Melirik Potensi Perkebunan Jeruk di Sumbar Menjadi Agro Wisata

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PESISIR SELATAN — Perkebunan jeruk yang ada di Nagari/Desa Setara Nanggalo, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, akhir-akhir ini menjadi sorotan karena produksinya yang bagus.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nuzirwan/Foto: dokumen Nuzirwan

Sasmita, petani Jeruk di Desa Setara Nanggalo mengatakan, di desanya itu memiliki banyak perkebunan jeruk. Keberadaan perkebunan itu turut membantu perekonomian masyarakat desa.

“Alasan kenapa di sini banyak perkebunan jeruk, karena untuk melakukannya tidak sulit. Hanya memanfaatkan lahan tidur dan lahan pekarangan rumah, sudah bisa untuk berkebun,” ujarnya kepada Cendana News, Senin (5/10/2020).

Menurutnya dengan kondisi rumah di pedesaan itu yang memiliki lahan yang luas di bagian pekarangan rumah, maka sangat cocok untuk berkebun.

Tapi bicara soal perkebunan jeruk, di desanya itu tidaklah seluruhnya memanfaatkan lahan pekarangan rumah saja, tetapi juga ada mengelolah dengan hamparan yang cukup luas.

“Bila dikelola dengan baik tentu akan membuahkan hasil yang baik. Tapi untuk mencapai masa panen memang cukup lama, sekitar 2,5 tahun,” kata dia.

Sementara itu Wali Nagari atau Kepala Desa Setara Nanggalo Suhemi menjelaskan lahan pertanian jeruk yang ada di desanya itu berada di Kampung Sungai Tawar sekitar 187 hektare dan diolah sekitar 100 kepala keluarga.

Dikatakannya, usaha tersebut telah dilakoni warga semenjak 7 tahun belakangan ini. Hasil yang diperoleh masyarakat cukup besar, apalagi harga dipasarkan yaitu mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogramnya.

Produksi dari perkebunan jeruk di desa ini terbilang cukup bagus. Dimana dari satu hektare lahan milik masyarakat setiap minggunya bisa panen jeruk hingga 1/2 ton.

“Sebelumnya lahan milik masyarakat ini diolah dan ditumbuhi tanaman sawit, namun harga sawit cenderung turun maka masyarakat beralih menanam jeruk,” sebutnya.

Alhasilnya peralihan pengelolaan lahan dari kelapa sawit menjadi perkebunan jeruk ternyata membuahkan hasil. Nyatanya telah mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di perkampungan tersebut.

Dengan adanya potensi yang demikian, Suhemi mengaku bahwa berpotensi besar untuk dikembangkannya sebagai kawasan agrowisata, pariwisata berbasis pertanian yang memberikan angin segar bagi para petani dan masyarakat umum.

“Jadi dengan adanya agrowisata maka akan dapat memperluas sektor pertanian yang selama ini mereka geluti, menjadi objek pariwisata bagi para wisatawan minat khusus,” sebutnya.

Apalagi Desa Setara Nanggalo merupakan salah satu nagari yang termasuk dalam kawasan Mandeh, upaya untuk menjadi kawasan ini sebagai kawasan agro sangat cocok.

Menurutnya berbagai sarana dan prasarana akan dibangun di kawasan ini nantinya. Serta beberapa lahan masyarakat akan dijadikan sebagai lahan percontohan dan nantinya wisatawan bisa melakukan petik buah jeruk dan mengenal beberapa cara terkait budidaya jeruk.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nuzirwan mengungkapkan bahwa prospek tanaman jeruk sangat besar.

“Kebanyakan petani jeruk mengalihfungsikan lahan tidur mereka untuk tanaman jeruk,” katanya lagi.

Dikatakannya dari data yang ada, telah terjadi penambahan luas lahan kebun jeruk yakni 720 hektare. Bertambahnya luas lahan itu karena proses pembibitan, penanaman, pengolahan hingga panen yang tidak sulit.

Diakuinya bahwa bentuk pembinaan yang dilakukan dinas sejauh ini baru pembinaan peningkat mutu. Namun kedepannya pembinaan berkelanjutan kepada petani akan dilakukan agar terjadinya peningkatan produksi.

Lihat juga...