Libur Panjang, Wisata Petik Buah Purwosari dan Cepoko Diminati

Editor: Mahadeva

SEMARANG – Libur panjang, wisata petik buah di Agrowisata Purwosari dan Cepoko, Kota Semarang, mengalami peningkatan kunjungan yang tajam. Hal tersebut didukung musim panen buah jambu kristal, yang saat ini tengah berlangsung.

“Alhamdulillah, pada musim libur panjang ini, ada peningkatan jumlah pengunjung ke agrowisata yang dikelola Dinas Pertanian Kota Semarang, yakni di Agrowisata Purwosari Mijen dan Agrowisata Cepoko Gunungpati,” papar Kepala UPTD Kebun Dinas Pertanian Kota Semarang, Juli Kurniawan, saat ditemui di Agrowisata Purwosari Mijen, Sabtu (31/10/2020).

Agrowisata Cepoko Gunungpati, menawarkan wisata petik buah jambu kristal. Saat ini jumlah pengunjung meningkat hingga 50 persen. “Jika pada hari biasa, bukan akhir pekan, di angka 50 sampai 75 orang pengunjung per-hari. Sekarang ini, pada saat libur panjang, jumlahnya meningkat hingga 100 sampai 150 orang per hari,” paparnya.

Hal serupa terjadi di Agrowisata Purwosari Mijen. Jika pada hari biasa bukan akhir pekan, jumlah pengunjung di angka 10 sampai 20 orang per hari, saat ini meningkat hingga 50 sampai 60 pengunjung. “Bahkan pada Kamis (29/10/2020) lalu, jumlah pengunjung mencapai 80 orang, untuk petik buah dan panen sayur. Termasuk hari ini, juga terpantau semakin ramai,” terang Juli.

Petugas menimbang buah jambu kristal usai dipetik pengunjung, di Agrowisata Purwosari Mijen, Sabtu (31/10/2020). Foto Arixc Ardana

Respon masyarakat, disebutnya cukup bagus akan alternatif wisata berupa petik buah dan panen sayur. Hal itu kian menambah optimistis pihaknya untuk mengembangkan agrowisata tersebut. “Harapannya wisata petik buah dan panen sayur juga bisa menjadi andalan dan ciri khas wisata di Kota Semarang. Terlebih kita ada beragam jenis buah dan sayur, sesuai dengan musimnya, sehingga tidak monoton pada satu jenis produk,” lanjutnya.

Juli menyebut, untuk saat ini baru musim jambu kristal. Sementara pada bulan November sampai Desember 2020, biasanya panen buah kelengkeng. Sementara, pada Januari 2021 akan memasuki musim buah durian. Agrowisata Purwosari memiliki luas 5,5 hektare. Dan saat ini ada aneka tanaman buah ditanam seperti markisa, kelengkeng, durian, jambu kristal, jeruk, jambu citra, jambu jamaika hingga sirsak. “Sementara untuk sayur juga bermacam-macam, seperti kangkung, selada merah, selada putih, sawi sendok. Kesemuanya ditanam dengan model hidroponik, di greenhouse yang ada di Agrowisata Purwosari,” terangnya.

Masyarakat yang ingin berwisata bisa langsung datang berkunjung karena tidak dipungut biaya tiket. Mereka yang datang hanya harus membayar buah atau sayur yang dipetik. “Paket petik sendiri jambu kristal Rp20 ribu per-kilogram, sedangkan kalau langsung beli tanpa petik Rp15 ribu per-kilogram. Sementara paket petik sayur Rp10 ribu, untuk dua ikat sayuran yang dipanen,” tambahnya.

Di masa pandemi yang masih berlangsung, pihaknya juga mewajibkan pengunjung untuk melakukan reservasi terlebih dulu. Terlebih jika akan datang dalam rombongan. “Silahkan reservasi terlebih dahulu melalui kontak, yang tertera di media sosial facebook maupun instagram Dinas Pertanian Kota Semarang. Hal ini, untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan pengunjung,” paparnya.

Dalam satu rombongan, maksimal berisi 20 orang. Namun jika lebih, pihaknya akan membagi rombongan tersebut dalam beberapa kebun. “Selain itu, mereka yang berkunjung ke Agrowisata Purwosari juga wajib memakai masker. Mereka juga kita cek suhu badannya, sebelum masuk ke area,” tandas Juli.

Koordinator Petugas Agrowisata Purwosari, Agus Prasetyo menyebut, dalam melakukan petik buah, ada tata cara yang harus dipatuhi oleh pengunjung. “Pertama proses pemetikan harus didampingi oleh petugas. Tujuannya agar dalam proses tersebut, pengunjung tidak memetik buah yang belum matang atau masih muda. Pemetikkan juga menggunakan gunting pemotong, tujuannya agar tanaman tidak rusak dan bisa tumbuh tunas cabang yang baru,” paparnya.

Sementara untuk panen sayur, di Agrowisata Purwosari menggunakan metode hidroponik, sehingga sayuran tidak ditanam langsung ditanah, melainkan di paralon berisi air yang mengalir. “Sehingga untuk panen sayur cukup mudah, sayur yang diinginkan tinggal diambil, tanpa perlu menggali tanah. Bisa langsung dibawa pulang, termasuk pot hidroponiknya, bisa dibawa pulang. Nantinya saat sampai di rumah, dengan masih adanya pot, sayuran ini juga bisa ditaruh didalam wadah yang sudah diberi air, sehingga kesegarannya tetap bisa terjaga,” pungkas Agus.

Lihat juga...