Melepas Penat di Tahura Wan Abdul Rachman

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Hanya suara tenggeret musim kemarau dan kicau burung yang menyambut pengunjung, saat masuk kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman. Kawasan yang dikelola oleh Unit Pelaksana Tekhnis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) tersebut, berada di wilayah Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran, dan biasa menjadi obyek wisata petualangan atau adventure.

Eni Puspasari, Kepala Tahura Wan Abdul Rachman menyebut, keindahan alam, suasana alami menjadikan tahuran Wan Abdul Rachman menjadi destinasi wisata minat khusus. Pecinta alam, penghobi offroad, hiking dan trail, di Lampung biasa masuk kawasan tersebut, untuk menyalurkan kesenangannya. Wisatawan yang berkunjung wajib meminta izin, melapor ke pihak Tahura. Wisatawan yang akan mengeksplore kawasan wisata alam, harus tetap didampingi oleh polisi hutan.

Lokasi Tahura Wan Abudul Rachman, mudah diakses dari arah Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Teluk Betung. Untuk mendatanginya harus melakukan perjalanan kurang lebih lima kilometer. “Sebaiknya wisatawan atau pengunjung datang secara berkelompok untuk hiking, offroad, trail. Sehingga lebih mudah dalam pengawasan dan tentunya melaporkan tujuan kegiatan karena sejatinya kawasan Tahura merupakan wilayah konservasi alam sekaligus kawasan perhutanan sosial,” terang Eni Puspasari, kepada Cendana News, Minggu (25/10/2020).

Bagi penghobi fotografi alam, pengamatan burung (bird watching), peneliti dan minat khusus, bisa didampingi oleh petugas patroli hutan, untuk melihat langsung potensi yang ada. Wilayah Tahura yang masuk dalam Register 19 dan memiliki luas 22.244 hektare tersebut, setidaknya memiliki sejumlah titik objek wisata alam.

Titik yang kerap diminati berada di lokasi mengadap ke Teluk Lampung. Berada di punggung Gunung Betung, menghadap sisi barat. Pemandangan pada ketinggian 1300 Mdpl menjadi lokasi favorit pengunjung, untuk menikmati suasana kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung dari ketinggian. “Suasana yang sunyi, udara sejuk jadi pilihan wisatawan minat khusus untuk mengunjungi Tahura Wan Abdul Rachman,” bebernya.

Aktivitas pengunjung Tahura Wan Abdul Rachman melakukan offroad, Minggu (25/10/2020) – Foto Henk Widi

Sebagai laboratorium alam, Tahura Wan Abdul Rachman dilengkapi akses jalan memadai. Akses jalan berbatu dengan sebagian berupa tanah selebar lebih kurang 12 meter, menjadi trek menarik bagi pengunjung.  Bagi pecinta alam, sajian air terjun di wilayah tersebut bisa dinikmati diantaranya air terjun batu lapis, air terjun pelangi, air terjun kupu jambu dan sejumlah air terjun lainnnya.

Penghobi pengamatan burung, bisa melakukan penelitian berbagai jenis burung di wilayah Tahura. Sebagai kawasan konservasi. lokasi tersebut kerap dipergunakan untuk melakukan pelepasliaran satwa jenis burung. Burung kicau dilindungi dan tidak dilindungi hasil pengamanan karantina pertanian dan kepolisian kerap dilepasliarkan untuk menjaga populasi. “Burung liar endemik Sumatera yang dilepasliarkan di Tahura Wan Abdul Rachman bisa memperkaya keanekaragaman hayati dan keindahan,” cetusnya.

Berada di alam bebas dengan mendengarkan kicauan burung bisa menjadi kesempatan untuk melepas penat di akhir pekan. Duansah, salah satu pengunjung menyebut, jalur di kawasan Tahura cukup menantang. Ia dan rekan-rekannya, menjajal jalur wisata offroad, dengan mobil jeep kesayangan. “Perpaduan jalan berbatu, tanah dan rigid beton, memacu adrenalin terlebih saat kendaraan terperosok dalam parit,” cetusnya.

Pengunjung lain, Buyung Hadiyanto menambahkan, ia memilih wisata minat khusus ke Tahura, kawasan yang tidak tersentuh sinyal telepon seluler, agar bisa menikmati udara sejuk dan bersih. Meski untuk menikmatinya, ia harus menempuh perjalanan lebih dari delapan kilometer. Dan lelahnya perjalanan langsung dibayar lunas dengan suasana nyaman yang diinginkan. “Wisata minat khusus akan sangat tepat dilakukan selama beberapa hari sehingga bisa menikmati suasana pagi hingga malam,” cetusnya.

Saat pagi hari perbukitan di Tahura Wan Abdul Rachman diselimuti kabut. Hal itu membuat pemandangan kota Bandar Lampung tertutup. Namun menjelang siang suasana akan lebih cerah, sehingga hobi fotografi alam bisa tersalurkan. Saat senja, pemandangan menghadap barat bisa dimanfaatkan untuk melihat matahari terbenam (sunset) dan kala malam bisa digunakan untuk melakukan pengamatan bintang.

Lihat juga...