Masa PJJ, Anak-anak Isi Ragam Aktivitas Edukatif di Rumah

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih diberlakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Untuk mengisi waktu senggang seusai belajar, orangtua perlu mengedukasi anak-anak dengan beragam kegiatan.

Lisdaryanti, salah satu orangtua yang memiliki anak usia SD mengaku sistem belajar PJJ dilakukan dalam jaringan (daring). Sebagai cara mengisi waktu luang di rumah ia memilih memberi kesibukan anak dengan hal positif.

Tugas sekolah dari guru dan wali kelas sebut Lisdaryanti diberikan melalui aplikasi WhatsApp. Smartphone yang digunakan menurutnya masih mempergunakan kuota internet reguler. Untungnya sistem belajar daring hanya menggunakan smartphone untuk pengiriman materi belajar dan tugas. Penggunaan aplikasi Zoom dan sejenisnya tak dipergunakan.

Usai mengerjakan tugas, anaknya yang bernama Hilarion akan memilih bermain game online. Tren anak-anak bermain PUBG dan Mobile Legends, permainan online berimbas penggunaan kuota yang boros. Namun ia memastikan kegiatan lain bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu luang. Memiliki halaman luas, rumah dekat sawah membuat permainan tradisional jadi pilihan.

“Memperkenalkan anak untuk melakukan budidaya sayuran dengan bahan bekas jadi salah satu cara untuk mengedukasi anak menjaga lingkungan dari sampah, mendapatkan sumber sayuran organik sehat yang bisa dikonsumsi dari hasil kerja keras sendiri,” terang Lisdaryanti saat ditemui Cendana News, Kamis (22/10/2020).

Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan itu menyebut selain sayuran berbagai jenis bunga ditanam. Edukasi kegiatan bertani sebutnya dilakukan dengan proses penyiapan media tanam, penyiapan bibit, pupuk dan pemeliharaan. Kegiatan edukatif sebutnya jadi hal menyenangkan dan menumbuhkan rasa ingin tahu anak.

Mempergunakan botol air mineral bekas untuk menanam sayuran Lisdaryanti menerapkan sistem sumbu. Pola tanam yang dikenal dengan wick system diajarkan pada sang anak mulai dari memotong botol,menyiapkan air hingga menanam. Meski jadi kegiatan sederhana anak diberi tugas melakukan perawatan hingga panen usia satu bulan.

“Rasa tanggung jawab dengan merawat hingga panen akan megajari anak untuk lebih menghargai alam,petani dalam menghasilkan bahan pangan,”sebutnya.

Akrab dengan dunia pertanian menjadikan anak diedukasi untuk kreatif. Sebab sistem penanaman memakai bahan bekas menjadi cara untuk mengajarkan anak memanfaatkan pekarangan. Berbagai kegiatan di rumah yang dilakukan menanam bunga,menanam sayuran jadi salah satu tugas sekolah. Sebab aktivitas tersebut akan memberi semangat pada anak anak untuk melakukan hal positif.

“Hasil tanaman sayuran bagi anak-anak akan difoto lalu dikirimkan ke guru sebagai bagian tugas sekolah,” bebernya.

Peran orangtua mengarahkan anak-anak dengan kegiatan positif jadi kesadaran bagi Lisdaryanti. Memiliki halaman luas dengan tanaman mangga, jambu, arbei, cengkeh menjadi tempat nyaman untuk bermain. Pembuatan ayunan dari jaring menjadi alat bermain yang digunakan anak untuk bersosialisasi dengan rekan sebaya.

Hilarion, sang anak menyebut merawat tanaman semula diajarkan sang ibu. Namun ia mulai bisa melakukan aktivitas penanaman, perawatan hingga panen sayuran. Jenis tanaman sayuran yang dipilih menurutnya berupa sawi, kangkung, selada, bayam. Semua tanaman itu dipelihara memakai botol dan gelas plastik bekas air minum.

“Sudah panen lebih dari tiga kali selama masa belajar di rumah,rasanya lebih enak saat makan mi rebus dengan campuran sawi yang ditanam sendiri,” cetusnya.

Pemilihan waktu luang berbasis lingkungan pantai juga dilakukan anak-anak di Pantai Pedada. Rusli, salah satu orangtua menyebut area yang luas berpasir,pohon rindang menjadi lokasi tempat bermain nyaman bagi anak. Sejumlah anak sebutnya sangat menyukai lokasi di halaman rumahnya untuk pengisi waktu luang.

“Isi kebosanan selama kegiatan pembelajaran jarak jauh berimbas pada kebosanan bagi anak, permainan tradisional bisa jadi pilihan,” bebernya.

Permainan tradisional yang kerap dimainkan anak anak meliputi ingkling, dakon, sekongan. Permainan tradisional mengalihkan kecenderungan anak bermain game online usai belajar. Interaksi sosial, keingintahuan dan rasa solidaritas terus tumbuh bagi anak-anak pesisir. Anak-anak juga diedukasi untuk menjaga lingkungan pantai dari sampah dengan rutin melakukan pembersihan.

Anak-anak yang sebagian memiliki orangtua berprofesi sebagai nelayan kerap diedukasi untuk membantu orangtua. Kegiatan membersihkan perahu dari air, memperbaiki jaring dan pancing dikerjakan sebagai bagian aktivitas bermain. Membantu mengumpulkan ikan hasil tangkapan sekaligus mengajarkan nilai gotong royong.

“Penyiapan buku bacaan bagi anak bekerja sama dengan rumah baca Sumur Induk jadi langkah anak mencintai membaca buku,” bebernya.

Aktivitas fisik di luar ruangan sebut Rusli sangat positif bagi anak. Sebab pada masa pertumbuhan anak-anak dianjurkan rutin terus bergerak. Berbagai kegiatan permainan edukatif yang sekaligus aktivitas olahraga seperti lompat tali, sekongan, gasing jadi favorit anak anak. Orangtua juga merasa aman karena anak anak bermain pada lokasi yang aman dan tetap terpantau orangtua.

Lihat juga...