Lestarikan Kawasan Hutan dengan Konsep ‘Agroforestry’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG  – Pendekatan partisipatif pemangku kepentingan untuk menjaga hutan dari kerusakan terus dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung menyebut, konsep agroforestry menjadi cara merehabilitasi hutan.

Salah satu kawasan yang jadi percontohan konsep agroforestry berada di Register 38, Gunung Balak. Kawasan seluas ribuan hektare tersebut sebagian telah dijadikan pemukiman, lahan pertanian. Namun dengan adanya kesadaran masyarakat, konsep hutan dan tanaman produktif (agroforestry) kembali dilakukan.

Sebagian kawasan Register 38 Gunung Balak sebut Idi Bantara, merupakan penyangga sumber air. Sejumlah mata air dan sungai bermuara ke danau Way Jepara yang jadi sumber air bersih dan pasokan lahan pertanian.

Perambahan hutan berimbas menurunnya debit air jadi keprihatinan bersama pemerintah dan masyarakat. Sebab fungsi ekologis, ekonomi, sosial hutan tak bisa lepas dari masyarakat.

“Pendekatan dengan masyarakat telah dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam hal ini KLHK dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Gunung Balak, sejumlah desa, untuk membuat model rehabilitasi lahan berkonsep agroforestry meminimalisir konflik,” terang Idi Bantara saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (21/10/2020).

Idi Bantara, bilang masyarakat memiliki potensi partisipatif dalam program agroforestry. Sebab cipta kerja dari pengembangan kawasan hutan tidak merusak fungsi hutan sebagai sumber peresap air.

Pohon yang ditanam menurutnya menyesuaikan kontur dan jenis tanah. Meski sebagian telah berubah menjadi lahan tanaman jagung, pohon produktif lainnya ditanam bersamaan.

Sebagian masyarakat sebutnya, bisa menerima konsep yang dipandang win win solution itu. Sejumlah tanaman potensial untuk agroforestry sebutnya meliputi kelapa, damar, jengkol, petai, aren, berbagai tanaman buah produktif termasuk alpukat. Tanaman produktif memiliki peluang untuk menyerap air dan akan menjadi sumber untuk konservasi danau Way Jepara.

“Kebutuhan bibit tanaman produktif untuk sumber ekonomi masyarakat difasilitasi BPDASHL Way Seputih Way Sekampung,” bebernya.

Pendekatan partisipatif dengan masyarakat dilakukan juga oleh KPH Register 38 Gunung Balak. Pengembangan buah alpukat sebagai pilot project dilakukan dengan penanaman jenis unggul lokal. Melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) mandiri diproyeksi tanaman alpukat mencapai 400 batang per hektare. Sebagai demplot disiapkan seluas 15 hektare untuk selanjutnya dikembangkan.

Atas keyakinan bahwa program agroforestry berdampak positif masyarakat antusias. Masyarakat menyambut positif sebab negara melalui KLHK serius membangun hutan bersama masyarakat. Selain itu tumbuh kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah tetap berpihak pada pandangan masyarakat Gunung Balak.

“Aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemangku kepentingan mendukung untuk melakukan rehabilitasi hutan lindung,” tegasnya.

Sebagian tanaman buah alpukat sebutnya, telah ditanam secara swadaya oleh masyarakat. Hasilnya jenis alpukat lokal telah menjadi sumber penghasilan. Hasil panen dengan harga jual Rp10.000 per kilogram saja telah memberi hasil jutaan rupiah dengan panen satu ton.

Berbagai tanaman jenis jengkol, petai dan tanaman kayu keras sebutnya, telah ditanam sebagian menjadi peresap air untuk rehabilitasi lahan.

Pendekatan persuasif berbasis cipta kerja dan berbasis konservasi sebut Idi Bantara, akan meminimalisir konflik. Meski telah dilakukan perambahan kawasan hutan puluhan tahun silam, namun hilangnya sumber air, menurunnya debit air sungai jadi keprihatinan bersama. Kesadaran masyarakat mulai tumbuh dengan adanya konsep agroforestry.

“Adanya potensi goa vulkanik yang unik berpotensi jadi kawasan objek wisata hutan untuk penelitian,” bebernya.

Idi Bantara menegaskan, kawasan Register 38 Gunung Balak menjadi lokasi studi lapangan dalam meminimalisir konflik. Berkonsep agroforestry masyarakat mendukung rehabilitasi hutan mandiri. Sebagai tempat edukasi wisata kawasan tersebut akan menjadi peluang cipta kerja tanpa merusak hutan.

Suhadi, salah satu warga di Desa Bandar Agung menyebut, langkah pemerintah mencari solusi sangat tepat. Sebab selama ini potensi konflik berpeluang terjadi.

Suhadi (kedua dari kanan) salah satu warga mengembangkan alpukat lokal pada kawasan Register 38 Gunung Balak untuk serapan air pada Danau Way Jepara, Lampung Timur, Rabu (21/10/2020) – Foto: Henk Widi

Konsep agroforestry dengan rehabilitasi kawasan hutan lindung akan menyadarkan masyarakat melakukan pengelolaan secara mandiri. Terlebih bibit tanaman yang disediakan berasal dari BPDASHL yang memiliki mutu berkualitas.

Jenis tanaman buah alpukat dan tanaman lain yang telah produktif dikembangkan dengan dua sistem. Sistem generatif memakai biji selanjutnya dikembangkan untuk mendapatkan indukan baru.

Sementara itu, pengembangan dengan sambung pucuk (grafting) meningkatkan kualitas tanaman alpukat yang memiliki fungsi menjaga kelestarian ekologis dan memiliki nilai ekonomis.

Lihat juga...