Masa Pandemi ‘Warung Kucingan’ Tetap Mampu Bertahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Sempat tutup akibat pandemi Covid-19, pedagang ‘warung kucingan’ di Kota Semarang kembali menggeliat. Hal tersebut, tidak terlepas dari aktivitas masyarakat yang juga berangsur normal meski di tengah pembatasan sosial.

Hal tersebut disampaikan Suparman, pedagang ‘warung kucingan’ atau angkringan yang ditemui di sela berjualan, di kawasan Jalan Pandanaran, Semarang, Selasa (27/10/2020).

“Awal-awal pandemi, banyak warung tutup, termasuk warung saya karena banyak kantor yang tutup, sekolah tutup, yang beli tidak ada. Selain itu juga ada pembatasan kegiatan masyarakat (PKM), jam jualan juga dibatasi,” papar Pak Man, begitu dia dipanggil, memulai bercerita.

Untuk meningkatkan penjualan, Pak Man mengaku dalam sehari bisa berpindah ke 2-3 lokasi, dengan gerobak angkringan, Selasa (27/10/2020). Foto: Arixc Ardana

Seiring waktu dengan kebijakan baru soal PKM, sehingga kantor, pabrik, buka kembali, dirinya pun memutuskan untuk berjualan kembali.

Layaknya warung makan pada umumnya, usaha tersebut menawarkan beragam makanan siap santap, namun dalam porsi kecil dan sederhana. Mulai dari nasi gudeg, nasi sambel, lombok ijo, teri, kikil, ayam pedas hingga pindang.

Meski beragam, namun isinya memang sederhana. Nasi gudeg misalnya, hanya berisi nasi sekepal dan dua sendok gudeg, demikian juga dengan nasi ayam pedas, hanya berupa nasi dengan secuil ayam berkuah pedas.

Keberadaan ‘warung kucingan’ tersebut, memang hanya sekedar pengganjal perut kosong. Porsinya pun kecil, meski demikian jika makan 3-4 bungkus nasi tetap saja mengenyangkan.

“Namanya juga kucingan, sego kucing, karena porsinya kecil dan lauknya sederhana,” papar Pak Man.

Sebagai teman makan, ada aneka gorengan mulai dari tempe mendoan, tahu isi, pia-pia, tahu bacem, hingga bakwan. Sementara, untuk minuman, pembeli bisa memilih mulai dari beragam minuman sachetan, hingga es jahe atau jahe panas.

Di satu sisi, dirinya mengakui meski kini sudah ada peningkatan, namun jumlah pembeli masih berkurang, jika dibandingkan sebelum ada Covid-19. Untuk perbandingan, jika hari-hari sebelumnya, dirinya bisa menjual lebih dari 50 nasi bungkus, kini jumlah tersebut dikurangi separuhnya.

“Dulu yang beli banyak anak sekolah, apalagi di sekitar wilayah Pandanaran hingga Tri Lomba Juang, ada tiga SMK. Sekarang tidak ada, karena belajar dari rumah, jadi sekolah sepi,” paparnya.

Harapannya pun hanya bertumpu pada para pekerja di sektor informal, yang kebetulan lewat atau bekerja di sekitar wilayah tersebut. Meskipun di tempatnya berjualan, ada banyak perkantoran dengan pegawai yang tidak sedikit.

“Kalau nyasar yang para pekerja kantoran ya tidak, mana mau mereka beli kucingan. Ya paling pegawai kelas menengah ke bawah yang beli ke sini, namun tetap disyukuri, masih ada yang beli,” tambahnya.

Untuk meningkatkan penjualan, Pak Man mengaku dalam sehari bisa berpindah ke 2-3 lokasi. Jika pagi hari di kawasan Pandanaran, maka menjelang siang hingga petang berada di sekitaran GOR Tri Lomba Juang.

“Siapa tahu mereka yang habis olahraga, ada yang lapar lalu ingin makan di kucingan,” paparnya sembari tertawa.

Sementara, salah satu pembeli, Azhari, mengaku hampir setiap hari, dirinya menyempatkan diri sarapan di warung kucingan tersebut.

“Dibanding di warung biasa, di kucingan lebih murah. Kebetulan juga nasinya macam-macam, jadi bisa memilih sesuai selera,” papar pengemudi ojek online tersebut.

Dirinya mencontohkan untuk dua nasi bungkus, es teh, serta tiga gorengan, dirinya hanya perlu membayar Rp 9 ribu rupiah.

“Murah meriah, enak, kenyang,” tutupnya.

Lihat juga...