Melihat Kampung Adat Tutubhada Nagekeo yang Masih Natural

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MBAY — Berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Mbay ibukota Kabupaten Nagekeo, kampung adat Tutubhada yang berada di Desa Rendu Tutubhada, kecamatan Aesesa Selatan hanya memiliki panjang sekitar 200 meter dan lebar kurang lebih 25 meter.

Kepala Suku atau Raja Eko Tana, Kampung Adat Tutubhada, Aloysius Lepa saat ditemui di Desa Rendu Tutubhada, Kabupaten Nagekeo, NTT, Minggu (25/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Di kampung adat ini masih terdapat benda cagar budaya yakni 3 meriam kuno berbahan baja, tombak berbahan kayu dan logam serta senapan yang juga berbahan kayu dan logam

“Ada pula Kamukeo atau alat berbentuk tongkat dengan sebuah mahkota di atasnya,” sebut kepala suku atau Raja Eko Tana, Kampung Adat Tutubhada, Aloysius Lepa saat ditemui Cendana News di rumahnya di Desa Rendu Tutubhada, Kabupaten Nagekeo, NTT, Minggu (25/10/2020).

Aloysius mengatakan, Kemukeo ini difungsikan sebagai sarana untuk mendatangkan atau menghalau hujan dengan menggelar ritual dan memohon perlindungan kepada para leluhur.

Ia katakan, ada 12 rumah adat besar sementara 3 rumah berukuran kecil atau pendamping dimana rumah besar atau rumah adat utama dinamakan Sa’o Ji Vao.

Diterangkannya, Ji artinya kekuatan, sementara Vao berarti naungan.Ji Vao artinya rumah tempat bernaung yang memberikan kekuatan dan kedamaian.

“Sa’o Ji Vao berada di sisi timur di tengah tanah lapang dan jadi tempat tinggal raja Eko Tana dan keluarga. Sa’o Ji Vao pertama kali didirikan pada tahun 1983,” jelasnya.

Aloysius menjelaskan, pembangunan Sa’o Ji Vao melewati 17 tahap ritual adat yang dimulai dengan mencari kayu di hutan hingga pembangunan dan berakhir dengan upacara Para Bhada (potong kerbau).

Tiang rumah, sebut dia, menggunakan pohon Nara, sementara balok dari pohon Koli serta beratapkan alang-alang. Semuanya harus dari bahan alami termasuk tali pengikatnya menggunakan ijuk.

“Kami tidak memotong kayu sembarangan dan dalam jumlah banyak tapi sesuai kebutuhan membangun rumah adat saja. Kami harus buat adat dulu untuk meminta restu leluhur agar kayu yang dipotong bagus dan bisa dipergunakan,” tuturnya.

Aloysius sebutkan, bagian dalam rumah terasa dingin meski panas terik karena beratap ilalang dan lantai rumah panggung berbahan bambu ikut menambah kesejukan.

Dirinya mengatakan, bagian bawah rumah adat merupakan ruangan di bawah lantai dengan 9 tiang penyangga lantai setinggi 1,5 meter serta bagian tengah, dapat dibagi menjadi tiga ruangan yakni serambi, yang terdapat di bagian depan dengan lebar 80 sentimeter.

“Ruangan tengah, dengan lebar 3,1 meter yang difungsikan sebagai ruang tidur dan ruang pertemuan. Sementara ruangan dalam berukuran 4 meter terdapat dapur dan juga difungsikan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka,” terangnya.

Untuk memasuki rumah, kata Aloysius, terdapat sebuah pintu kayu di bagian depan sementara bagian atas atau atap bangunan berbahan ilalang dengan jari-jari dari ranting kayu.

“Paling cepat 10 tahun sekali baru atap rumah rusak dan diganti yang baru. Kadang atap rumah kami cari hingga ke daerah lainnya di Nagekeo, kalau di wilayah kami tidak ditemukan,” jelasnya.

Pater Dr. Philipus Tule, SVD dalam bukunya Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial mengatakan, beberapa antopolog dalam artian metaforis, juga memahami rumah sebagai buku.

Menurut Pater Philipus, mereka beragumentasi bahwa bersama dengan berbagai bangunan lainnya yang berhubungan dengan rumah (seperti lumbung, kuburan, perahu dll) rumah selalu menggambarkan dan menampilkan informasi tentang pandangan hidup, kodrat dan tata sosial masyarakat melalui tata letak, struktur dan hiasannya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Nagekeo Ndoma Andreas Corsini mengatakan, kampung adat Tutubhada sudah masuk dalam destinasi unggulan kabupaten Nagekeo dan setiap hari selalu saja ada wisatawan asing yang datang berkunjung.

Kampung adat Tutubhada kata Ndoma, merupakan situs budaya, kampung tua di kabupaten Nagekeo selain peninggalan-peninggalan benda cagar budaya seperti tinju adat (Etu), potong kerbau (Para Bhada), sunat (Tau Nuwa), ritual tanam hingga panen dan lainnya.

“Lokasi kampung adat ini hanya berjarak sekitar 30 meter dari jalan raya utama Mbay-Boawae. Areal perkampungan membentuk persegi panjang membujur dari timur ke barat,” terangnya.

Lihat juga...