Masa Pandemi, Pedagang Daging di Lamsel Kurangi Stok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG –  Karlan, pedagang daging sapi dan kambing di Lampung Selatan (Lamsel) menyebut,  sejak enam bulan silam permintaan daging anjlok.

Surutnya sektor usaha kuliner di wilayah Jalan Lintas Timur Sumatera dipengaruhi sejumlah faktor yang menjadi pemicu penurunan kebutuhan daging. Operasional Jalan Tol Trans Sumatera berimbas kendaraan ekspedisi, travel, bus memilih jalan bebas hambatan. Berimbas warung makan dan restoran gulung tikar.

Belum selesai terpaan badai penyebab suramnya usaha kuliner, Karlan mengaku, muncul pandemi Covid-19. Dampaknya sejumlah usaha kuliner tutup imbas aktivitas makan di tempat (dine in) terbatas. Larangan mengadakan acara hajatan pernikahan, khitanan yang menimbulkan keramaian jadi pemicu terbesar anjloknya permintaan daging.

Hajatan pernikahan atau musim kawin sebut Karlan, jadi pendongkrak permintaan sebelum pandemi. Sehari ia bahkan bisa memotong dua ekor sapi rata-rata seberat 2 kuintal. Daging dipesan oleh pemilik hajatan, warung makan dan pembuat bakso.

Sejumlah warung penyedia rendang, rawon, soto berlangganan padanya. Meski tetap dibeli namun stok sengaja dikurangi olehnya.

“Saya membeli sapi hidup yang dipotong pada rumah potong hewan di Sidomulyo. Sehari dua ekor. Kini hanya satu ekor itu pun habis selama sehari dari biasanya setengah hari, sudah ludes terjual untuk kebutuhan warung dan masyarakat umum,” terang Karlan, saat ditemui Cendana News di Ketapang, Sabtu (17/10/2020).

Warga asal Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan itu, menyebut, permintaan daging sapi mulai stabil sejak pertengahan September. Meski belum ada pencabutan larangan hajatan atau izin secara tertulis untuk keramaian hajatan tidak diterbitkan kepolisian. Imbasnya, hajatan pernikahan digelar lebih sederhana, berdampak pada kebutuhan daging.

Satu kali pesta pernikahan, khitanan dengan hiburan lengkap sebutnya, kerap membutuhkan lebih dari 50 kilogram daging. Saat ada pesanan dalam sehari ia bahkan bisa memotong dua ekor sapi sejak hajatan mulai diperbolehkan. Daging sapi kerap dipergunakan untuk menu hidangan dalam bentuk rendang sebagian kikil dibuat menjadi lauk tambahan.

“Meski permintaan mulai stabil namun saya tidak berani menyiapkan stok dalam jumlah banyak, memenuhi pesanan pemilik hajatan, warung dan pembuat bakso,” tegasnya.

Daging sapi yang telah dipotong pada RPH sebut Karlan, telah mendapat pemeriksaan dari dokter hewan. Kondisi daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) membuat pelanggan tetap setia membeli daging sapi darinya.

Ia memilih menjual daging sapi dengan harga stabil Rp110.000 hingga Rp130.000 sesuai bagian daging yang dijual. Namun stok dikurangi kala pandemi Covid-19 seiring permintaan yang berkurang.

Beruntung pelanggan yang tetap eksis berjualan meliputi pedagang bakso, warung makan. Pedagang bakso kerap memilih bagian daging, jeroan dan tulang. Pelanggan tetap tersebut membuat usahanya berkaitan dengan kuliner tetap berjalan dengan lancar. Ia berharap Covid-19 segera berakhir sehingga pesta bisa digelar lebih meriah.

“Pesta pernikahan yang meriah akan ada tontonan, pedagang soto dan bakso juga pasti butuh bahan baku lebih banyak,” bebernya.

Nur Hasanah, pemilik warung Dua Putri di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, menyebut, ia mengurangi pemakaian daging. Sebelumnya dalam sehari ia menyiapkan sekitar 20 kilogram rendang daging sapi.

Nur Hasanah, pemilik rumah makan Dua Putri di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, mengurangi pembuatan rendang berbahan daging imbas sepinya pembeli selama masa pandemi Covid-19, Sabtu (17/10/2020) – Foto: Henk Widi

Rendang tersebut jadi pilihan bagi warga yang ada di Jalan Lintas Timur. Sejumlah pengemudi truk ekspedisi, pekerja pabrik jagung, kerap jadi konsumen tetap.

“Saat pandemi saya kurangi pembuatan rendang hanya kurang dari 10 kilogram, takut tak habis terjual,” bebernya.

Sebagai alternatif ia menyediakan menu ikan nila dan lele. Daya beli masyarakat yang menurun sebutnya, ikut mempengaruhi usaha kuliner. Satu porsi makanan dijual dengan rendang seharga Rp15.000. Sementara dengan menu lain ia bisa menjual seharga Rp10.000 dalam bentuk nasi bungkus.

Rukmini, pemilik warung makan soto dan rawon daging sapi mengaku, mengurangi stok daging. Sebab pelaku perjalanan yang memakai kapal di pelabuhan Bakauheni juga menurun. Pemilik warung di Jalan Lintas Timur KM 3 Bakauheni itu menyediakan kurang dari 5 kilogram daging untuk rawon dan soto daging. Ia pun masih menyediakan menu kuliner untuk pekerja pelabuhan.

“Menu tradisional rawon membuat saya masih stabil membeli daging namun jumlahnya dikurangi,” cetusnya.

Menjual rawon seporsi Rp15.000 masih cukup diminati konsumen. Berjualan di depan objek wisata Menara Siger yang belum sepenuhnya buka ikut berdampak pada usaha kuliner miliknya.

Ia masih tetap menyediakan menu rawon daging meski jumlah terbatas agar pelanggan tidak kecewa. Menu soto dan rawon daging sebagian dipesan pelanggan untuk dibawa pulang (take away) sebagai kuliner yang bisa disantap bersama anggota keluarga.

Lihat juga...