Manfaatkan Tanaman Kayu sebagai Peluang Konservasi Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi lahan luas tak produktif jadi peluang upaya konservasi lingkungan dan investasi bagi pemuda.

Demikian diungkapkan oleh Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, Lampung. Ia menyebut pemuda bisa ikut andil dalam upaya konservasi lingkungan dan investasi jangka panjang.

Idi Bantara, M.Sc, Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung, menanam jengkol sebagai tanaman selingan gaharu pada kawasan Desa Merbau Mataram, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, Rabu (28/10/2020) – Foto: Henk Widi

Tanaman kayu produktif jenis gaharu, sengon, jati putih, jengkol, petai dan pohon buah alpukat maupun kemiri, berpeluang dikembangkan.

Bekerjasama dengan orangtua dan pemilik lahan serta pada kawasan hutan produksi, pola kemitraan bisa dilakukan. Mengajak kaum muda di wilayah Lampung Selatan (Lamsel), pola konservasi dilakukan pada sejumlah wilayah penyangga hutan.

Di wilayah Desa Merbau Mataram, Kecamatan Merbau Mataram, Idi Bantara menggandeng petani hutan pembudidaya madu klanceng. Jenis lebah klanceng (Apis Trigona Sp) bisa berkembang di sejumlah tanaman kayu keras. Pemuda bisa melakukan pemanfaatan kebun untuk penanaman sistem tumpang sari guna menghasilkan berbagai jenis pohon produktif.

“Berbagai jenis tanaman kayu yang ditanam dalam jangka pendek menghasilkan bunga sumber kebutuhan makanan bagi lebah. Sekaligus membantu proses penyerbukan, jenis pohon kayu selanjutnya bisa dipanen saat memasuki usia tertentu,” terang Idi Bantara, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (28/10/2020).

Peluang tanaman kayu keras sebagai tanaman konservasi sangat diperlukan untuk penahan longsor dan peresap air. Wilayah Merbau Mataram banyak memiliki kontur perbukitan tentu akan mengalami longsor jika dilakukan penebangan pohon. Sebagai solusi efektif warga didorong, khususnya pemuda, bisa melakukan penanaman pohon produktif untuk menghasilkan secara ekonomis.

Dorongan bagi pemuda untuk menanam pohon sebutnya, harus didukung orangtua. Salah satu cara berinvestasi jangka menengah, jangka panjang bisa dilakukan dengan memilih jenis tanaman pohon yang bisa diatur waktu panennya. Jenis tanaman sengon dan jati putih sebutnya, merupakan jenis pohon yang bisa dipanen ketika memasuki usia 6 hingga 7 tahun.

“Orangtua bisa mengajak anaknya untuk menanam pohon sebagai cadangan biaya kuliah serta sebagian bisa untuk membangun rumah,” beber Idi Bantara.

Jenis tanaman kayu gaharu, pala dan tanaman kayu, jengkol yang dibudidayakan bisa dipanen bertahap, tanpa menebang pohon. Tanpa menebang pohon masyarakat di sekitar hutan lindung tetap bisa mendapatkan penghasilan secara ekonomis. Jangka waktu yang panjang menjadi peluang untuk pemuda sehingga memiliki tabungan masa depan.

Konsep meminjam tanah atau sistem sewa dan bagi hasil bisa diterapkan. Sebagian lahan kurang produktif bisa ditanami dengan jenis tanaman sengon dan jati putih untuk tumpang sari bersama tanaman pangan. Tanaman jenis singkong, umbi porang, talas dan berbagai jenis tanaman sayuran berpotensi dihasilkan, sebelum kayu dipanen.

Berdasarkan kalkulasi hasil panen pada lahan seluas setengah hektare, bisa dihasilkan ratusan kubik kayu. Sistem penjualan dengan borongan pohon masih bisa menghasilkan uang puluhan juta rupiah.

Saat pemuda melakukan penanaman usia SMP hingga SMA hasil panen bisa digunakan untuk biaya kuliah dan kebutuhan lain. Sejumlah siswa SMK Kehutanan pun diedukasi untuk menanam pohon konservasi bernilai ekonomi.

“Pola pikir pemanfaatan lahan untuk tanaman konservasi dan ekonomi harus ditanamkan sejak dini,” cetusnya.

Ramlan, warga Desa Merbau Mataram menyebut membudidayakan lebah klanceng. Memiliki jenis tanaman jengkol, petai, kemiri dan durian ia bisa menyediakan kebutuhan pakan lanceng. Hasilnya ia bisa memproduksi madu yang potensial dijual seharga Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Dibantu sang anak penjualan madu klanceng memanfaatkan sistem online.

Ia juga mengajak sang anak untuk gemar menanam pohon. Mewariskan tanaman sekaligus mengajak pemuda menanam pohon kayu akan sangat berguna untuk masa depan. Ia menyebut memberi warisan lahan kepada beberapa anaknya. Sebagian memilih memanfaatkan untuk menanam kayu keras sebagai investasi masa depan.

“Mewariskan tanaman kepada anak yang masih muda bisa melalui tanaman bermanfaat jangka pendek dan jangka panjang,” cetusnya.

Samiran, salah satu pemuda di Merbau Mataram menyebut mendapat pendampingan dari Idi Bantara. Penanaman gaharu sudah dilakukan olehnya sejak tujuh tahun silam. Tanaman gaharu sebutnya bisa menghasilkan gubal sebagai bahan minyak wangi, dupa, kosmetik dan obat.

Samiran (kanan) salah satu pemuda di Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan melakukan proses pengeboran batang gaharu untuk pemberian serum, Rabu (28/10/2020) – Foto: Henk Widi

Pembuatan serum untuk mempercepat gubal dengan fusarium menjadikan proses pemanfaatan gaharu bisa dipercepat.

“Inovasi dalam pengelolaan tanaman produktif menjaga pemuda tetap berada di kampung dengan tetap menjaga lingkungan,” cetusnya.

Memanfaatkan lahan milik sang ayah ia menyebut, selain gaharu berbagai tanaman kayu keras bisa ditanam. Sebagai tanaman konservasi menjaga ketersediaan air, gaharu bisa ditumpangsarikan dengan tanaman pohon buah.

Selagi muda ia menyebut, melakukan penanaman sejumlah pohon sebagai tabungan. Sebab hasil panen berbagai jenis tanaman memang bisa digunakan untuk biaya pendidikan dan masa depan.

Lihat juga...