Mahasuci Allah dengan Segala Firman-Nya

OLEH: HASANUDDIN

JUDUL di atas, sering kita temukan dalam tulisan, sebelum seorang penulis atau pun sering kita dengar disampaikan seorang pembicara sebelum menyampaikan qalamullah.

Jika, dan sudah seharusnya pembicara atau penulis atau pendengar dari si pembicara atau pembaca dari suatu tulisan meyakini bahwa ketika mereka mengatakan “Allah berfirman” atau ketika mereka menulis Allah berfirman, maka tulisan atau perkataan selanjutnya, sesungguhnya itu benar-benar Allah yang hadir dan terdengar dari bunyi lisan atas ucapan qalamullah. Atau benar, qalamullah yang tertulis pasca tulisan “Allah berfirman” bahwa huruf-huruf yang membentuk, mengurai qalamullah itu, adalah wujud dari kehadiran-Nya.

Tahkiklah, bahwa sesuatu yang tidak abadi, mustahil menyampaikan sesuatu yang abadi. Hanya Yang Abadilah yang dapat menyampaikan sesuatu yang abadi.

Allah Berfirman, “Laisa kamislihi syaiun, Allah tidak serupa dengan apa pun. Atau tiada yang menyerupai Dia.”

Ketika Dia menyapa makhluk-Nya melalui, melalui qalam-Nya, Dia menggunakan/memanfaatkan makhluk ciptaan-Nya. Maka dengarkanlah bunyi angin, bunyi rintik hujan, bunyi petir yang menyambar, bunyi api yang menyala berkobar-kobar.

Perhatikanlah bagaimana pergerakan awan, suara gesekan pohon, gemericik bunyi pasir yang berbisik, siulan burung, lolongan srigala di malam hari, dan dari lubuk hati yang terdalam. Allah berfirman, “Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya” (QS. al-Isra: 44).

Yang mengucapkan qalamullah, adalah bibir para nabi, lisan Muhammad, namun itu hanya alat bagi-Nya. Allah SWT berfirman, “Tiadalah yang diucapkan (Muhammad) itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. An-Najm: 3-4).

Fitrah diri setiap ciptaan adalah suci, tersucikan oleh Yang Maha Suci. Sebab itu,  “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. al-Rum:30).

Rumi berkata: “Kita hanyalah seruling baginya”. Jadilah seruling, yang mengeluarkan bunyi, dengan nada dan irama sebagaimana yang dikehendaki Sang Peniup Seruling. Bunyi seruling itu merdu, karena ‘pada bunyinya’ tiada nafsu yang menyertainya.

Memandang Manusia

Pandanglah manusia dengan fitrah penciptaannya. Maka kamu akan melihat setiap manusia itu sama saja, suci dan tersucikan.

Namun jika engkau memandangnya dengan melihat bentuknya, melihat baik buruk kelakuannya, melihat pekerjaannya, melihat atribut yang dilekatkan kepadanya, kamu akan temukan pada hal-hal yang baharu itu tiada lain hanya terompahnya.

Ketika Musa menghadap Allah di bukit tursina, Allah meminta Musa melepaskan kedua terompahnya.

Apa yang engkau suka kepada manusia, apa yang engkau benci kepada manusia sesungguhnya hanyalah terompahnya. Terompah itu dapat digunakan silih berganti, sesuai situasi dan keadaan seorang manusia. Maka jika kamu memandang manusia dengan memandang terompahnya, kamu akan tertipu olehnya.

Kesehatan itu tiada memiliki bentuk dan rupa. Bagaimana kamu dapat mengenali apa itu sehat jika yang kamu perhatikan adalah bentuk bentuk. Tapi sekalipun kesehatan itu tidak berbentuk, namun kesehatan itulah yang mempengaruhi sebuah bentuk. Maka fenomena tentang sehat, akan terlihat pada bentuk.

Bentuk dengan demikian hanya fenomena. Suatu gejala yang menunjukkan adanya sesuatu dibalik sebuah bentuk. Sebab itu, jangan terperdaya oleh bentuk-bentuk dalam memandang manusia. ***

Depok, 9 Oktober 2020

Lihat juga...