualitas udara adalah sebagai dasar pengambilan kebijakan penanganan kondisi lingkungan.

“Pada sistem SRIKANDI ini, digunakan penggabungan data dari monitoring in situ dan satelit yang selanjutnya dijadikan model untuk memantau polusi udara, GRK (Gas Rumah Kaca) dan ozon,” kata Waluyo, dalam acara daring LAPAN, Rabu (7/10/2020).

Peneliti Madya Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Waluyo Eko Cahyono saat diskusi daring terkait kualitas udara, Rabu (7/10/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Untuk monitoring in situ, alat yang digunakan adalah Light Detecting and Ranger (LIDAR), yang memantau uap air dan aerosol hingga ketinggian 80 km, Air Quality Monitoring System (AQMS) untuk monitoring zat polutan seperti nitrat maupun metana, Mobile Air Quality Monitoring System serta Passive dan Active Sampler yang terpasang di beberapa titik area Jawa Barat.

“Data monitoring in situ ini selanjutnya akan digabungkan dengan data pantauan satelit pemantau komposisi atmosfer,” ucapnya.

Penggunaan satelit sebagai alat pemantauan dan pengumpulan data, lanjutnya, merupakan cara agar pemantauan bisa dilakukan secara penuh pada keseluruhan wilayah Indonesia.

“Pemantauan menggunakan satelit bisa meng-cover wilayah yang luas, tapi karena jaraknya yang jauh memang membutuhkan kalibrasi ulang,” imbuhnya.

Hasil dari citra satelit ini, nantinya akan dibandingkan dengan hasil dari waktu sebelumnya, untuk menciptakan model dan outcome yang bisa digunakan dalam penentuan kebijakan.

“Satelit ini juga bisa dikembangkan untuk kerja sama dengan pihak lainnya dalam melakukan pemantauan bersama terhadap kualitas udara, sehingga pemantauan bisa dilakukan maksimal di seluruh wilayah Indonesia, dan untuk pemantauan per wilayah secara mendunia,” ujar Waluyo.

Peneliti Lingkungan Atmosfer PSTA LAPAN, Nani Cholianawati, ST., menjelaskan, bahwa SRIKANDI merupakan suatu sistem informasi terpadu berbasis keantariksaan yang bisa dimanfaatkan outcome-nya oleh pengguna, seperti oleh LHK.

“SRIKANDI ini terinspirasi oleh aplikasi AirNow milik Amerika Serikat yang menggabungkan Ground Measurements, Air and Space Observation dan Model, sehingga bisa didapatkan pemantauan kualitas udara saat ini dan forecast pada kondisi masa depan berbasis potensi dari data yang ada,” kata Nani, dalam kesempatan yang sama.

Dengan memiliki data pembanding dan pemodelan cuaca iklim, diharapkan setiap pemegang keputusan dapat membuat rencana kebijakan dalam mengantisipasi kondisi yang mungkin terjadi.

“Salah satu contoh pemanfaatannya adalah untuk pemantauan kebakaran hutan, dengan mempertimbangkan pantauan hotspot dan potensi penyebaran zat kimia selama kebakaran dan pascakebakaran,” pungkasnya.

Lihat juga...