Lekun Makanan Tradisional yang Kembali Diminati

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Lekun merupakan makanan tradisional yang dulunya hanya dimasak untuk dipergunakan saat-saat tertentu saja, termasuk saat menghantar belis serta acara-acara adat di beberapa wilayah tengah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penjual kuliner lokal,Maria Yasinta Nenti, saat ditemui di rumahnya di Kompleks Cemara, Gang IV, Belakang Bhaktyarsa, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (24/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Namun kini Lekun mulai dimasak dan dijual agar bisa dikonsumsi masyarakat Kabupaten Sikka lainnya serta dijadikan oleh-oleh bagi warga dari luar daerah yang datang ke wilayah ini.

“Banyak warga di Kota Maumere mulai tertarik membeli dan mengkonsumsi Lekun yang saya jual,” sebut penjual kuliner, Maria Yasinta Nenti, saat ditemui Cendana News di rumahnya di Kompleks Cemara, Gang IV, Belakang Bhaktyarsa, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (24/10/2020).

Nenti sapaannya mengatakan, Lekun dijual untuk ukuran satu ruas bambu sepanjang sekitar 65 sentimeter dengan harga Rp50 ribu sementara bila sudah dipotong dijual seharga Rp20 ribu untuk ukuran panjang 15 sentimeter.

Perempuan asal Desa Pogon, Kecamatan Waigete ini mengaku setelah membuatnya dirinya menjualnya melalui media sosial dan biasanya hanya menjual 10 bambu saja tetapi pemesan terus bertambah.

“Awalnya saya biasa menjual 10 bambu Lekun saja tetapi karena banyak yang membeli sehingga saya membuatnya sebanyak 15 bambu bahkan lebih tergantung banyaknya pesanan,” ungkapnya.

Nenti menyebutkan, untuk membuat Lekun bahan-bahan yang dipergunakan yakni beras ketan hitam, beras putih, kelapa setengah tua, gula merah dan gula pasir serta bambu berukuran sedang dengan panjang antara ruas sekitar 65 sentimeter hingga 70 sentimeter.

Ia menjelaskan, pertama-tama bambu dipotong sesuai jarak ruasnya lalu dibersihkan bagian dalamnya menggunakan daun kelapa sambil dicuci dengan air hingga bagian dalamnya benar-benar bersih dan siap digunakan.

“Beras direndam di dalam air lalu ditumbuk di lesung hingga halus baru diayak. Kelapa juga dipotong kecil-kecil lalu ditumbuk hingga halus. Aduk tepung beras merah, beras putih dan kelapa hingga merata sambil ditambahkan sedikit air,” jelasnya.

Nenti melanjutkan, setelah adonan lembek baru dimasukan ke dalam bambu dan dipadatkan baru setelah itu dibakar dengan nyala api sedang sehingga bagian luar bambu tidak cepat hangus dan matangnya merata.

Sementara itu, Severius Jhonson salah seorang penjual kuliner berbahan lokal mengaku sebelum pandemi Corona dirinya setiap hari Sabtu biasa menjual Lekun di Car Free Night di Kampung Kabor, Kota Maumere.

Menurut Jones, banyak warga Kota Maumere yang membeli Lekun yang dijualnya dimana dalam semalam dirinya bisa menjual hingga 5 bambu Lekun dengan harga jual ukuran kecil Rp20 ribu.

“Banyak warga Kota Maumere termasuk pendatang pun sudah mulai suka memakan Lekun. Penjualan pun lumayan, sebab sudah banyak peminta namun karena Corona maka pasar malam pun ditutup sementara dan saya pun memilih menjualnya ke rumah-rumah,” ungkapnya.

Lihat juga...